Jogja baru saja diguyur hujan. Tanah masih basah, dan aku masih sedikit ngantuk karena baru bangun tidur siang. Terima kasih untuk obat resep dokter yang membuatku tidur seperti pingsan selama beberapa jam. Selesai menunaikan shalat Ashar, aku mondar-mandir sendirian di kamar. Ingin bergosip ria dengan Andin, tapi yang bersangkutan malah asik mandi, persiapan nge-date dengan kekasih tercintanya. Aku pun melirik jam dinding, hmm… 10 menit menuju pukul 5. Enaknya ngapain?
Awalnya tergoda ingin membuka laptop dan berkelana di dunia maya, atau mungkin lebih tepatnya, berkelana di facebook. Tapi juga terpikir ingin mandi. Tapi kemudian pandanganku tidak sengaja tertumbuk pada sebuah kunci di atas containerku. Kunci yang sudah lama tidak disentuh. Kunci apakah itu??? Jeng jeng jeng… Itu adalah kunci gembok Sima Cakrawala, sepeda polygon biruku yang berkeranjang dan berboncengan. Baiklah, pikirku. Ayo kita sepedaan bentar! Sudah lama tidak berolahraga, dan kebetulan kondisi fisik sedang tidak enak. Sedikit berkeringat mungkin akan membuat tubuh lebih segar.
Aku ambil kunci itu, lalu kupakai jaket tipis hasil ngerampok Deza. Sempat terpikir untuk mengantongi beberapa uang seribu yang tergeletak di dekat TV. Tapi aku gagalkan rencana itu, karena menurutku aku tidak akan butuh uang kalo cuma ingin sepedaan sekitar 30 menitan saja. Instead, kukantongi salah satu ponselku, dan meninggalkan yang satunya, kemudian beranjak dengan riang keluar dari kosan sambil mengayuh sepeda.
15 menit pertama semua masih aman terkendali. Sambil sesekali membalas sms yang masuk, aku bersepeda keliling kompleks pogung dengan tanpa prasangka buruk apa pun. Sempat lewat kosan adekku, yang tampak kosong. Lewat kosan lamaku juga, yang terletak di Gang Pandega Siwi. Cuacanya segar karena habis hujan, dan perasaan hati ini ringan sekali rasanya. Maunya sih merentangkan kedua tangan dan berlagak seperti Leonardo DiCaprio di film Titanic yang teriak “I am the king of the world!”, tapi aku nggak bisa naik sepeda lepas dua tangan. Jadi aku nyengir-nyengir aja sendiri. Yang ngeliat mungkin berpikir aku gila. Entahlah.
Aku sudah dalam perjalanan akan kembali ke kosan karena hari mulai gelap. Takut hujan juga. Kemudian ada sms masuk, lalu aku rogoh ponsel di dalam kantong dan sibuk membalas dengan satu tangan sementara tangan yang lain masih memegang stang sepeda. Tapi karena mataku tertuju ke layar ponsel, aku pun tidak memperhatikan jalanan di depanku. Ternyata ada celah yang membuat ban depan sepedaku terjebak masuk, dan tiba-tiba… “wuuussssss”, terdengar suara angin yang keluar dengan bahagianya dari dalam ban. Maaaak, ban sepeda aye bocoooor!
Sial sial sial. Aku rogoh-rogoh kantong untuk memastikan bahwa aku memang betul-betul nggak bawa duit. Dan memang iya, nggak ada sepeser pun duit di kantong celana putihku. Nggak bakal nangis pokoknya! Aku malah ketawa bego, ngerasa sangat tolol karena bisa-bisanya nggak bawa duit. Sok yakin! Takabur! Pengen ngamuk-ngamuk juga sama siapa. Sama lubang di jalan? Semenit otakku sempet ga bisa mikir, tapi akhirnya akal sehat kembali mengambil kendali. Sebelum aku guling-guling di tanah dan diliat-liatin orang karena dikirain gila, buru-buru aku ambil ponsel di kantong, menatapnya dengan penuh cinta, “Alhamdulillah, untung aku bawa kamu sayaang!”
Di tengah kekalutan itu, sempet-sempetnya ada orang yang nanya alamat. Mana dia ngomongnya nggak jelas lagi. Mana gang tempat aku mengalami musibah itu sepi pula. Tapi aku berusaha berpikir positif. Setelah beberapa menit menjelaskan tepatnya di mana alamat yang ditanyakan orang itu, beliau pun berlalu dengan wajah sumringah. Sekali lagi, “Alhamdulillah, tetap bisa membantu orang lain meski diri sendiri sedang dalam kesulitan!”
Akhirnya aku telusuri nama-nama di phone book-ku. Andin adalah orang pertama yang aku telepon karena dia adalah orang terakhir yang aku temui sebelum aku memulai petualangan bersama Sima di sore hari nan cerah itu. Aku telepon ke dua-dua nomornya, tapi nggak ada yang diangkat. Sasaran berikutnya adalah Deza, adik kandung yang harusnya selalu siap membantu. Tapi nggak diangkat juga. Akhirnya kutelepon ke nomor pacarnya, Diva. Karena mungkin mereka sedang berdua. Eh, sama Diva malah di-reject. Hampir saja aku misuh-misuh ketika ternyata si Diva-nya menelepon balik. Secercah harapan muncul. Ternyata Diva memang sedang bersama Deza. Tapi sialnya, mereka berdua sedang di Amplaz! Yang jaraknya kurang lebih 15 menit dari tempat aku sekarang *itu pun kalo ga pake macet*. Yasudah. Aku coba telepon Ista, karena mungkin dia sedang dalam perjalanan dari kampus ke kos. Tapi Ista nggak angkat juga.
Aku coba telepon Andin lagi, dan diangkat! Alhamdulillah, seruku dalam hati. Tapi ternyata harapan itu pupus lagi, karena rupanya Andin sedang dalam perjalanan makan, dan tempatnya cukup jauh juga dari aku. Dia sih sudah nawarin untuk balik lagi supaya bisa minjemin aku duit. Tapi aku ga enak. Aku malah ketawa-ketawa, karena ngerasa tolol. Si Andin malah sempet ga percaya waktu aku mengemukakan kondisiku. Setelah menolak tawaran Andin, aku memutuskan untuk jalan kaki aja ke kos. Toh ga terlalu jauh (meskipun waktu itu tubuh sudah agak lemes, karena kan aku memang agak kurang sehat)
Sebenarnya masih ada satu nama lagi yang kupikir bisa membantuku untuk keluar dari kesulitan ini. Tapi sudah kucoba telepon dan dia nggak angkat. Ternyata dia sms, “tadi nelepon ya?”, dan aku emang lagi bales-balesan sms sama dia. Aku mikir lagi, telepon lagi nggak ya? Saat lagi mikir, eh di depanku ada bengkel. Hmm… Baiklah. This is the time to make a decision!
Aku parkir sepeda di depan bengkel, dan langsung masuk nemuin mas-masnya.
“Mas, ban sepedaku bocor, bisa dibenerin?”
“Bisa Mbak!”
“Berapa, Mas?”
“15 menit sih, Mbak, emang agak lama!”
“maksudnya harganya berapa, Mas?” (padahal nggak ngefek juga nanya, orang nggak bawa duit sepeser pun)
“Ooh, tiga ribu Mbak!”
Terus aku ketawa mendengar jawaban Masnya itu, sambil garuk-garuk kepala. Pikiranku langsung melayang ke tumpukan duit seribu di kamar yang tadi kuyakini tidak akan kubutuhkan. Andai saja tadi kukantongi tiga lembar diantaranya… Sudah, sudah! Jangan berandai-andai. Masnya bingung waktu lihat aku ketawa.
“Kenapa Mbak?”
“Eheheheh…. Saya nggak bawa duit Mas…”
Gantian si Masnya yang ketawa. Asem.
Akhirnya aku rogoh lagi ponsel di kantong, dan kutelepon orang itu sekali lagi.
“Assalamualai….”
“Wa’alaikumsalam, baaang!!”
“Eeh, kenapa dek?”
“Hehehh… Huhu, abaang, bang, aku bodoh kali lah…”
“He? Kenapa?”
“Abang di mana?”
“Di rumah, kenapa sih?”
“Aku kan tadi lagi sepeda, hehe… ban sepedaku bocor, eheheheh, terus aku ga bawa duiiitt, buat nambel ban tiga ribuu… huhuuu…”
“Adek di mana sekarang?”
“Aku di bengkel yang deket martabak house, di pandega…”
“Oh, iya, iya, Abang tahu…”
“Yang itu bang, kalo dari Pogung Baru belok kanan…”
“Iya, iyaa… Abang ke sana…”
“Kalo dari ring road, yang lewat juragan futsal…”
“Iyaaa, Abang tahuuu. Abang ke sana sekarang!”
“Huhuuu, Abaang, aku ngerepotin…”
“Udaah, tunggu aja!”
Sekitar lima belas menit kemudian, datanglah beliau. Huaaa… menyelamatkan soreku yang tadi sempat suram. Tapi tetap saja aku merasa malu dan nyampah karena udah ngerepotin orang, yang rumahnya ga deket, cuma buat minjemin duit tiga ribu doang!
Dua omongannya yang diulang-ulang terus sampe aku bosen adalah:
“Makanya ke mana-mana tuh lain kali bawa duit!”, dan
“Untung bawa hape yang ada pulsanya!”
Bener sih dia jadi aku cuma bisa “iya, bang” berkali-kali sambil cengir-cengir kuda karena ngerasa bersalah dan udah ngerepotin orang. Well, at last soreku berakhir dengan tingkat kebetean yang rendah berkat pertolongan seorang abang-abang tukang bakso yang sudah dengan sangat baik hati datang dan menyelamatkanku. Hore! Setelah membayarkan tiga ribu rupiah kepada Mas penambal ban yang menerimanya dengan cekikikan (karena dia tahu si abang ada di sana gara-gara ulahku), kami pun pulang ke kos elite, menutup sore itu dengan kelegaan dan cerita bodoh yang sampe bertahun-tahun ke depan mungkin masih akan tetap kuingat.
Like this:
Be the first to like this post.