Special

27 Dec

I want to be special. I want to feel like I am special. If you think I am, why don’t you treat me like it?  Why don’t I feel like I am? Maybe I’m ungrateful. But I just miss those moments. Those good times. Now it’s all plain and boring. What happened? Have we lost the sparks? I sent a two-paraghraph email, pouring my heart out, about why I acted this way. But all I got as a reply is just three sentences. That’s it. Do you care? Do you still care? Or maybe things are as equally boring to you as they are to me? We talk but we barely know how we feel about each other. I know you. You don’t believe in words. You think “action is enough”. But when all you got to do as an action is a phonecall, don’t you think it also needs to involve a little bit of talking in it? Do you think once you call then problem solved? You think a phonecall is enough to show how you feel without really think about what things you’re gonna say? You hate protests, but you give me some. You call life’s unfair, but, hey, it has been a little bit unfair to me too, you know. Wait. You don’t? You seriously don’t know it has been unfair to me, too? Then, maybe you should really find it on your own. Because that’s what you always tell me, isn’t that? Everytime I got confused and have no clue about what I have to do, you always tell me to figure it out, on my own.

I even feel you kinda hate me. I don’t know why. Do you hate me? I think you do. You said it once, you hate me. Maybe you still do. It’s been a while since the last time I cried. I don’t want to cry anymore but sometimes I just can’t help it. I got to the point where I don’t know what to do anymore that what’s left for me to do is crying. Sometimes I can stop myself from crying, but it feels like I’m dying inside. I really can’t help it. I can’t. I’m scared. I don’t wanna talk about it to your face, I’m too scared.

Now maybe you call me Drama Queen. For being overreacting and overwhelming about everything. But I am a humanbeing. That’s what I do. That’s what we do.

And God help me. I want to feel special again. :(

Tags: , ,

Anak Kos

30 Jul

Beberapa tahun yang lalu, waktu aku masih jadi bocah yang duduk di bangku Sekolah Dasar, aku ga pernah benar-benar paham apa yang dimaksud dengan anak kos. Suatu kali, waktu aku sedang bermain di rumah seorang teman, aku melihat foto kakaknya berada di sebuah kamar, dengan nasi bungkus di tangannya, tersenyum ke arah kamera. Barang-barang di sekelilingnya khas anak kos: kipas angin, buku dan diktat bertumpuk, dan sprei buluk. Yang ada dalam pikiranku pada saat itu adalah: “oh mungkin si kakak habis dari acara apa gitu, makanya makan nasi bungkus,” karena, dengan pikiran anak SD yang sederhana pada saat itu, nasi bungkus itu identik dengan acara-acara tertentu. Paling tidak seperti itulah kebiasaan di rumahku, kalau Ayah atau Ibu ada acara di kantor, maka jatah nasi bungkus mereka akan dibawa pulang dan kami akan makan bareng di rumah. As simple as that.

Dan inilah aku, sekarang, bertahun-tahun setelah melihat foto itu, sama sekali lupa bahwa dulu ada saat-saat di mana aku sama sekali tidak mengerti mengenai konsep hidup yang notabene sedang aku jalani sekarang. Hidup dalam sepetak kamar, hampir setiap hari makan nasi bungkusan (aku ga bisa masak, so bite me), dan dikelilingi dengan barang-barang buluk dan bertumpuk yang menjadi saksi bisu kehidupanku selama hampir 5 tahun di Jogja. And… News flash: jadi anak kos itu ga enak. Ga ada yang pernah bilang enak, yakin deh. Yang jelas, ga jauh lebih enak jika dibandingkan dengan tinggal di rumah bersama keluarga. Apalagi menjelang Ramadhan seperti ini, ga ada yang mengalahkan kehangatan rumah dan seisinya, bahkan pada jam 3 dini hari sekalipun.

Tapi seperti yang dikatakan pepatah, alah bisa karena biasa. Ramadhan tahun ini adalah Ramadhan kali kelima aku berada di Jogja, kali kelima aku sebagai anak kos. Bismillah, siap tempur. Tapi tetap semangat untuk mudik menggebu, tidak luntur. :)

Tags: , , ,

Regresar

11 Jul

Regresar, it’s a Spanish word for “come back”. And I think it’s really perfect for the title of this post. I know I haven’t been writing anything in my blog for a very long time. It’s not like I’m super busy and all. I just didn’t feel like writing. I know I was being inconsistent as a blogger. To be honest, writing is one of my passions. But lately, I don’t know what have happened to me. I even have stopped writing my daily journal. Yes, the book with my handwriting in it. Remember? I have stopped writing it.

However, I still read the posts wrote by fellow bloggers, because I have subscribed to several personal websites, and I receive emails from the websites all the time. But I never left any comment anymore. Why? Honestly, I don’t really know why. It’s just, one day, I woke up, and I suddenly just stopped doing it.

And now I’m back. I’m also thinking about write in my journal again. Just like the thought of stop writing in my blog that came like thunder, this thought of reactivating my writing activities also came out of nowhere. So don’t ask me why it happened. It just happened.

You can ask me where I have been, though. As I have mention in one of my last posts, I have finished my school. I am now bachelor in Political Science. I had my graduation ceremony in February, and I am currently working in my university, acting as a staff in the Law Career Development Center in the Faculty of Law. I work with seminars, job vacancies, and some other stuff.

Sooo, I guess that is all for now. I hope to write some more, later, or maybe tomorrow. Let’s pray that I won’t stop again. :)

Tags: , ,

My Very First Award

7 Feb

Sudah bertahun-tahun aku melanglang buana di dunia per-blog-an, kalau ga salah sejak 2008. Tapi baru akhir-akhir ini aku mulai berkenalan dengan sesama blogger yang datang dari berbagai penjuru Indonesia. Dengan latar belakang yang berbeda-beda, cerita yang berbeda-beda dan gaya menulis yang berbeda-beda pula. Lalu beberapa hari yang lalu, aku mendapatkan email yang aku baca di ponsel. Ternyata aku dapat award dari Asop. Award-nya bernama Stylish Blogger Award. Ga berapa lama, aku dapat award yang sama dari Ladeva. Ga berapa lama lagi, aku juga dapat lagi yang sama dari mas Ahmed Fikreatif. Sejujurnya, aku kurang paham kenapa namanya Stylish Blogger Award. Haha, katro. Tapi aku tetap sangat berterimakasih, yeeey award pertamaku. Dan sesuai dengan persyaratan untuk mendapatkan award ini, maka aku akan melaksanakan tugas-tugas yang harus dilaksanakan. Sekalian meng-update blog-ku yang memang sudah cukup lama ga kusentuh. Sooo, here we go!

1. Thank and link to the person who awarded me this award.

I just did, tuh di atas. Plus sudah meninggalkan komen juga di blog masing-masing. Tapi sekali lagi deh ah biar afdol. Terima kasih yaa Asop, Ladeva, dan Mas Ahmed. :)

2. Share 8 things about myself.

Ok, narsis mode: on. :mrgreen: Mungkin agak ga menarik ya, but I’ll share these anyway. Hehe…

  • Aku kuliah di HI karena pengen keliling dunia. Dulu pikiranku, kalau mau keliling-keliling ke berbagai negara di dunia, maka aku harus jadi diplomat. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, dan semakin aku memahami ilmu yang aku pelajari, keinginan untuk menjadi diplomat itu sudah tidak menggebu-gebu lagi.
  • Sekarang aku malah pengen jadi dosen atau guru. Lebih spesifik lagi, yang mengajarkan bahasa Inggris. Ga terlalu nyambung ya sama HI? :)
  • Cita-citaku dalam jangka panjang adalah pengen punya PAUD di rumah. Cita-cita ini datang waktu aku KKN (Kuliah Kerja Nyata), pada saat itu aku sempat mengajar di sebuah TK di desa tempat aku melaksanakan KKN, dan aku menikmati pekerjaan itu. Kemudian, terpikir olehku untuk punya PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) di rumahku sendiri, semacam playgroup atau kelompok bermain, supaya aku bisa tetap kerja tanpa harus meninggalkan rumah. Semoga tercapai ya! Hehe… :P
  • Meg Cabot adalah penulis favoritku. Aku sangat suka tulisan dia, tapi lebih menikmati buku-bukunya yang dalam bahasa Inggris, karena kalau sudah diterjemahkan beda aja rasanya. Aku suka tulisannya karena ringan, lucu, dan cerdas at the same time. Cewek banget lah pokoknya!
  • Aku ga bisa masak. Seriously, I suck at cooking. Dari dulu ibuku selalu mengingatkanku supaya mau belajar, tapi beliau sendiri suka gemes kalo ngeliat aku yang sangat tidak berbakat di dapur. Duuh, semoga sebelum menikah aku sudah bisa masak. >.<
  • Waktu SMA aku punya band akustik yang namanya Heartbreaker. Anggota band-nya adalah aku (vocal dan guitar), Nikki (bass), dan Leon (lead guitar) yang digantikan oleh Reza pada saat kami kelas 3. Kami tampil setiap setahun sekali, di festival akustik antar kelas yang diadakan di sekolahku. Selama 3 tahun kami selalu masuk 3 besar. Tapi yang paling membekas adalah kelas 3, karena pada saat itu kami memperoleh juara 1. Sekarang? Aku udah ga pernah nge-band lagi. :(
  • Aku pernah tinggal di Singapura selama satu semester untuk program pertukaran mahasiswa pada tahun 2009. Itu adalah pengalaman paling nggak terlupakan sejauh ini buatku. Karena selain berkesempatan untuk “numpang” kuliah di salah satu universitas terbaik di Asia Tenggara (National University of Singapore), aku juga terlibat sebagai volunteer untuk anak-anak dan remaja yang intelectually-disabled. Yaitu mereka yang mengalami down syndrome, atau autisme. It was a life time experience.
  • Aku selalu bingung menjawab kalau ada yang tanya gimana caranya bisa berbahasa Inggris dengan baik. Aku selalu jawab, dulu aku kursus. Sejak kelas 5 SD, sampai lulus SMA aku ga pernah berhenti kursus bahasa Inggris. Namun selain itu, mungkin karena aku memang memiliki minat terhadap bahasa tersebut. Aku juga suka nonton acara-acara TV luar negeri, khususnya serial-serial dari Amerika. Dan mungkin pergi ke Singapur juga membantu. Tapi aku ga tau mana yang paling berpengaruh dan paling penting untuk dilakukan. Kursus kali ya? Atau semuanya? Hehe…

Yak itulah 8 fakta random mengenai aku. Agak tidak penting, soalnya aku bingung sih mau nulis apa. :mrgreen:

3. Pay it forward to 8 bloggers that I have recently discovered.

Eh karena kegiatan bersosialisasi-ku di dunia per-blog-an juga terbilang baru, sebenarnya semua blogger yang aku temui ya baru kukenal. Tapi karena cuma boleh 8, maka aku putuskan untuk memberikan award ini kepada orang-orang berikut ini:

4. Contact those blogger and tell them about their awards.

Siaaaap, akan segera aku lakukan!

Huwaaa, senang yaa dapat award. Hehe… Semoga pertemanan di dunia maya ini akan terus berlanjut bahkan sampai ke dunia nyata! :)

Tags: , , , , , , ,

Tak Pernah Setengah Hati

27 Jan

A song by Tompi. Never really noticed this song until this afternoon, we went for karaoke with some friends, and he sang this song. I listened to it again just tonight (Tompi version of course, not his version), and you know what? Tears. I’m just so touched. The song is special now. Complain all you want, but you will, too, play this song in your player repeatedly if someone special sings it to you. Cause that’s what happened to me. A special someone just sang it. For me. And I think I could just die when I tried to understand the lyrics. Simple, but just so, so deep.

We haven’t seen each other for two months, and once we spent some time together, he sang this to me. There. I don’t think I need to say anything anymore. Except, you have to check out the video, because it’s just so sweet. :)

The lyrics:

Tak pernah setengah hati
Ku mencintaimu ku memiliki dirimu
Setulus-tulusnya jiwa
Ku serahkan semua hanya untukmu

Tak pernah aku niati untuk melukaimu
Atau meninggalkan dirimu
Sesal ku selalu bila tak sengaja
Aku buat kau menangis

Memiliki mencintai dirimu kasihku
Tak akan pernah membuat diriku menyesal
Sungguh matiku
Hidupku ‘kan selalu membutuhkan kamu

Memiliki mencintai dirimu kasihku
Tak akan pernah membuat diriku menyesal
Sungguh matiku
Hidupku ‘kan selalu membutuhkanmu

Tags: , , , , ,

Kuliah, Skripsi, Wisuda: A Very Long Story of My Journey

23 Jan

Aku pengen cerita panjang nih. Aduh mungkin membosankan, tapi entah kenapa aku ingin cerita panjang lebar disertai dengan omelan-omelannya kalo perlu. Ingin menumpahkan segenap isi hati beserta kesenangan dan kesedihannya. Ya boleh ya?

Oke, jadi semua tahu dong kalo kuliah itu ga gampang? Hm, biar diperjelas lagi, kuliah dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan ilmu yang berguna dan meraih nilai yang bagus itu nggak gampang kan ya? Selama 4 tahun lebih di Jogja, aku menuntut ilmu di sebuah universitas yang (katanya) termasuk yang paling bagus se-Indonesia. Aku bangga. Tambah bangga ketika nilaiku nggak jelek-jelek amat. Yaah lumayan bersainglah. Bahkan sempat dapat beasiswa belajar satu semester ke negara tetangga. Maaf, bukan maksud nyombong, tapi ya Alhamdulillah, aku diberikan keberuntungan itu. Tapi tetap, itu semua nggak mudah. Bikin tugas, ujian, ngedengerin dosen di siang hari menyengat yang sebenarnya enak dipake tidur, banyak godaan dan cobaan yang harus dihadapi. But I survived it.

Kemudian ketika tuntas mendapatkan semua teori selama hampir empat tahun, ada sebuah “benda” yang harus diselesaikan demi mendapatkan gelar keserjanaan S1 itu. SIP kalo di fakultasku. Sarjana Ilmu Politik. Wuuzzz, ngeri ya? Padahal besok-besok kalo kamu ketemu aku di jalan dan ngajakin aku ngebahas soal teori ini-itu dalam politik jangan terlalu berharap aku bisa menjelaskannya dengan komprehensif. Anyway, “benda” yang aku bilang tadi namanya “skripsi”. Kalo dalam bahasa Inggris biasanya disebut “thesis” (kalo di Indonesia, thesis buat S2 aja kan ya? Kalo dalam English itu buat S1 juga).

Bikin skripsi ini buatku bahkan lebih sulit daripada kuliah. Kalo kuliah kita bareng temen-temen, walaupun ujian dan tugas sendiri-sendiri, tapi bisa share dan belajar bareng. Dan tugas dan ujian ada deadline-nya, mau ga mau kita disuruh disiplin. Kalo skripsi kita sendiri, topik kita pasti beda dengan temen-temen kita, ga ada yang maksa kita untuk disiplin. Deadline-nya kita bikin sendiri. Biasanya sih batas deadline-nya itu rasa malu karena jadi angkatan tua, rasa ga enak dengan orangtua, rasa iri dan cemburu dengan teman-teman yang sudah lebih dulu sukses, dan paksaan dari orang-orang sekeliling yang cukup peduli dan pengen liat kita cepet-cepet lulus. Karena itu skripsi itu lebih susah, dan aku sempat tersendat-sendat di awal pengerjaannya.

Awalnya aku menargetkan wisuda bulan November 2010, karena pada saat itu aku sudah mengajukan judul skripsi pada bulan Maret 2010 dan sudah di-ACC dengan dosen pembimbing. Perhitunganku, cukuplah 6-7 bulan buat mengerjakan proposal, seminar, kemudian menuntaskan draft, lalu sidang. Target yang sangat mungkin untuk dicapai sebenarnya. Tapi waktu itu aku belum KKN, dan harus melaksanakannya selama dua bulan, April dan Mei. Pada saat itu skripsiku baru sebatas judul dan satu halaman abstraksi saja. Bulan Juni pun aku habiskan buat istirahat dari kejenuhan KKN. Ketika baru akan mulai membuat proposal aku jatuh sakit sampai harus dirawat selama seminggu. Juni kulewatkan tanpa hasil. Pada awal bulan Juli, ketika sudah pulih dari sakit, aku memulai menulis proposalku, namun rasa malas menyerang sehingga butuh 1 bulan lebih untukku menyelesaikan proposal yang tebalnya hanya 13 halaman saja. Proposal itu akhirnya mendapatkan ACC untuk seminar pada pertengahan Agustus 2010. Aku mendaftar pada bulan itu dan menjalani seminar proposal pada tanggal 28 September 2010.

Selesai seminar, pikiranku lebih cerah, keinginan untuk mengerjakan bab-bab selanjutnya kembali menggebu. Namun pada saat itu aku sudah ragu bisa wisuda November. Karena untuk wisuda November aku paling tidak sudah sidang pendadaran pada Oktober, dan untuk bisa sidang pada bulan Oktober, draft skripsiku harus sudah di-ACC pada bulan September. Sementara September aku baru seminar proposal. Jadi sangat tidak mungkin. Maka target wisudaku pun mundur menjadi Februari 2011. Target yang mundur menyebabkan semangatku mengendor, karena berpikir target yang akan dicapai masih lama, masih 5 bulan, maka aku pun bersantai. Saking santainya, pasca seminar proposal, skripsiku tidak kusentuh begitu lama sehingga bulan Oktober pun terlewatkan begitu saja tanpa ada progres apa-apa. Pada suatu hari di awal November, semangatku muncul lagi, targetku adalah mnyelesaikan draft bulan itu karena aku ingin sidang pendadaran bulan Desember. Aku nggak mau sidang bulan Januari, karena terlalu mepet dengan wisuda, sementara pengurusan dan pendaftaran wisuda terkenal sangat ribet dan begitu banyak tetek bengek. Semangat kemudian datang lagi.

Kalo kamu masih ingat, awal November itu ada letusan merapi yang begitu dahsyat. Tepatnya tanggal 5 November. Saat itu, aku dan adik sudah diwanti-wanti oleh orangtua untuk pulang ke Bengkulu. Mereka khawatir dan baru bisa merasa tenang kalo kami keluar dari Jogja. Beberapa hari pertama di kampung halaman aku masih konsisten dengan tanggung jawabku dalam memenuhi target skripsi. Tapi lama-kelamaan aku mulai goyah. Jalan dengan teman SMA, membantu tanteku mengolah bahan disertasinya, sampai ke abang yang datang berkunjung ke rumah (ga nyalahin abang kooog, ini salahku sendiri. Ga boleh marah yaaa. Hehe… ). Akhirnya skripsiku terlupakan. Kembali ke Jogja, sudah akhir November. Aku pasrah. Aku sempat nangis karena takut nggak bisa memenuhi targetku yang sebenarnya sudah mundur. Wisuda Februari itu plan B, bukan plan A lagi. Masa plan B pun gagal, dan harus beralih ke plan C? Orangtuaku sempat bilang, “kalo nggak bisa Februari ya nggak apa-apa, daripada kamu stress sendiri. Nggak usah dipaksakan.” Begitu kata mereka. Aku ingat waktu itu pernah nelepon Ayah dan nangis sampai sesenggukan cuma karena berselisih jalan dengan dosen pembimbing yang sudah kutunggu-tunggu dan gagal bertemu. Segitu galaunya aku sampe masalah kecil pun bisa bikin aku nangis-nangis.

Karena orangtuaku sudah tidak menaruh pressure lagi, sampai awal Desember pun aku masih agak santai. Aaah, cinta betul sama Ayah dan Ibu. Tapi teman-teman seperjuanganku di kampus yang juga sama-sama ber-skripsi dan menargetkan Februari bilang bahwa aku masih punya kesempatan. Aku akhirnya semangat lagi, dan benar-benar fokus mengerjakan skripsi dengan harapan bisa dapat ACC dan daftar sidang pada bulan Desember, agar bisa sidang pada Januari 2011. Alhamdulillah, dosen pembimbingku sama sekali tidak mempersulit. Cuma dua kali konsultasi, beliau bersedia memberikan ACC. Ga terbayangkan betapa bersyukurnya aku waktu itu. Pada saat itu aku berpikir, andaikan ada halangan yang terjadi sampai aku nggak bisa wisuda pada bulan Februari, paling nggak aku sudah sidang bulan Januari. Itu adalah satu beban besar yang segera akan terlepas dari bahuku. Masalah wisuda, itu cuma sekedar seremoni aja, yang penting itu sidangnya.

Resmi tanggal 29 Desember 2010, aku mendaftar sidang untuk bulan Januari 2011. Seminggu kemudian, jadwal keluar. Giliran sidangku adalah tanggal 10 Januari 2010. Aku langsung deg-degan, nggak nafsu makan, ga bisa tidur… Sekali lagi, Alhamdulillah, begitu banyak dukungan yang aku dapatkan. Baik dari yang dekat maupun yang jauh. Di hari H, meskipun sempat terjadi beberapa kesulitan, seperti misunderstanding informasi, jadwal yang diundur, sampai ke presentasi sidang yang harus aku lakukan dua kali, semuanya berakhir dengan lancar. Perjuanganku mengerjakan skripsiku selama hampir 1 tahun berakhir secara tidak resmi pada hari itu. Memang masih ada revisi sana-sini sih, tapi secara de facto aku sudah jadi SIP. Namaku Karina Utami Dewi, SIP. Horeee!!

Aah, sudah sidang pendadaran, skripsi sudah diuji, lalu apa? Yak, wisuda. Harusnya ini merupakan momen membahagiakan, yang tak terlupakan, dan mungkin salah satu hal penting dalam hidup kita kan ya? Tapi nggak begitu dengan urusan pendaftarannya. Argh, bikin gondok setengah mati. Sejak selesai sidang itu aku sudah berkali-kali bolak-balik bagian akademik fakultas untuk cari tahu syarat-syarat pendaftaran wisuda. Tapi berkali-kali pula dijawab dengan, “blangkonya belum ada, mbak. Mungkin nanti tanggal 20.” Yasudah, aku tunggu. Dan ternyata memang tanggal segitu keluarnya. Blangko apakah itu sodara-sodara? Itu merupakan selembar kertas berisikan daftar hal-hal yang harus dilakukan oleh mahasiswa yang mau mendaftar wisuda. Salah satunya syarat tersebut adalah bebas pustaka/bebas pinjaman dari berbagai tempat. Antara lain perpustakaan jurusan HI, bagian keuangan dan kepegawaian Fisipol, perpustakaan Fisipol, perpustakaan pusat UGM, dan perpusda wilayah Yogyakarta. Yak, PERPUSDA WILAYAH YOGYAKARTA YANG AKU BAHKAN GA TAU LETAKNYA DI MANA. BORO-BORO MAU MINJEM BUKU DI SANA, LETAKNYA AJA AKU GA TAU DI MANA!

Oke, jadilah aku diwajibkan berkeliling ke tempat-tempat itu untuk minta cap dan tanda tangan petugasnya sebagai bukti bahwa aku sudah bebas dari pinjaman apapun. Tapi bukan itu saja yang aku gondok. Kalo sekedar bolak-balik ke berbagai tempat itu, okelah, nggak apa-apa. Sebagian besar memang masih dalam kompleks UGM. Kecuali Perpusda Yogyakarta yang letaknya di daerah dekat-dekat Bumijo sana. Nggak tau Bumijo? Yah, pokoknya lumayan jauh deh dari UGM! Oke, kalo itu mungkin masih bisa ditolerir, karena aku juga ke sana naik motor. Ga jalan kaki atau ngebis. Nah, tapi di tempat-tempat di mana aku harus meminta cap dan tanda tangan itu begitu banyak syaratnya yang harus dipenuhi.

Inilah syarat-syaratnya saudara-saudara: Di perpustakaan jurusan HI meminta satu sumbangan buku, trus minta softfile PDF skripsi yang di-copy ke CD dan disimpan dalam kotak yang bagus (ga mau yang plastik tipis, harus kotak yang bagus macam CD-CD yang dijual di disc tarra), pas foto, dan materai. Di perpustakaan Fisipol cuma minta softfile PDF dalam CD juga. Kotaknya ga harus bagus sih. Tapi PDF-nya harus dikasih bookmark gitu. Ntah apa itu. Dan punyaku ga ada bookmark-nya. Akhirnya dibilang sama mas petugasnya, kalau mau dibikinin bookmark di perpus bisa, tapi ada biayanya, Rp 5000. Dan plus administrasi untuk ngurus bebas pustakanya juga Rp 5000. Jadi aku kena Rp 10.000 di sana. Lalu ke perpustakaan pusat UGM. Di sana cuma isi formulir doang. Urusannya ga lama, paling sekitar 10 menit. Tapi waktu tanda tangan dan capnya sudah, si bapak petugas menyerahkan kertas sambil bilang, “lima belas mbak.” aku pun bertanya, “lima belas apa pak?” terus bapaknya bilang, “lima belas ribu.” Olala, ternyata aku disuruh mbayar toh. Sambil bete-bete gitu aku ngambil dompet dan nanya, “lima belas ribu buat apa sih Pak?” dalam hati menambahkan, masa kertas bukti bebas pustaka selembar gini doang harganya lima belas ribu? Lima ratus perak aja ga nyampe kali. Tapi bapaknya cuma menjawab sambil menunduk dan menghindari pandangan saya, dan bilang “ya buat administrasinya itu.” lalu aku berikanlah Rp 15.000 itu. Sudah berapa kenanya tadi? Rp 25.000 ya? Tapi itu belum termasuk beli CD dan kotaknya, beli buku, nge-burn, nge-print, cetak foto, dan beli materai lho ya. Itu semua ga tau aku berapa jumlahnya. Terlalu menyebalkan buat dihitung.

Lalu aku ke perpusda Yogyakarta. Waktu itu aku bareng sama temanku, Andrew namanya. Si Andrew ini asli Jogja jadi tau di mana letaknya. Di sana juga ga banyak sih syaratnya. Cuma isi formulir, tunjukkan KTM, lalu bayar Rp 1000 untuk biaya administrasinya. Ya paling korban bensin karena letaknya yang agak jauh. Dan yang agak konyol menurutku adalah bahwa kita disuruh tunjukkin bukti bebas pustaka dari sebuah perpustakaan di mana kita ga pernah jadi anggotanya atau pun meminjam buku dari sana. Bahkan tau letaknya aja nggak. Dan kalo pun kita pengen minjem buku di sana setelah kita ga jadi mahasiswa lagi emang ga boleh? Konyol kan? Konyol banget.

Oke, tempat berikutnya adalah bagian keuangan dong. Nah bagian keuangan ini juga ga macem-macem syaratnya. Hanya satu saja, tunjukkan bukti pembayaran pendaftaran wisuda. Tapi tahukah sodara-sodara sekalian, berapa biaya pendaftaran yang dikenakan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik kepada setiap mahasiswa yang mau ikut wisuda? Biayanya adalah Rp 475.000, sodara-sodara! Hampir setengah juta jumlahnya. Rinciannya? Ah macam-macam deh. Sewa toga lah, konsumsi lah, majalah entah apa, kenang-kenangan dari Fisipol (kenang-kenangan namanya tapi kita harus beli sendiri), kartu alumni, dan macam-macam lagi. Too painful for me to go through the detail of the list. Jadi, intinya itu mahal! Mahal sekali!

Lebih menyakitkan lagi ketika tahu bahwa ternyata setiap fakultas itu beda-beda. Ista, temen kosku, mahasiswa D3 Ekonomi UGM dan juga wisuda pada bulan Februari, hanya membayar sekitar tiga ratus ribuan ke fakultasnya. Bulan Agustus lalu, waktu si abang wisuda, aku ingat dia hanya bayar sekitar dua ratus ribuan. Itu memang masih mahal, tapi kan nggak mendekati setengah juta jugaa??? Jadi aku gondok. Gondok dan kesal. Oh, dan bukan itu saja. Jadi begini, setelah membaca apa yang aku tulis, semuanya setuju dong ya itu bukan syarat yang gampang untuk dipenuhi. Maksudnya, butuh banyak waktu karena harus ke sana kemari, belum lagi syarat-syarat yang harus dipenuhi, belum lagi birokrasinya. Plus, setelah membayar hampir setengah juta itu itu masih harus log in lagi ke website UGM untuk daftar wisudanya, lalu harus ngeprint bermacam-macam form, dan harus cetak pas foto hitam putih dan berwarna. Bagi yang belum punya, repotnya nambah berarti. Harus bikin pasfoto dulu. Ribet pokoknya.

Nah blangko yang harus dicap dan di tanda tangani itu kan baru keluar tanggal 20 ya? Dan tanggal 20 itu adalah hari Kamis. Lalu waktu aku tanya mas-mas di front office akademik kapan paling lambat, masa dia bilang tanggal 24?? Iya, tanggal 24 Januari 2011!! Yang itu berarti hari Senin. Sementara Sabtu dan Minggu kan segala macam kantor, perpustakaan, dan kampus libur!! Gemes kan?! Singkat banget waktunya. Lalu aku sampaikan kepada masnya itu, “masa hari Senin sih mas? Hari Selasa boleh lah ya? Singkat banget waktunya ini. Saya udah bolak-balik ke sini dari minggu lalu blangkonya ini ga keluar. Giliran keluar, baru hari Kamis masa Senin sudah harus dipenuhi?”, lalu masnya bilang, “iya nih, ga tau nih akademik,” waktu denger gitu rasanya aku pengen joget-joget sambil koprol dan makan rumput. Ih, kurang banget sih koordinasinya?! Ga ada omong-omongan emang ya? Tiap hari ketemu gitu di ruangan ga cerita gitu ya, “eh pak, itu lho dari kemaren mahasiswa sudah pada nanyain syarat wisuda, mbok cepetan itu blangkonya dikeluarkan.” Kalo pun emang pengen keluarnya lambat, ya deadline-nya juga jangan sesuka hati gitu dong ah. Ga asik banget deh ah!

Dan masih masalah koordinasi dan deadline ya, bener-bener aneh deh. Kan kalo di bagian front office bilangnya paling lambat daftar tanggal 24 Januari 2011. Tapi waktu dapat kertas yang isinya password dan username untuk log in daftar wisuda, katanya paling lambat log in dilakukan pada tanggal 26 Januari 2011. Yang lebih yahud lagi, deadline dari Jurusan HI. Syarat-syarat untuk mengumpulkan buku, pasfoto, materai, dan PDF skripsi itu paling lambat dikumpulkan pada tanggal 28 Januari 2011. Gini yah, kantor jurusan HI sama front office Fakultas itu jaraknya bahkan ga sampe 20 langkah lho. Ngesot juga belum lecet udah keburu sampe. Masa untuk menyesuaikan deadline aja mereka ga bisa sih? Campur aduk perasaanku. Pengen ketawa iya, pengen ngamuk iya, pengen nangis juga iya. Sedih aja, segitu gedenya kita bayar, untuk mendapatkan profesionalitas yang sangat sederhana aja kita ga bisa.

Melihat persyaratan yang segitu ribet dan njelimetnya itu, aku malah tertantang buat menyelesaikan dalam satu hari. Waktu itu hari Kamis, tanggal 20 Februari 2011, pukul 10 pagi, adalah waktu di mana aku mendapatkan blangko itu. Di hari yang sama, pukul 2 siang, aku sudah berhasil menyelesaikan semuanya. Yep, mendapatkan cap dan tanda tangan dari 5 tempat, termasuk perpusda yang letaknya di ujung dunia (lebay). Antri di bank untuk bayar wisuda. Ke bagian akademik untuk minta username dan password. Lalu log in lewat komputer di kos, ngisi form. Ngeprint form. Lalu cetak foto. Beli materai. Lalu kembali ke kampus untuk mengumpulkan semuanya. Masih sempat-sempatnya menempelkan fotoku di berbagai form yang jumlahnya entah seberapa banyak itu. Ya, semuanya aku selesaikan dalam waktu yang sesingkat itu saja. Kenapa? Karena aku males khawatir lama-lama. Ga tenang kalo urusan itu belum selesai. Aku juga males gondok lama-lama. Jadi deadline yang pendek itu malah jadi tantangan buatku. Buktinya, Alhamdulillah aku bisa menyelesaikan semuanya dalam waktu sekitar 4 jam saja. Dan aku ga lupa makan siang lho itu. Hehehe…

Dan memang terbukti, setelah itu semua selesai, kekesalanku mereda. Dan sesungguhnya aku merasa tenang dan senang juga. Kebetulan hari itu nilai skripsiku juga keluar. A- nilainya. Ya memang bukan A yang sempurna, tapi tetap A. Padahal waktu itu aku sudah yakin bakal dapet B. Tapi Allah itu memang Maha Baik. Aku pun tinggal menyongsong wisuda yang insya Allah sebulan lagi, dan lulus dengan nilai skripsi yang menyenangkan dan IPK yang sama sekali tidak mengecewakan. Semoga ke depannya juga bisa mendapatkan pekerjaan dan kehidupan yang lebih baik. Asal mau berdoa dan berusaha, tidak ada yang tidak mungkin kan?

 

Hasil akhirnya, hanya 77 halaman saja, termasuk halaman judul, daftar isi, dll. Tapi lumayanlah buat anak HI yang minimal skripsinya 40 halaman saja.

Aduh, maaf ya tulisan ini panjangnya nggak ketulungan, dan aku pake ngomel-ngomel pula. Tapi sungguh aku nggak nyangka, perjalananku selama 4 tahun lebih di UGM ternyata bisa kutuliskan dalam satu postingan ini saja. Sesungguhnya ada 5 buah buku diary yang mencatat kehidupanku sehari-hari, tapi biar itu jadi konsumsiku sendiri saja. Nggak kerasa sebentar lagi aku sudah bukan mahasiswa S1 HI UGM lagi. Huwaaa… Excited to see what will happen in the future!! \(^o^)/

Tags: , , , , , , ,

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.