Archive | January 2011

Tak Pernah Setengah Hati

A song by Tompi. Never really noticed this song until this afternoon, we went for karaoke with some friends, and he sang this song. I listened to it again just tonight (Tompi version of course, not his version), and you know what? Tears. I’m just so touched. The song is special now. Complain all you want, but you will, too, play this song in your player repeatedly if someone special sings it to you. Cause that’s what happened to me. A special someone just sang it. For me. And I think I could just die when I tried to understand the lyrics. Simple, but just so, so deep.

We haven’t seen each other for two months, and once we spent some time together, he sang this to me. There. I don’t think I need to say anything anymore. Except, you have to check out the video, because it’s just so sweet. :)

The lyrics:

Tak pernah setengah hati
Ku mencintaimu ku memiliki dirimu
Setulus-tulusnya jiwa
Ku serahkan semua hanya untukmu

Tak pernah aku niati untuk melukaimu
Atau meninggalkan dirimu
Sesal ku selalu bila tak sengaja
Aku buat kau menangis

Memiliki mencintai dirimu kasihku
Tak akan pernah membuat diriku menyesal
Sungguh matiku
Hidupku ‘kan selalu membutuhkan kamu

Memiliki mencintai dirimu kasihku
Tak akan pernah membuat diriku menyesal
Sungguh matiku
Hidupku ‘kan selalu membutuhkanmu

Kuliah, Skripsi, Wisuda: A Very Long Story of My Journey

Aku pengen cerita panjang nih. Aduh mungkin membosankan, tapi entah kenapa aku ingin cerita panjang lebar disertai dengan omelan-omelannya kalo perlu. Ingin menumpahkan segenap isi hati beserta kesenangan dan kesedihannya. Ya boleh ya?

Oke, jadi semua tahu dong kalo kuliah itu ga gampang? Hm, biar diperjelas lagi, kuliah dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan ilmu yang berguna dan meraih nilai yang bagus itu nggak gampang kan ya? Selama 4 tahun lebih di Jogja, aku menuntut ilmu di sebuah universitas yang (katanya) termasuk yang paling bagus se-Indonesia. Aku bangga. Tambah bangga ketika nilaiku nggak jelek-jelek amat. Yaah lumayan bersainglah. Bahkan sempat dapat beasiswa belajar satu semester ke negara tetangga. Maaf, bukan maksud nyombong, tapi ya Alhamdulillah, aku diberikan keberuntungan itu. Tapi tetap, itu semua nggak mudah. Bikin tugas, ujian, ngedengerin dosen di siang hari menyengat yang sebenarnya enak dipake tidur, banyak godaan dan cobaan yang harus dihadapi. But I survived it.

Kemudian ketika tuntas mendapatkan semua teori selama hampir empat tahun, ada sebuah “benda” yang harus diselesaikan demi mendapatkan gelar keserjanaan S1 itu. SIP kalo di fakultasku. Sarjana Ilmu Politik. Wuuzzz, ngeri ya? Padahal besok-besok kalo kamu ketemu aku di jalan dan ngajakin aku ngebahas soal teori ini-itu dalam politik jangan terlalu berharap aku bisa menjelaskannya dengan komprehensif. Anyway, “benda” yang aku bilang tadi namanya “skripsi”. Kalo dalam bahasa Inggris biasanya disebut “thesis” (kalo di Indonesia, thesis buat S2 aja kan ya? Kalo dalam English itu buat S1 juga).

Bikin skripsi ini buatku bahkan lebih sulit daripada kuliah. Kalo kuliah kita bareng temen-temen, walaupun ujian dan tugas sendiri-sendiri, tapi bisa share dan belajar bareng. Dan tugas dan ujian ada deadline-nya, mau ga mau kita disuruh disiplin. Kalo skripsi kita sendiri, topik kita pasti beda dengan temen-temen kita, ga ada yang maksa kita untuk disiplin. Deadline-nya kita bikin sendiri. Biasanya sih batas deadline-nya itu rasa malu karena jadi angkatan tua, rasa ga enak dengan orangtua, rasa iri dan cemburu dengan teman-teman yang sudah lebih dulu sukses, dan paksaan dari orang-orang sekeliling yang cukup peduli dan pengen liat kita cepet-cepet lulus. Karena itu skripsi itu lebih susah, dan aku sempat tersendat-sendat di awal pengerjaannya.

Awalnya aku menargetkan wisuda bulan November 2010, karena pada saat itu aku sudah mengajukan judul skripsi pada bulan Maret 2010 dan sudah di-ACC dengan dosen pembimbing. Perhitunganku, cukuplah 6-7 bulan buat mengerjakan proposal, seminar, kemudian menuntaskan draft, lalu sidang. Target yang sangat mungkin untuk dicapai sebenarnya. Tapi waktu itu aku belum KKN, dan harus melaksanakannya selama dua bulan, April dan Mei. Pada saat itu skripsiku baru sebatas judul dan satu halaman abstraksi saja. Bulan Juni pun aku habiskan buat istirahat dari kejenuhan KKN. Ketika baru akan mulai membuat proposal aku jatuh sakit sampai harus dirawat selama seminggu. Juni kulewatkan tanpa hasil. Pada awal bulan Juli, ketika sudah pulih dari sakit, aku memulai menulis proposalku, namun rasa malas menyerang sehingga butuh 1 bulan lebih untukku menyelesaikan proposal yang tebalnya hanya 13 halaman saja. Proposal itu akhirnya mendapatkan ACC untuk seminar pada pertengahan Agustus 2010. Aku mendaftar pada bulan itu dan menjalani seminar proposal pada tanggal 28 September 2010.

Selesai seminar, pikiranku lebih cerah, keinginan untuk mengerjakan bab-bab selanjutnya kembali menggebu. Namun pada saat itu aku sudah ragu bisa wisuda November. Karena untuk wisuda November aku paling tidak sudah sidang pendadaran pada Oktober, dan untuk bisa sidang pada bulan Oktober, draft skripsiku harus sudah di-ACC pada bulan September. Sementara September aku baru seminar proposal. Jadi sangat tidak mungkin. Maka target wisudaku pun mundur menjadi Februari 2011. Target yang mundur menyebabkan semangatku mengendor, karena berpikir target yang akan dicapai masih lama, masih 5 bulan, maka aku pun bersantai. Saking santainya, pasca seminar proposal, skripsiku tidak kusentuh begitu lama sehingga bulan Oktober pun terlewatkan begitu saja tanpa ada progres apa-apa. Pada suatu hari di awal November, semangatku muncul lagi, targetku adalah mnyelesaikan draft bulan itu karena aku ingin sidang pendadaran bulan Desember. Aku nggak mau sidang bulan Januari, karena terlalu mepet dengan wisuda, sementara pengurusan dan pendaftaran wisuda terkenal sangat ribet dan begitu banyak tetek bengek. Semangat kemudian datang lagi.

Kalo kamu masih ingat, awal November itu ada letusan merapi yang begitu dahsyat. Tepatnya tanggal 5 November. Saat itu, aku dan adik sudah diwanti-wanti oleh orangtua untuk pulang ke Bengkulu. Mereka khawatir dan baru bisa merasa tenang kalo kami keluar dari Jogja. Beberapa hari pertama di kampung halaman aku masih konsisten dengan tanggung jawabku dalam memenuhi target skripsi. Tapi lama-kelamaan aku mulai goyah. Jalan dengan teman SMA, membantu tanteku mengolah bahan disertasinya, sampai ke abang yang datang berkunjung ke rumah (ga nyalahin abang kooog, ini salahku sendiri. Ga boleh marah yaaa. Hehe… ). Akhirnya skripsiku terlupakan. Kembali ke Jogja, sudah akhir November. Aku pasrah. Aku sempat nangis karena takut nggak bisa memenuhi targetku yang sebenarnya sudah mundur. Wisuda Februari itu plan B, bukan plan A lagi. Masa plan B pun gagal, dan harus beralih ke plan C? Orangtuaku sempat bilang, “kalo nggak bisa Februari ya nggak apa-apa, daripada kamu stress sendiri. Nggak usah dipaksakan.” Begitu kata mereka. Aku ingat waktu itu pernah nelepon Ayah dan nangis sampai sesenggukan cuma karena berselisih jalan dengan dosen pembimbing yang sudah kutunggu-tunggu dan gagal bertemu. Segitu galaunya aku sampe masalah kecil pun bisa bikin aku nangis-nangis.

Karena orangtuaku sudah tidak menaruh pressure lagi, sampai awal Desember pun aku masih agak santai. Aaah, cinta betul sama Ayah dan Ibu. Tapi teman-teman seperjuanganku di kampus yang juga sama-sama ber-skripsi dan menargetkan Februari bilang bahwa aku masih punya kesempatan. Aku akhirnya semangat lagi, dan benar-benar fokus mengerjakan skripsi dengan harapan bisa dapat ACC dan daftar sidang pada bulan Desember, agar bisa sidang pada Januari 2011. Alhamdulillah, dosen pembimbingku sama sekali tidak mempersulit. Cuma dua kali konsultasi, beliau bersedia memberikan ACC. Ga terbayangkan betapa bersyukurnya aku waktu itu. Pada saat itu aku berpikir, andaikan ada halangan yang terjadi sampai aku nggak bisa wisuda pada bulan Februari, paling nggak aku sudah sidang bulan Januari. Itu adalah satu beban besar yang segera akan terlepas dari bahuku. Masalah wisuda, itu cuma sekedar seremoni aja, yang penting itu sidangnya.

Resmi tanggal 29 Desember 2010, aku mendaftar sidang untuk bulan Januari 2011. Seminggu kemudian, jadwal keluar. Giliran sidangku adalah tanggal 10 Januari 2010. Aku langsung deg-degan, nggak nafsu makan, ga bisa tidur… Sekali lagi, Alhamdulillah, begitu banyak dukungan yang aku dapatkan. Baik dari yang dekat maupun yang jauh. Di hari H, meskipun sempat terjadi beberapa kesulitan, seperti misunderstanding informasi, jadwal yang diundur, sampai ke presentasi sidang yang harus aku lakukan dua kali, semuanya berakhir dengan lancar. Perjuanganku mengerjakan skripsiku selama hampir 1 tahun berakhir secara tidak resmi pada hari itu. Memang masih ada revisi sana-sini sih, tapi secara de facto aku sudah jadi SIP. Namaku Karina Utami Dewi, SIP. Horeee!!

Aah, sudah sidang pendadaran, skripsi sudah diuji, lalu apa? Yak, wisuda. Harusnya ini merupakan momen membahagiakan, yang tak terlupakan, dan mungkin salah satu hal penting dalam hidup kita kan ya? Tapi nggak begitu dengan urusan pendaftarannya. Argh, bikin gondok setengah mati. Sejak selesai sidang itu aku sudah berkali-kali bolak-balik bagian akademik fakultas untuk cari tahu syarat-syarat pendaftaran wisuda. Tapi berkali-kali pula dijawab dengan, “blangkonya belum ada, mbak. Mungkin nanti tanggal 20.” Yasudah, aku tunggu. Dan ternyata memang tanggal segitu keluarnya. Blangko apakah itu sodara-sodara? Itu merupakan selembar kertas berisikan daftar hal-hal yang harus dilakukan oleh mahasiswa yang mau mendaftar wisuda. Salah satunya syarat tersebut adalah bebas pustaka/bebas pinjaman dari berbagai tempat. Antara lain perpustakaan jurusan HI, bagian keuangan dan kepegawaian Fisipol, perpustakaan Fisipol, perpustakaan pusat UGM, dan perpusda wilayah Yogyakarta. Yak, PERPUSDA WILAYAH YOGYAKARTA YANG AKU BAHKAN GA TAU LETAKNYA DI MANA. BORO-BORO MAU MINJEM BUKU DI SANA, LETAKNYA AJA AKU GA TAU DI MANA!

Oke, jadilah aku diwajibkan berkeliling ke tempat-tempat itu untuk minta cap dan tanda tangan petugasnya sebagai bukti bahwa aku sudah bebas dari pinjaman apapun. Tapi bukan itu saja yang aku gondok. Kalo sekedar bolak-balik ke berbagai tempat itu, okelah, nggak apa-apa. Sebagian besar memang masih dalam kompleks UGM. Kecuali Perpusda Yogyakarta yang letaknya di daerah dekat-dekat Bumijo sana. Nggak tau Bumijo? Yah, pokoknya lumayan jauh deh dari UGM! Oke, kalo itu mungkin masih bisa ditolerir, karena aku juga ke sana naik motor. Ga jalan kaki atau ngebis. Nah, tapi di tempat-tempat di mana aku harus meminta cap dan tanda tangan itu begitu banyak syaratnya yang harus dipenuhi.

Inilah syarat-syaratnya saudara-saudara: Di perpustakaan jurusan HI meminta satu sumbangan buku, trus minta softfile PDF skripsi yang di-copy ke CD dan disimpan dalam kotak yang bagus (ga mau yang plastik tipis, harus kotak yang bagus macam CD-CD yang dijual di disc tarra), pas foto, dan materai. Di perpustakaan Fisipol cuma minta softfile PDF dalam CD juga. Kotaknya ga harus bagus sih. Tapi PDF-nya harus dikasih bookmark gitu. Ntah apa itu. Dan punyaku ga ada bookmark-nya. Akhirnya dibilang sama mas petugasnya, kalau mau dibikinin bookmark di perpus bisa, tapi ada biayanya, Rp 5000. Dan plus administrasi untuk ngurus bebas pustakanya juga Rp 5000. Jadi aku kena Rp 10.000 di sana. Lalu ke perpustakaan pusat UGM. Di sana cuma isi formulir doang. Urusannya ga lama, paling sekitar 10 menit. Tapi waktu tanda tangan dan capnya sudah, si bapak petugas menyerahkan kertas sambil bilang, “lima belas mbak.” aku pun bertanya, “lima belas apa pak?” terus bapaknya bilang, “lima belas ribu.” Olala, ternyata aku disuruh mbayar toh. Sambil bete-bete gitu aku ngambil dompet dan nanya, “lima belas ribu buat apa sih Pak?” dalam hati menambahkan, masa kertas bukti bebas pustaka selembar gini doang harganya lima belas ribu? Lima ratus perak aja ga nyampe kali. Tapi bapaknya cuma menjawab sambil menunduk dan menghindari pandangan saya, dan bilang “ya buat administrasinya itu.” lalu aku berikanlah Rp 15.000 itu. Sudah berapa kenanya tadi? Rp 25.000 ya? Tapi itu belum termasuk beli CD dan kotaknya, beli buku, nge-burn, nge-print, cetak foto, dan beli materai lho ya. Itu semua ga tau aku berapa jumlahnya. Terlalu menyebalkan buat dihitung.

Lalu aku ke perpusda Yogyakarta. Waktu itu aku bareng sama temanku, Andrew namanya. Si Andrew ini asli Jogja jadi tau di mana letaknya. Di sana juga ga banyak sih syaratnya. Cuma isi formulir, tunjukkan KTM, lalu bayar Rp 1000 untuk biaya administrasinya. Ya paling korban bensin karena letaknya yang agak jauh. Dan yang agak konyol menurutku adalah bahwa kita disuruh tunjukkin bukti bebas pustaka dari sebuah perpustakaan di mana kita ga pernah jadi anggotanya atau pun meminjam buku dari sana. Bahkan tau letaknya aja nggak. Dan kalo pun kita pengen minjem buku di sana setelah kita ga jadi mahasiswa lagi emang ga boleh? Konyol kan? Konyol banget.

Oke, tempat berikutnya adalah bagian keuangan dong. Nah bagian keuangan ini juga ga macem-macem syaratnya. Hanya satu saja, tunjukkan bukti pembayaran pendaftaran wisuda. Tapi tahukah sodara-sodara sekalian, berapa biaya pendaftaran yang dikenakan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik kepada setiap mahasiswa yang mau ikut wisuda? Biayanya adalah Rp 475.000, sodara-sodara! Hampir setengah juta jumlahnya. Rinciannya? Ah macam-macam deh. Sewa toga lah, konsumsi lah, majalah entah apa, kenang-kenangan dari Fisipol (kenang-kenangan namanya tapi kita harus beli sendiri), kartu alumni, dan macam-macam lagi. Too painful for me to go through the detail of the list. Jadi, intinya itu mahal! Mahal sekali!

Lebih menyakitkan lagi ketika tahu bahwa ternyata setiap fakultas itu beda-beda. Ista, temen kosku, mahasiswa D3 Ekonomi UGM dan juga wisuda pada bulan Februari, hanya membayar sekitar tiga ratus ribuan ke fakultasnya. Bulan Agustus lalu, waktu si abang wisuda, aku ingat dia hanya bayar sekitar dua ratus ribuan. Itu memang masih mahal, tapi kan nggak mendekati setengah juta jugaa??? Jadi aku gondok. Gondok dan kesal. Oh, dan bukan itu saja. Jadi begini, setelah membaca apa yang aku tulis, semuanya setuju dong ya itu bukan syarat yang gampang untuk dipenuhi. Maksudnya, butuh banyak waktu karena harus ke sana kemari, belum lagi syarat-syarat yang harus dipenuhi, belum lagi birokrasinya. Plus, setelah membayar hampir setengah juta itu itu masih harus log in lagi ke website UGM untuk daftar wisudanya, lalu harus ngeprint bermacam-macam form, dan harus cetak pas foto hitam putih dan berwarna. Bagi yang belum punya, repotnya nambah berarti. Harus bikin pasfoto dulu. Ribet pokoknya.

Nah blangko yang harus dicap dan di tanda tangani itu kan baru keluar tanggal 20 ya? Dan tanggal 20 itu adalah hari Kamis. Lalu waktu aku tanya mas-mas di front office akademik kapan paling lambat, masa dia bilang tanggal 24?? Iya, tanggal 24 Januari 2011!! Yang itu berarti hari Senin. Sementara Sabtu dan Minggu kan segala macam kantor, perpustakaan, dan kampus libur!! Gemes kan?! Singkat banget waktunya. Lalu aku sampaikan kepada masnya itu, “masa hari Senin sih mas? Hari Selasa boleh lah ya? Singkat banget waktunya ini. Saya udah bolak-balik ke sini dari minggu lalu blangkonya ini ga keluar. Giliran keluar, baru hari Kamis masa Senin sudah harus dipenuhi?”, lalu masnya bilang, “iya nih, ga tau nih akademik,” waktu denger gitu rasanya aku pengen joget-joget sambil koprol dan makan rumput. Ih, kurang banget sih koordinasinya?! Ga ada omong-omongan emang ya? Tiap hari ketemu gitu di ruangan ga cerita gitu ya, “eh pak, itu lho dari kemaren mahasiswa sudah pada nanyain syarat wisuda, mbok cepetan itu blangkonya dikeluarkan.” Kalo pun emang pengen keluarnya lambat, ya deadline-nya juga jangan sesuka hati gitu dong ah. Ga asik banget deh ah!

Dan masih masalah koordinasi dan deadline ya, bener-bener aneh deh. Kan kalo di bagian front office bilangnya paling lambat daftar tanggal 24 Januari 2011. Tapi waktu dapat kertas yang isinya password dan username untuk log in daftar wisuda, katanya paling lambat log in dilakukan pada tanggal 26 Januari 2011. Yang lebih yahud lagi, deadline dari Jurusan HI. Syarat-syarat untuk mengumpulkan buku, pasfoto, materai, dan PDF skripsi itu paling lambat dikumpulkan pada tanggal 28 Januari 2011. Gini yah, kantor jurusan HI sama front office Fakultas itu jaraknya bahkan ga sampe 20 langkah lho. Ngesot juga belum lecet udah keburu sampe. Masa untuk menyesuaikan deadline aja mereka ga bisa sih? Campur aduk perasaanku. Pengen ketawa iya, pengen ngamuk iya, pengen nangis juga iya. Sedih aja, segitu gedenya kita bayar, untuk mendapatkan profesionalitas yang sangat sederhana aja kita ga bisa.

Melihat persyaratan yang segitu ribet dan njelimetnya itu, aku malah tertantang buat menyelesaikan dalam satu hari. Waktu itu hari Kamis, tanggal 20 Februari 2011, pukul 10 pagi, adalah waktu di mana aku mendapatkan blangko itu. Di hari yang sama, pukul 2 siang, aku sudah berhasil menyelesaikan semuanya. Yep, mendapatkan cap dan tanda tangan dari 5 tempat, termasuk perpusda yang letaknya di ujung dunia (lebay). Antri di bank untuk bayar wisuda. Ke bagian akademik untuk minta username dan password. Lalu log in lewat komputer di kos, ngisi form. Ngeprint form. Lalu cetak foto. Beli materai. Lalu kembali ke kampus untuk mengumpulkan semuanya. Masih sempat-sempatnya menempelkan fotoku di berbagai form yang jumlahnya entah seberapa banyak itu. Ya, semuanya aku selesaikan dalam waktu yang sesingkat itu saja. Kenapa? Karena aku males khawatir lama-lama. Ga tenang kalo urusan itu belum selesai. Aku juga males gondok lama-lama. Jadi deadline yang pendek itu malah jadi tantangan buatku. Buktinya, Alhamdulillah aku bisa menyelesaikan semuanya dalam waktu sekitar 4 jam saja. Dan aku ga lupa makan siang lho itu. Hehehe…

Dan memang terbukti, setelah itu semua selesai, kekesalanku mereda. Dan sesungguhnya aku merasa tenang dan senang juga. Kebetulan hari itu nilai skripsiku juga keluar. A- nilainya. Ya memang bukan A yang sempurna, tapi tetap A. Padahal waktu itu aku sudah yakin bakal dapet B. Tapi Allah itu memang Maha Baik. Aku pun tinggal menyongsong wisuda yang insya Allah sebulan lagi, dan lulus dengan nilai skripsi yang menyenangkan dan IPK yang sama sekali tidak mengecewakan. Semoga ke depannya juga bisa mendapatkan pekerjaan dan kehidupan yang lebih baik. Asal mau berdoa dan berusaha, tidak ada yang tidak mungkin kan?

 

Hasil akhirnya, hanya 77 halaman saja, termasuk halaman judul, daftar isi, dll. Tapi lumayanlah buat anak HI yang minimal skripsinya 40 halaman saja.

Aduh, maaf ya tulisan ini panjangnya nggak ketulungan, dan aku pake ngomel-ngomel pula. Tapi sungguh aku nggak nyangka, perjalananku selama 4 tahun lebih di UGM ternyata bisa kutuliskan dalam satu postingan ini saja. Sesungguhnya ada 5 buah buku diary yang mencatat kehidupanku sehari-hari, tapi biar itu jadi konsumsiku sendiri saja. Nggak kerasa sebentar lagi aku sudah bukan mahasiswa S1 HI UGM lagi. Huwaaa… Excited to see what will happen in the future!! \(^o^)/

Babies

Berdasarkan usul salah satu blogger, aku memutuskan untuk menulis hal-hal yang lain selain cinta-cintaan, karena beliau bosan tampaknya (hehe, btw, makasih lho mas sarannya). Dan karena banyak juga yang protes sehubungan dengan bahasa yang aku gunakan, alias bahasanya Ratu Elizabeth, maka di blog post kali ini aku memutuskan untuk rehat sejenak dari keduanya. :)

Anyway, di post kali ini aku ingin sedikit bercerita tentang film yang baru saja aku tonton, judulnya “Babies”. Aku mencoba menulis dengan gaya dan bahasaku sendiri ya. Jika ada yang merasa kurang dan ingin menambahkan hal-hal lain yang seharusnya aku review, dimohon sarannya. :) All right, here we go.

Warning: SPOILER ALERT!!***

Ajakan untuk nonton film ini datang dari teman satu kampus yang sama-sama berjuang menyelesaikan skripsi (apa sih?), yang bernama Richo. Karena aku juga penasaran akhirnya aku menyetujui ajakan tersebut, dan kita pun pergi dengan beberapa teman lain. Inti cerita dari film ber-genre dokumenter ini mengisahkan tentang 4 orang bayi yang lahir di belahan dunia yang berbeda-beda. Dokumentasinya sendiri dimulai dari sejak mereka lahir ke muka bumi, hingga mereka mencapai usia 1 tahun. Dua di antara bayi ini berasal dari daerah terpencil, yaitu Ponijao dari Namibia. dan Bayar dari Mongolia. Sementara yang dua lainnya berasal dari daerah urban, yaitu Hattie dari Amerika, dan Mari dari Jepang.

Durasi filmnya sendiri tidak begitu panjang, hanya sekitar 80 menit. Tapi kalo dipikir-pikir juga, pastinya bakal bosan nonton film dokumenter kalo kepanjangan. Ceritanya dari awal ya menunjukkan bagaimana keempat bayi ini tumbuh di lingkungan masing-masing, yang berbeda-beda. Dan harus diakui, memang sangat jomplang terutama ketika kita membandingkan yang dari negara berkembang vs. negara maju. Hehe… Ponijao misalnya, dari kecil sudah dilepas begitu aja sama ibunya. Ke sana kemari nggak pake celana. Main tanah, dan apa yang ditemui di tanah masuk ke mulutnya. Komentar aku dan teman-teman waktu itu, “wah ini bayi masih kecil pasti imunitasnya sudah tinggi ya, karena sudah biasa dilepas-lepas begini.” Sementara Hattie yang dari Amerika, sejak kecil sudah diperkenalkan dengan buku-buku, dan mainannya pun bagus-bagus. Bayar yang berasal dari Mongolia, punya kakak yang umurnya ga jauh beda dari dia. Dan dia seriiing banget jadi korban kejahilan kakaknya, dipukul lah, di”sabet” mukanya pake kain. Dan Mari, dari kecil sudah diajak belajar oleh orangtuanya, pegang sempoa, dan bahkan diperkenalkan dengan gadget.

Sejujurnya, yang agak menggangguku dari film ini, adalah bagian ketika ibu dari keempat bayi menyusui anak-anaknya. Aku nggak ngerti gimana caranya lembaga sensor di Indonesia bekerja, tapi yang jelas payudara si ibu terpampang dengan jelas di layar bioskop yang besarnya minta ampun itu. Terutama Ibunya Ponijan, yang orang Afrika, dan ke mana-mana topless alias ga pake baju bagian atas. Mungkin karena film ini adalah dokumenter, dan ‘penampakan’ dari payudara tersebut sama sekali tidak ada tujuan seksual atau pornografi, jadi lulus sensor? Ya, mungkin aja. Tapi aku tetap aja agak “geli” ngeliatnya. Hehe…

Aku suka film ini, karena menurutku film ini berhasil mendeskripsikan begitu banyak dengan dialog yang sangat minim. Hampir-hampir ga ada. Paling-paling cuma orangtuanya yang ngomong, dengan bahasa mereka masing-masing, tanpa ada subtitle. Tapi menurutku juga nggak perlu. Aku suka bagian-bagian di mana keempat bayi melakukan hal-hal yang sama atau mirip, di tempat mereka masing-masing. Seperti ketika masing-masing bercanda dengan kucing peliharaan orangtua mereka. Atau ketika mereka masing-masing sudah mulai bisa merangkak, dan mulai menjelajah ke sana kemari dengan kemampuan baru mereka. Beberapa adegan juga bikin ketawa, ya karena melihat tingkah khas bayi yang pastinya masih lucu dan polos.

Ini beberapa momen masing-masing bayi yang jadi favoritku sepanjang film ini.

Favorite moment of Ponijao:
Waktu dia duduk sambil terkantuk-kantuk dan hampir jatuh terjengkal karena ketiduran, tapi tepat pada detik-detik terakhir dia langsung terbangun dan batal jatuh. Bagian ini bikin aku ketawa terbahak-bahak, terutama karena bagian yang dia hampir jatuh tapi batal itu terjadi dua kali.

Favorite moment of Mari:
Waktu dia mencoba untuk menyelesaikan permainan semacam puzzle, namun ga berhasil. Dia jadi nangis sendiri, bahkan sampe guling-guling karena depresi. Setelah nangis beberapa saat, dia mencoba lagi menyelesaikan permainan itu, namun belum juga bisa.  Dan itu membuat dia nangis guling-guling lagi. Ini juga bikin aku ketawa, karena terjadi beberapa kali dengan pola yang sama dan reaksi yang sama juga.

Favorite moment of Bayar:
Waktu dia baru bisa berdiri, dan mencoba untuk naik ke kuda-kudaan. Sayangnya kuda-kudaannya agak jauh dari tempat dia pegangan, sementara dia belum cukup berani untuk melepas pegangannya dari tiang yang membantu dia berdiri. Tapi dia tetap menggerakkan kakinya mencoba untuk naik ke kuda-kudaannya. Akhirnya dia pegangan ke temannya yang berdiri di dekat dia dan membuat temennya itu nangis karena bajunya ditarik akibat usaha Bayar yang ingin pegangan.

Favorite moment of Hattie:
Waktu dia diajak ayahnya ke sebuah taman dan main mobil-mobilan. Si ayah meletakkan Hattie dan mobilnya di sebuah track yang bentuknya seperti perosotan, yang artinya bagian awalnya lebih tinggi dari bagian ujung. Hattie naik ke track itu dan mobilnya mulai meluncur, tapi si mobil tidak kunjung berhenti meskipun sudah sampai ke ujung track-nya. Si mobil terus berjalan sampai ke bagian taman yang rendah. Mobilnya terbalik dan Hattie pun jatuh, sang ayah buru-buru lari untuk menggendong anaknya yang jatuh karena kesalahannya.

Well, after all, menurutku film ini cukup bisa dinikmati. Terutama bagi yang suka dengan film ber-genre dokumenter dan juga suka melihat tingkah polah bayi-bayi yang lucu dan imut, ga ada salahnya untuk menyisihkan waktu dan menikmati “akting” 4 bayi dengan latar belakang yang berbeda-beda ini. Oh ya, sekedar informasi tambahan, film ini agak telat datang ke Jogja, karena produksinya sendiri sudah berakhir pada tahun 2009, dan mulai keluar di Amerika pada tahun 2010. Aku nggak tahu bagaimana dengan bioskop di kota lain di Indonesia, tapi di Jogja baru muncul bulan Januari 2011 ini. Yah, better late than never.

Finally, selamat nonton semuanya! :)

photo taken from here

***buat yang pengen nonton dan nggak pengen tahu terlalu banyak soal film ini karena takut ga seru lagi, sebaiknya tidak membaca post ini. :)

well, what should I say?

I just deactivated my facebook account. Well, it’s just a temporary action. I’ll activate it again someday. But for now I think I need to get away from there. Something in there is just making me sick and upset all the time, and I want to runaway from those feelings, and maybe deactivating my facebook account will help. Oh, and I wanted to deactivate my twitter account too, but when I tried, it says that if I do it, it will be permanent. So I keep my twitter account active.

Ah, you know what, I got problems here and there, got hurt or heartbroken over and over again just by seeing plenty of things people put in their social network, such as facebook and twitter. And sometimes I create problems also by writing something in there. People might get upset. And I know it’s my fault, entirely. That’s why, when today, I wrote something in twitter, something that we agree we never talk about anymore, I totally get it if you’re angry at me. The thing is, I actually still want to talk about it. But I know you don’t like it. I know you don’t want to talk about it anymore so that’s why I just wrote it in twitter. Because I think you don’t really get what I actually feel about it. And when I tried to understand, what is that all about, I saw something, right on your facebook, that kinda pisses me off.

But you know what, I made a promise that we’re not gonna talk about it anymore. So that’s why I don’t talk about it directly to you. And that’s also why I wrote about in twitter instead. Because I really want you to know how I feel about it. I do try to understand you, and the reason behind why you’re doing such a thing. Well, the thing is, sometimes we need to discuss those reasons. When I try to understand why you do such a thing, you might as well also try to understand why I don’t like you doing that. See, it needs compromising. It needs the talk. We can’t always skip the talk. But I never want to make you angry. Seriously, the last thing I want to do in this entire world is to make you angry at me. So yes, when you say you don’t want to talk about it, I just agree with you, and try to ignore how I really feel about it. Try to ignore that my heart actually want to scream about it. Because I don’t want to make you angry at me. Because that’s just making me sad, and I don’t want to get sad.

I know I shouldn’t write about it in twitter. I should’ve written about how I feel in my blog instead. Because no one reads my blog. Well, even if there is someone who reads my blog, I don’t think he/she will read it from top to bottom. So I think I’m safe. And I totally understand when you said, I shouldn’t write about it in twitter if I don’t want to talk about it anymore. The thing is, it’s you who doesn’t want to talk about it anymore. Not me. But I agree to not talking about it because you want us to. I just want to make you understand how I feel about it, and if you want, compromise about it, for me. You said, I shouldn’t write about it in twitter if I don’t want you to find out. Well, to be honest, I WANT YOU TO FIND OUT. I want you to know that I accidentally saw on facebook that you commented on certain photo albums, and I really really don’t like it. But I already made a promise so that’s why my only way is to write it on twitter. To make you understand that I still feel bad about it. Then again, I wrote on twitter because I can’t talk about it with you, I know you don’t want to talk about it. And I got no one to share what I really feel. And I don’t like to hide it. I am uncomfortable about it, I don’t like it. It’s not that I don’t trust you. But it’s just making me uncomfortable. And I can’t really talk to someone else because it’s not important enough. So here I am, wrote everything in my blog. And I hope you understand.

If It’s Love – Train

I just recently found out about this band, Train, because I accidentally watched the re-run of AMA 2010 on Star World. Their song, Hey Soul Sister, was very catchy and I couldn’t help looking for it in the internet. Well, I know I’m a bit late, because this band actually has been formed in 1994, and already made 5 recording albums. Actually, I’ve seen the vocalist, Pat Monahan, from one of Kris Allen’s music video. For those who don’t know yet, I’m a big fan of Kris Allen. I wrote one post about him, when he ‘accompanied’ me with his music during tough time in my academic life. you can click here to understand what I’m talking about.

So, I watched one of Kris Allen’s video, The Truth, and it was a duet with Pat Mohanan. So I started questioning who is Pat Monahan? I’m curious about him since he has great voice, and a really high range of vocal. I think he’s just awesome. Well, it turned out that he’s the vocalist of Train. And when I saw the AMA 2010 on TV, it reminded me again about Pat and his band. So I started searching for their songs. One of their familiar songs, from their older album is Calling All Angels. Then I also listened to the song from their latest album, Hey Soul Sister. This one also sounds familiar because it was a soundtrack of something (funny, I can’t remember from what show). But there’s one song that I like the most from the latest album, it’s called If It’s Love. I love the music arrangement, and I also love the lyrics. Well, I, indeed, tend to pay attention to the lyrics and determine whether or not a song is good through the lyrics. And this one is really good from both sides. My favorite part of the lyrics is this one:

Hold our cell phones up in the air
And just be glad that we made it here alive
On a spinning ball in the middle of space
I love you from your toes to your face

So I put the video and the lyrics here and you should totally check it out. Tell me what you think about it! :)

The lyrics (taken from here):

While everybody else is getting out of bed, I’m usually getting in it, I’m not in it to win it
And there’s a thousand ways you can skin it

My feet have been on the floor flat like an idle singer, Remember winger, I digress
I confess you are the best thing in my life

But I’m afraid when I hear stories about a husband and wife, There’s no happy endings, no Henry Lee
But you are the greatest thing about me

If it’s love, And we decide that it’s forever
No one else could do it better

If it’s love, And we’re two birds of a feather
Then the rest is just whenever

And if I’m addicted to loving you, And you’re addicted to my love too
We can be them two birds of a feather that flock together

Love, love, Got to have something to keep us together
Love, love, That’s enough for me

Took a loan on a house I own, Can’t be a queen bee without a bee throne
I wanna buy you everything except cologne ’cause it’s poison

We can travel to Spain where the rain falls, Mainly on the plain side and sing
‘Cause it is we can laugh, we can sing, Have ten kids and give them everything

Hold our cell phones up in the air, And just be glad that we made it here alive
On a spinning ball in the middle of space, I love you from your toes to your face

If it’s love, And we decide that it’s forever
No one else could do it better

If it’s love, And we’re two birds of a feather
Then the rest is just whenever

And if I’m addicted to loving you, And you’re addicted to my love too
We can be them two birds of a feather that flock together

Love, love, Got to have something to keep us together
Love, love, That’s enough for me

You can move in, I won’t ask where you’ve been
‘Cause everybody has a past, When we’re older we’ll do it all over again

When everybody else is getting out of bed
I’m usually getting in it, I’m not in it to win it, I’m in it for you

If it’s love, And we’re two birds of a feather
Then the rest is just whenever, Then the rest is just whenever

If it’s love, And we decide that it’s forever
No one else could do it better

And if I’m addicted to loving you, And you’re addicted to my love too
We can be them two birds of a feather that flock together

Love, love, Got to have something to keep us together
Love, love, Got to have something to keep us together
Love, love, That’s enough for me