Aku pengen cerita panjang nih. Aduh mungkin membosankan, tapi entah kenapa aku ingin cerita panjang lebar disertai dengan omelan-omelannya kalo perlu. Ingin menumpahkan segenap isi hati beserta kesenangan dan kesedihannya. Ya boleh ya?
Oke, jadi semua tahu dong kalo kuliah itu ga gampang? Hm, biar diperjelas lagi, kuliah dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan ilmu yang berguna dan meraih nilai yang bagus itu nggak gampang kan ya? Selama 4 tahun lebih di Jogja, aku menuntut ilmu di sebuah universitas yang (katanya) termasuk yang paling bagus se-Indonesia. Aku bangga. Tambah bangga ketika nilaiku nggak jelek-jelek amat. Yaah lumayan bersainglah. Bahkan sempat dapat beasiswa belajar satu semester ke negara tetangga. Maaf, bukan maksud nyombong, tapi ya Alhamdulillah, aku diberikan keberuntungan itu. Tapi tetap, itu semua nggak mudah. Bikin tugas, ujian, ngedengerin dosen di siang hari menyengat yang sebenarnya enak dipake tidur, banyak godaan dan cobaan yang harus dihadapi. But I survived it.
Kemudian ketika tuntas mendapatkan semua teori selama hampir empat tahun, ada sebuah “benda” yang harus diselesaikan demi mendapatkan gelar keserjanaan S1 itu. SIP kalo di fakultasku. Sarjana Ilmu Politik. Wuuzzz, ngeri ya? Padahal besok-besok kalo kamu ketemu aku di jalan dan ngajakin aku ngebahas soal teori ini-itu dalam politik jangan terlalu berharap aku bisa menjelaskannya dengan komprehensif. Anyway, “benda” yang aku bilang tadi namanya “skripsi”. Kalo dalam bahasa Inggris biasanya disebut “thesis” (kalo di Indonesia, thesis buat S2 aja kan ya? Kalo dalam English itu buat S1 juga).
Bikin skripsi ini buatku bahkan lebih sulit daripada kuliah. Kalo kuliah kita bareng temen-temen, walaupun ujian dan tugas sendiri-sendiri, tapi bisa share dan belajar bareng. Dan tugas dan ujian ada deadline-nya, mau ga mau kita disuruh disiplin. Kalo skripsi kita sendiri, topik kita pasti beda dengan temen-temen kita, ga ada yang maksa kita untuk disiplin. Deadline-nya kita bikin sendiri. Biasanya sih batas deadline-nya itu rasa malu karena jadi angkatan tua, rasa ga enak dengan orangtua, rasa iri dan cemburu dengan teman-teman yang sudah lebih dulu sukses, dan paksaan dari orang-orang sekeliling yang cukup peduli dan pengen liat kita cepet-cepet lulus. Karena itu skripsi itu lebih susah, dan aku sempat tersendat-sendat di awal pengerjaannya.
Awalnya aku menargetkan wisuda bulan November 2010, karena pada saat itu aku sudah mengajukan judul skripsi pada bulan Maret 2010 dan sudah di-ACC dengan dosen pembimbing. Perhitunganku, cukuplah 6-7 bulan buat mengerjakan proposal, seminar, kemudian menuntaskan draft, lalu sidang. Target yang sangat mungkin untuk dicapai sebenarnya. Tapi waktu itu aku belum KKN, dan harus melaksanakannya selama dua bulan, April dan Mei. Pada saat itu skripsiku baru sebatas judul dan satu halaman abstraksi saja. Bulan Juni pun aku habiskan buat istirahat dari kejenuhan KKN. Ketika baru akan mulai membuat proposal aku jatuh sakit sampai harus dirawat selama seminggu. Juni kulewatkan tanpa hasil. Pada awal bulan Juli, ketika sudah pulih dari sakit, aku memulai menulis proposalku, namun rasa malas menyerang sehingga butuh 1 bulan lebih untukku menyelesaikan proposal yang tebalnya hanya 13 halaman saja. Proposal itu akhirnya mendapatkan ACC untuk seminar pada pertengahan Agustus 2010. Aku mendaftar pada bulan itu dan menjalani seminar proposal pada tanggal 28 September 2010.
Selesai seminar, pikiranku lebih cerah, keinginan untuk mengerjakan bab-bab selanjutnya kembali menggebu. Namun pada saat itu aku sudah ragu bisa wisuda November. Karena untuk wisuda November aku paling tidak sudah sidang pendadaran pada Oktober, dan untuk bisa sidang pada bulan Oktober, draft skripsiku harus sudah di-ACC pada bulan September. Sementara September aku baru seminar proposal. Jadi sangat tidak mungkin. Maka target wisudaku pun mundur menjadi Februari 2011. Target yang mundur menyebabkan semangatku mengendor, karena berpikir target yang akan dicapai masih lama, masih 5 bulan, maka aku pun bersantai. Saking santainya, pasca seminar proposal, skripsiku tidak kusentuh begitu lama sehingga bulan Oktober pun terlewatkan begitu saja tanpa ada progres apa-apa. Pada suatu hari di awal November, semangatku muncul lagi, targetku adalah mnyelesaikan draft bulan itu karena aku ingin sidang pendadaran bulan Desember. Aku nggak mau sidang bulan Januari, karena terlalu mepet dengan wisuda, sementara pengurusan dan pendaftaran wisuda terkenal sangat ribet dan begitu banyak tetek bengek. Semangat kemudian datang lagi.
Kalo kamu masih ingat, awal November itu ada letusan merapi yang begitu dahsyat. Tepatnya tanggal 5 November. Saat itu, aku dan adik sudah diwanti-wanti oleh orangtua untuk pulang ke Bengkulu. Mereka khawatir dan baru bisa merasa tenang kalo kami keluar dari Jogja. Beberapa hari pertama di kampung halaman aku masih konsisten dengan tanggung jawabku dalam memenuhi target skripsi. Tapi lama-kelamaan aku mulai goyah. Jalan dengan teman SMA, membantu tanteku mengolah bahan disertasinya, sampai ke abang yang datang berkunjung ke rumah (ga nyalahin abang kooog, ini salahku sendiri. Ga boleh marah yaaa. Hehe… ). Akhirnya skripsiku terlupakan. Kembali ke Jogja, sudah akhir November. Aku pasrah. Aku sempat nangis karena takut nggak bisa memenuhi targetku yang sebenarnya sudah mundur. Wisuda Februari itu plan B, bukan plan A lagi. Masa plan B pun gagal, dan harus beralih ke plan C? Orangtuaku sempat bilang, “kalo nggak bisa Februari ya nggak apa-apa, daripada kamu stress sendiri. Nggak usah dipaksakan.” Begitu kata mereka. Aku ingat waktu itu pernah nelepon Ayah dan nangis sampai sesenggukan cuma karena berselisih jalan dengan dosen pembimbing yang sudah kutunggu-tunggu dan gagal bertemu. Segitu galaunya aku sampe masalah kecil pun bisa bikin aku nangis-nangis.
Karena orangtuaku sudah tidak menaruh pressure lagi, sampai awal Desember pun aku masih agak santai. Aaah, cinta betul sama Ayah dan Ibu. Tapi teman-teman seperjuanganku di kampus yang juga sama-sama ber-skripsi dan menargetkan Februari bilang bahwa aku masih punya kesempatan. Aku akhirnya semangat lagi, dan benar-benar fokus mengerjakan skripsi dengan harapan bisa dapat ACC dan daftar sidang pada bulan Desember, agar bisa sidang pada Januari 2011. Alhamdulillah, dosen pembimbingku sama sekali tidak mempersulit. Cuma dua kali konsultasi, beliau bersedia memberikan ACC. Ga terbayangkan betapa bersyukurnya aku waktu itu. Pada saat itu aku berpikir, andaikan ada halangan yang terjadi sampai aku nggak bisa wisuda pada bulan Februari, paling nggak aku sudah sidang bulan Januari. Itu adalah satu beban besar yang segera akan terlepas dari bahuku. Masalah wisuda, itu cuma sekedar seremoni aja, yang penting itu sidangnya.
Resmi tanggal 29 Desember 2010, aku mendaftar sidang untuk bulan Januari 2011. Seminggu kemudian, jadwal keluar. Giliran sidangku adalah tanggal 10 Januari 2010. Aku langsung deg-degan, nggak nafsu makan, ga bisa tidur… Sekali lagi, Alhamdulillah, begitu banyak dukungan yang aku dapatkan. Baik dari yang dekat maupun yang jauh. Di hari H, meskipun sempat terjadi beberapa kesulitan, seperti misunderstanding informasi, jadwal yang diundur, sampai ke presentasi sidang yang harus aku lakukan dua kali, semuanya berakhir dengan lancar. Perjuanganku mengerjakan skripsiku selama hampir 1 tahun berakhir secara tidak resmi pada hari itu. Memang masih ada revisi sana-sini sih, tapi secara de facto aku sudah jadi SIP. Namaku Karina Utami Dewi, SIP. Horeee!!
Aah, sudah sidang pendadaran, skripsi sudah diuji, lalu apa? Yak, wisuda. Harusnya ini merupakan momen membahagiakan, yang tak terlupakan, dan mungkin salah satu hal penting dalam hidup kita kan ya? Tapi nggak begitu dengan urusan pendaftarannya. Argh, bikin gondok setengah mati. Sejak selesai sidang itu aku sudah berkali-kali bolak-balik bagian akademik fakultas untuk cari tahu syarat-syarat pendaftaran wisuda. Tapi berkali-kali pula dijawab dengan, “blangkonya belum ada, mbak. Mungkin nanti tanggal 20.” Yasudah, aku tunggu. Dan ternyata memang tanggal segitu keluarnya. Blangko apakah itu sodara-sodara? Itu merupakan selembar kertas berisikan daftar hal-hal yang harus dilakukan oleh mahasiswa yang mau mendaftar wisuda. Salah satunya syarat tersebut adalah bebas pustaka/bebas pinjaman dari berbagai tempat. Antara lain perpustakaan jurusan HI, bagian keuangan dan kepegawaian Fisipol, perpustakaan Fisipol, perpustakaan pusat UGM, dan perpusda wilayah Yogyakarta. Yak, PERPUSDA WILAYAH YOGYAKARTA YANG AKU BAHKAN GA TAU LETAKNYA DI MANA. BORO-BORO MAU MINJEM BUKU DI SANA, LETAKNYA AJA AKU GA TAU DI MANA!
Oke, jadilah aku diwajibkan berkeliling ke tempat-tempat itu untuk minta cap dan tanda tangan petugasnya sebagai bukti bahwa aku sudah bebas dari pinjaman apapun. Tapi bukan itu saja yang aku gondok. Kalo sekedar bolak-balik ke berbagai tempat itu, okelah, nggak apa-apa. Sebagian besar memang masih dalam kompleks UGM. Kecuali Perpusda Yogyakarta yang letaknya di daerah dekat-dekat Bumijo sana. Nggak tau Bumijo? Yah, pokoknya lumayan jauh deh dari UGM! Oke, kalo itu mungkin masih bisa ditolerir, karena aku juga ke sana naik motor. Ga jalan kaki atau ngebis. Nah, tapi di tempat-tempat di mana aku harus meminta cap dan tanda tangan itu begitu banyak syaratnya yang harus dipenuhi.
Inilah syarat-syaratnya saudara-saudara: Di perpustakaan jurusan HI meminta satu sumbangan buku, trus minta softfile PDF skripsi yang di-copy ke CD dan disimpan dalam kotak yang bagus (ga mau yang plastik tipis, harus kotak yang bagus macam CD-CD yang dijual di disc tarra), pas foto, dan materai. Di perpustakaan Fisipol cuma minta softfile PDF dalam CD juga. Kotaknya ga harus bagus sih. Tapi PDF-nya harus dikasih bookmark gitu. Ntah apa itu. Dan punyaku ga ada bookmark-nya. Akhirnya dibilang sama mas petugasnya, kalau mau dibikinin bookmark di perpus bisa, tapi ada biayanya, Rp 5000. Dan plus administrasi untuk ngurus bebas pustakanya juga Rp 5000. Jadi aku kena Rp 10.000 di sana. Lalu ke perpustakaan pusat UGM. Di sana cuma isi formulir doang. Urusannya ga lama, paling sekitar 10 menit. Tapi waktu tanda tangan dan capnya sudah, si bapak petugas menyerahkan kertas sambil bilang, “lima belas mbak.” aku pun bertanya, “lima belas apa pak?” terus bapaknya bilang, “lima belas ribu.” Olala, ternyata aku disuruh mbayar toh. Sambil bete-bete gitu aku ngambil dompet dan nanya, “lima belas ribu buat apa sih Pak?” dalam hati menambahkan, masa kertas bukti bebas pustaka selembar gini doang harganya lima belas ribu? Lima ratus perak aja ga nyampe kali. Tapi bapaknya cuma menjawab sambil menunduk dan menghindari pandangan saya, dan bilang “ya buat administrasinya itu.” lalu aku berikanlah Rp 15.000 itu. Sudah berapa kenanya tadi? Rp 25.000 ya? Tapi itu belum termasuk beli CD dan kotaknya, beli buku, nge-burn, nge-print, cetak foto, dan beli materai lho ya. Itu semua ga tau aku berapa jumlahnya. Terlalu menyebalkan buat dihitung.
Lalu aku ke perpusda Yogyakarta. Waktu itu aku bareng sama temanku, Andrew namanya. Si Andrew ini asli Jogja jadi tau di mana letaknya. Di sana juga ga banyak sih syaratnya. Cuma isi formulir, tunjukkan KTM, lalu bayar Rp 1000 untuk biaya administrasinya. Ya paling korban bensin karena letaknya yang agak jauh. Dan yang agak konyol menurutku adalah bahwa kita disuruh tunjukkin bukti bebas pustaka dari sebuah perpustakaan di mana kita ga pernah jadi anggotanya atau pun meminjam buku dari sana. Bahkan tau letaknya aja nggak. Dan kalo pun kita pengen minjem buku di sana setelah kita ga jadi mahasiswa lagi emang ga boleh? Konyol kan? Konyol banget.
Oke, tempat berikutnya adalah bagian keuangan dong. Nah bagian keuangan ini juga ga macem-macem syaratnya. Hanya satu saja, tunjukkan bukti pembayaran pendaftaran wisuda. Tapi tahukah sodara-sodara sekalian, berapa biaya pendaftaran yang dikenakan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik kepada setiap mahasiswa yang mau ikut wisuda? Biayanya adalah Rp 475.000, sodara-sodara! Hampir setengah juta jumlahnya. Rinciannya? Ah macam-macam deh. Sewa toga lah, konsumsi lah, majalah entah apa, kenang-kenangan dari Fisipol (kenang-kenangan namanya tapi kita harus beli sendiri), kartu alumni, dan macam-macam lagi. Too painful for me to go through the detail of the list. Jadi, intinya itu mahal! Mahal sekali!
Lebih menyakitkan lagi ketika tahu bahwa ternyata setiap fakultas itu beda-beda. Ista, temen kosku, mahasiswa D3 Ekonomi UGM dan juga wisuda pada bulan Februari, hanya membayar sekitar tiga ratus ribuan ke fakultasnya. Bulan Agustus lalu, waktu si abang wisuda, aku ingat dia hanya bayar sekitar dua ratus ribuan. Itu memang masih mahal, tapi kan nggak mendekati setengah juta jugaa??? Jadi aku gondok. Gondok dan kesal. Oh, dan bukan itu saja. Jadi begini, setelah membaca apa yang aku tulis, semuanya setuju dong ya itu bukan syarat yang gampang untuk dipenuhi. Maksudnya, butuh banyak waktu karena harus ke sana kemari, belum lagi syarat-syarat yang harus dipenuhi, belum lagi birokrasinya. Plus, setelah membayar hampir setengah juta itu itu masih harus log in lagi ke website UGM untuk daftar wisudanya, lalu harus ngeprint bermacam-macam form, dan harus cetak pas foto hitam putih dan berwarna. Bagi yang belum punya, repotnya nambah berarti. Harus bikin pasfoto dulu. Ribet pokoknya.
Nah blangko yang harus dicap dan di tanda tangani itu kan baru keluar tanggal 20 ya? Dan tanggal 20 itu adalah hari Kamis. Lalu waktu aku tanya mas-mas di front office akademik kapan paling lambat, masa dia bilang tanggal 24?? Iya, tanggal 24 Januari 2011!! Yang itu berarti hari Senin. Sementara Sabtu dan Minggu kan segala macam kantor, perpustakaan, dan kampus libur!! Gemes kan?! Singkat banget waktunya. Lalu aku sampaikan kepada masnya itu, “masa hari Senin sih mas? Hari Selasa boleh lah ya? Singkat banget waktunya ini. Saya udah bolak-balik ke sini dari minggu lalu blangkonya ini ga keluar. Giliran keluar, baru hari Kamis masa Senin sudah harus dipenuhi?”, lalu masnya bilang, “iya nih, ga tau nih akademik,” waktu denger gitu rasanya aku pengen joget-joget sambil koprol dan makan rumput. Ih, kurang banget sih koordinasinya?! Ga ada omong-omongan emang ya? Tiap hari ketemu gitu di ruangan ga cerita gitu ya, “eh pak, itu lho dari kemaren mahasiswa sudah pada nanyain syarat wisuda, mbok cepetan itu blangkonya dikeluarkan.” Kalo pun emang pengen keluarnya lambat, ya deadline-nya juga jangan sesuka hati gitu dong ah. Ga asik banget deh ah!
Dan masih masalah koordinasi dan deadline ya, bener-bener aneh deh. Kan kalo di bagian front office bilangnya paling lambat daftar tanggal 24 Januari 2011. Tapi waktu dapat kertas yang isinya password dan username untuk log in daftar wisuda, katanya paling lambat log in dilakukan pada tanggal 26 Januari 2011. Yang lebih yahud lagi, deadline dari Jurusan HI. Syarat-syarat untuk mengumpulkan buku, pasfoto, materai, dan PDF skripsi itu paling lambat dikumpulkan pada tanggal 28 Januari 2011. Gini yah, kantor jurusan HI sama front office Fakultas itu jaraknya bahkan ga sampe 20 langkah lho. Ngesot juga belum lecet udah keburu sampe. Masa untuk menyesuaikan deadline aja mereka ga bisa sih? Campur aduk perasaanku. Pengen ketawa iya, pengen ngamuk iya, pengen nangis juga iya. Sedih aja, segitu gedenya kita bayar, untuk mendapatkan profesionalitas yang sangat sederhana aja kita ga bisa.
Melihat persyaratan yang segitu ribet dan njelimetnya itu, aku malah tertantang buat menyelesaikan dalam satu hari. Waktu itu hari Kamis, tanggal 20 Februari 2011, pukul 10 pagi, adalah waktu di mana aku mendapatkan blangko itu. Di hari yang sama, pukul 2 siang, aku sudah berhasil menyelesaikan semuanya. Yep, mendapatkan cap dan tanda tangan dari 5 tempat, termasuk perpusda yang letaknya di ujung dunia (lebay). Antri di bank untuk bayar wisuda. Ke bagian akademik untuk minta username dan password. Lalu log in lewat komputer di kos, ngisi form. Ngeprint form. Lalu cetak foto. Beli materai. Lalu kembali ke kampus untuk mengumpulkan semuanya. Masih sempat-sempatnya menempelkan fotoku di berbagai form yang jumlahnya entah seberapa banyak itu. Ya, semuanya aku selesaikan dalam waktu yang sesingkat itu saja. Kenapa? Karena aku males khawatir lama-lama. Ga tenang kalo urusan itu belum selesai. Aku juga males gondok lama-lama. Jadi deadline yang pendek itu malah jadi tantangan buatku. Buktinya, Alhamdulillah aku bisa menyelesaikan semuanya dalam waktu sekitar 4 jam saja. Dan aku ga lupa makan siang lho itu. Hehehe…
Dan memang terbukti, setelah itu semua selesai, kekesalanku mereda. Dan sesungguhnya aku merasa tenang dan senang juga. Kebetulan hari itu nilai skripsiku juga keluar. A- nilainya. Ya memang bukan A yang sempurna, tapi tetap A. Padahal waktu itu aku sudah yakin bakal dapet B. Tapi Allah itu memang Maha Baik. Aku pun tinggal menyongsong wisuda yang insya Allah sebulan lagi, dan lulus dengan nilai skripsi yang menyenangkan dan IPK yang sama sekali tidak mengecewakan. Semoga ke depannya juga bisa mendapatkan pekerjaan dan kehidupan yang lebih baik. Asal mau berdoa dan berusaha, tidak ada yang tidak mungkin kan?

Hasil akhirnya, hanya 77 halaman saja, termasuk halaman judul, daftar isi, dll. Tapi lumayanlah buat anak HI yang minimal skripsinya 40 halaman saja.
Aduh, maaf ya tulisan ini panjangnya nggak ketulungan, dan aku pake ngomel-ngomel pula. Tapi sungguh aku nggak nyangka, perjalananku selama 4 tahun lebih di UGM ternyata bisa kutuliskan dalam satu postingan ini saja. Sesungguhnya ada 5 buah buku diary yang mencatat kehidupanku sehari-hari, tapi biar itu jadi konsumsiku sendiri saja. Nggak kerasa sebentar lagi aku sudah bukan mahasiswa S1 HI UGM lagi. Huwaaa… Excited to see what will happen in the future!! \(^o^)/
selamat ya kk sudah lulus.
btw link sudah nempel di blog ane.
makasiiih ucapan selamatnya.
makasih jugaaa link-nya.
semoga sukses dgn nilai sempurna ya, amin…
Ngomongin deadline mah saya udah biasa …maklum kerja di dunia penerbitan.
Aaamiiin. Makasih doanya kang.
huaa, aku juga sebenarnya sering dikejar2 deadline sejak dari awal kuliah, tapi tetep aja stres kalo udah mepet. hehe…
hahahahaha
kayaknya tulisannya yg banyak mewakili perasaan yg membuncah..
pernah merasakan saat seperti itu juga. rasa2nya sudah siap menaklukkan dunia. hehehehe.
hmm,, berarti sudah melalui yudisium juga ya? khan itungan memperoleh gelar s-1 itu setelah yudisium terakhir sehingga akan muncul nilai IPK terakhirnya. baru kemudian dipestakan di Widusa.
klo ibarat nikah, yudisium akadnya, wisuda resepsinya…
oke, intinya. selamat..
barakallah.
sekarang langkah selanjutnya apa?
kerja? pulang bengkulu? or nikah dg si ‘dia’?
makan2nya bs dikirim k jkt g nih? atau minimal ke solo deh..
oiya lupa Rin…
klo boleh, kpn2 dipostingin abstrak dan atau simpulan nnya ya?
sy tertarik dg Judul skripsimu
Public Diplomacy Indonesia dalam menyikapi travel warning Australia
Yudisium itu melengkapi syarat-syarat sebelum wisuda kan ya? Kalo iya, berarti alhamdulillah sudah.
Dan memang ini tulisan curhat abis-abisan hehehe… Aku justru takjub ada yang betah baca. Panjangnya minta ampun.
Langkah selanjutnya pengen kerja atau S2. Hehe, doakan aja mas. Makan2nya nanti ya difoto terus dipos di blog. Cukup mata aja yang kenyang ya? hehe… becanda.
Insya Allah nanti abstract sama kesimpulannya aku masukkan blog ya. Ditunggu aja.
yudisium tuh penerbitan transkrip itu lho.
biasanya nanti bbrp org diundang dlm satu waktu (satu fakultas) lalu dinyatakan berhak menyandang gelar sarjana oleh dekan atau perwakilannya. Biasanya diumumkan sekaligus dg nilai IPK nya satu per satu.
Nah, tanggal yudisium itulah yg dipakai sebagai dasar kelulusan di Ijazah (klo g transkrip).
Busyet, masih mau S-2?? hmmm,,, S-2 aja klo ada kesempatan.
jd dosen ya?
ok ditunggu..
_____
btw, Bengkulu kemarin gempa (dr metro tv)
yudisium di UGM ga gitu tuh… T___T dinyatakan sudah sarjana itu ya setelah selesai sidang. hehe…
Itu juga belum pasti kog S2-nya. Kalo ada rejeki dan kesempatan, yaa Insya Allah.
Iya Bengkulu gempa, Alhamdulillah keluarga ga apa-apa. Hehe…
ow….
beda brati…
bagusan kampusku.. :p
wkwkwkwwkwk
gempa kok malah hehehe lho :-s
UGM ki emang aneh kog. haha…
Iya gempa hehe karna ga ada korban jiwa. Kalo parah baru huhuhu…
Sip! S2 dong!
Haha, doain ajah.
semoga tambah succes ya sobat……….sll semangaaaaaaatttt
salam persahabatan dr menone
Ammiiiin. Terima kasih yaa.
Salam persahabatan juga dariku.:)
Setelah 4 tahun yang sangat melelahkan sekarang tibalah saatnya untuk survived dalam dunia yang sesungguhnya. Tapi dengan nilai A dan IPK yang tidak mengecewakan sepertinya akan gampang mencari posisi di dunia kerja. Semoga sukses Karina
Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan
excited dan takut juga menghadapi dunia yang sesungguhnya. Ah, aamiiin untuk “sepertinya”. Semoga, semoga…
phiuf,,
akhirnyaaa ya mba kaaaaar
semua beres,,selamaaat selamaaaat, haha, waku dapet cerita hot from di oven kmrn, seru banget perjalanan one day ribetnya, hihi, salut tapi mondar-mandir dalam sehari, beres, hihi
phiuf,,
akhirnyaaa ya mba kaaaaar
semua beres,,selamaaat selamaaaat, haha, waktu dapet cerita hot from di oven kmrn, seru banget perjalanan one day ribetnya, hihi, salut,walaupun musti mondar-mandir dalam sehari, tapi beres, hihi
yesss itu hari ketika aku merasa menjadi super woman. haha… tapi pengalaman tak terlupakan tu ta, dan jadi pelajaran juga.
wah selamat anda tidak termasuk komonitas MA
[mahasiswa abadi] xixix… yah cerintanya jogjaaaaaaa… jdi kangen dari thn 2004 sampe 2009 saya dijogja hehe tapi saya gk berhasil karena gk bawa selembar kertas tanda bukti karena katanya itu sangat penting untuk sekarang ini tanpa itu katanya sulit cari kerja
tapi saya bangga pernah tinggal dijogja karena banyak hal yang saya dapat disana
jdi curhat gw hehe…
alhdlh gw skrng bisa menggeluti dunia pertanian n industri kecil2an meskipun tanpa ijasah sarjana pertanian
sekali lagi selamat yah
karena perjuangan anda belum selesai hehe… jadi tetap semangat n pantrang mundur,.. karena tidak ada masa depan tanpa masa lalu tapi jangan terbuai dengan yang sudah lalu biarlah berlalu
hep ah.
waah pernah tinggal di Jogja juga yah? Hehe, iya perjuangan masih panjang. Semoga kita semua bisa sukses. Aaamiiin…
~karina … uneg-uneg mu panjang sangat …
akhirnya saya ucapkan ‘selamat n pintu diplomat menanti-mu!
Ooo ya ..selamat menenpuh dunia baru dgn bekal ‘sarjana …
tentu kwalitasmu kini beda … namun terkadang dunia nyata tdk sesuai dgn ‘teori kul, sering berlawanan … hikss
waah makasih bang… hehe, jadi diplomat ga yaaa?
yah meskipun dunia nyata ga selalu sama dengan waktu di kuliah, mudah2an semua ilmu yang didapat ga akan pernah sia2. Aamiin..
Semoga sukses selalu. salam dari pekalongan
terima kasih. salam balik dari Jogja.
Selamat jadi sarjana, Rin.
Selamat datang di dunia nyata, amb baru kenal dunia pas lulus s1, lemak kek dak lemakny lain kek jaman kuliah.
tenkyu Din. Enak dak enak, life goes on. Yo dak?
SELAMAT ya semoga sukses selalu… perjalanan masih panjang….
makasiiih. Sukses selalu juga untukmu.
Duh.. emang panjang kali ya ceritanya.
Jujur, gak bisa menamatkan ceritanya sekarang
Tapi saya jg gak mau ngomelin
Tapi, selamat deh. Tahniah, sukses…
Numpang ngelink juga
haha ga papa, aku juga ga yakin banyak yang mau baca dari awal sampe akhir.
Tenkyu ucapannya. Yuk link-nya ntar kupasang juga. Thanks kunjungannya.
wah… selamat ya ka…
aku baru aja mulai nih. hehehe semoga rampung D3 ku 2 tahun lagi
makasiiiih. waaah, ayo smangat yaa! semoga rampung dengan nilai yang memuaskan dan berlanjut ke yang lebih sukses lag!
iya mba kariiin,,and i am so honor to be in your lembar persembahan, seneng tiada taraaaa
hihihi
Alhamdulillah, hehe… That’s the least I can do, darling. Write your name in that page.
wahhh, senangnyaaa..
Selamat dan sukses ya!
salam kenal karina..
saya masih harus berjuang T.T
Aamiiin. Makasih yaa… Terus berjuang dengan semangat!
Btw, salam kenal juga. Aku manggilnya apa nih?
Oiyah, kog link blog-nya ga ada ya… ga bisa kunjungin balik dong. T__T
congrats ya kak
salut deh sma perjuangan kaka ngelarin wisudanya
gak putus asa dan tetep semangat
saluuut
Makasiiiih.
Tetap semangat untukmu juga.
Membaca tulisan ini, larut aku di dalamnya, rasanya pas banget di hati saat dulu juga menghadapi hal itu, tapi segalanya telah dijalani dengan baik, tinggal untuk melanjutkan tahap dehap masa depan yang semoga sukses ya… Salam kenal…
wuaw tersanjung banget kalo sampe bisa bikin orang terlarut dalam tulisanku! *GR* *hidungkembangkempis*
Terimakasih juga doanya. Semoga sukses juga yaah! Salam kenal.
hehe… selamat, selamat wisuda, selamat telah berhasil mengarungi belantara labirin birokrasi UGM. kalau cuma sekedar lulus trus terima ijasah, gak ada asyiknya, memang musti berputar-putar dulu.
huaaaah. Seru sih, tapi bikin gondok. Hahahah…
Terima kasih ucapan selamatnya. Seremonial yang sesungguhnya masih Februari sih, but still, terima kasih.
Dan benar-benar pengalaman begitu “berharga” berkutat di dalam labirin birokrasi UGM. Hehe…
selamat ya ka..
semoga kedepanya bisa sukses..
ammiinn..
Makasiiih. Aaamiin untuk doanya.
Selamat udah lulus
Udah lega nih pasti
Makasih, alhamdulillah udah lega. Sedikit tapi. hehe…
masih deg-degan menunggu apa yang akan terjadi setelah ini.
ada temanku bilang, kuliah itu ga penting, yang penting ilmunya. kalau ilmunya kita punya dan kuasai, kuliah cuma untuk bukti tertulis aja.
Yep temenmu ga salah. Kuliah itu cuma jadi bukti bahwa kita udah nimba ilmu tertentu selama sekian tahun. Sedihnya kalo kerjanya nanti ternyata melenceng dari apa yang dipelajari selama kuliah. T__T
wah bener-bener panjang banget postingannya…
seneng juga dengernya, setelah sukses dalam kuliah..
setelah itu masih banyak tantangan lagi..
tetep semangat..
hehe iya, ini kayanya postingan terpanjang selama sejarah aku ngeblog deh.
Yep, semoga semangat ga pernah kendor! Selalu semangat buat kita semua deh pokoknya! hehe…
selamat ya…
akhirnya kelar juga
skripsi nampaknya harus penuh perjuangan
saya juga lagi dalam perjuangan dengan skripsi
jadi punya ide nih ntar bikin posting khusus skripsi…hehe
iya alhamdulillah kelar.
Semangat teruss skripsinya, semoga segera selesai!
Boleh juga tuh, nulis postingan tentang skripsi waktu lagi jenuh nulis skripsinya. Hehe, karena itu yang aku lakukan.
Selamat yah……..
AKhirnya……
Perjuangan itu menghasilkan
Thank you.
Alhamdulillah, hasilnya pun menyenangkan.
ternyata ada skripsi yang lebih tipis dari skripsi saya..hehehe
rata-rata skripsi di HI emang cuma 40-50 halaman bro.
ternyata lebih ribet urus wisuda daripada skripsi dan sidang
beuh, banget! kirain setelah sidang bisa tenang, eh ternyata malah lebih ribet. Hehe…
hai future
!
emang kalau mau sekripsi kaya gitu,,,,,dulu ak juga di bikin pusing ama yang namanya sekripsi,,,,capek badan,dukit dan capek semuanya deh,,,,,,,,salam kenaal ya non,,,,,,moga aja dapet nilai bagus,,,,,oh iya,,,tukeran link sekalian, link kamu dah terpasang,,,
akhirnya……….
selamat ya, karina..
btw, ane garap skripsi juga setahun
salam kenal aja dr aq
wah selamat yah,
*jadi teringat perjuangan skripsi tahun lalu*
aku lumayan beruntung bisa wisuda bulan November (yang rencananya pingin bulan Juli)..
aku sebenarnya gak terlalu tertarik dengan wisudanya (bahkan sempat gak mau ikut)
etapi pas wisuda ternyata seru juga.
Mudah2an ntar acaranya lancar ya
syarat kelulusannya ribet bgt -.-’
tp selamat yah, udah lulus s1! yihaaaaaa!
udah jadi sarjana deh, mbak
Baru tau kalau di UGM Ilmu HI itu SIP .. kalau ngga salah klo di UI dia masuk S.Sos (CMIIW)
wew,, mau wisuda aja kok repot n mahal gitu yaa…?? tapi pasti gk kerasa klo dijalani dengan ikhlas.. hehe…
Congrats ya udah Sarjana,, btw, HI YGM ya? kenal mas eldhianto yg debater itu dung..? hoho..
wah,selamat udah kelar..
ngerasain juga kok dikejar2 skripsi, bikin “waras”
tukeran link yuk..
btw, anak bengkulu juga ya?
salam kenal
Finally, gak terasa dak dek, sudah lulus saja dirimu. I’m happy for you sista!
Good luck dan sukses selalu, aamiin.
Pingback: Dapat Award Lagi Dari Narablog! « Hidup Itu Harus Dinikmati…
selamat ya kak!
dan semoga sukses kedepannya. baca ini bikin saya semangat untuk lebih baik semester depan. pingin cepet-cepet luluuuus :3
Pingback: Award Pertemanan Antar Narablog « “sometimes words are much sharper than swords”
kisamu bagus banget. kaka org yg punya semangat untuk berusaha keras demi masa depan tanpa mengenal lelah. semoga mendapat pekerjaan yg tidak mengecewakan.
Hi mbak karin, just found you on web..selamat ya mbak atas wisudanya…I hope the future ahead would be all upturn… you totally deserve it
selamatt selamaatt! sebagai sesama mantan mahasiswa (huhuhuhu leganya), saya bisa ngerasain kok stressnya deadline itu! hahhahaha! tapi bersyukur banget ya, setahun kelar..saya cuma mikir judul aja setahun
#ngelesss!# dan sungguh terharu andai di kampus saya juga boleh ngerjain dengan hasil minimal 40lbr
#ngiribangetdotcom#
kisah yang ga jauh beda nih, http://elgaayudi.wordpress.com/2011/02/24/jilid-kilat-listrik-gawat-dan-jadwal-ketat/
Salam Kenaaal
Whoaaaaaaa ribet ya..
Aku alumni fakultas tetangga sebelah lho…. IE FEB.
Dulu, agak ribet pas ngurus bukti pembayaran spp dr keuangan gedung pusat. Sempet dituduh gak bayar spp segala. Untung aja bs diselesaikan. Tapi, segala tetek bengek keribetan itu langsung tak terasa saat mengenakan toga. Yang tersisa cuma lega… betul nggak?
kalo aku gitu sih…