Archives

Jilbab Saya!!

Jadi kemaren itu aku mimpi aneh banget. Mimpinya terjadi pada saat aku lagi tidur siang beralaskan bed cover di lantai kamarnya si Andin. Ceritanya di mimpi itu aku dan si abang Rizza (yak, akhirnya namanya disebut) janjian nonton ke XXI dengan beberapa teman, aku lupa siapa aja. Ya termasuk si Andin dan Bayu, pacarnya, serta Mas Dani dan kayaknya sih juga ada Mas Wonosh. Aku agak lupa. Yang jelas geng anak-anak Geologi itu lah. Eh, bukan anak-anak ding, lebih tepatnya bapak-bapak. Nah, di jalan ke sana aku papasan sama beberapa anak HI angkatanku. Mereka lagi konvoi mau ke mana gitu. Sementara aku menuju arah lain karena sudah janjian sama yang di XXI. Ngerasa tambah aneh, kenapa anak-anak HI 2006 ada dalam mimpiku, dan kayak numpang lewat doang gitu. Hihi…

Sesampainya kita di XXI suasana tidak seperti biasa. Beberapa pintu ditutup jadi kita susah nyari jalan masuk. Pas udah masuk untuk nemuin Andin dkk., ternyata ada teroris di dalam bioskop. Sumpah, aneh banget! Terorisnya megang pistol gitu dan ada di dalam bioskop! IYA, bioskop tempat kita nonton itu. Sangat aneh deh pokoknya. Tapi ini kan mimpi? Tempat terjadinya hal-hal yang aneh.

Tapi tuuuh, yang paling aneh dari semuanya adalah bahwa pada saat itu saya lupa mengenakan jilbab saya, sodara-sodara! Iya, jadi waktu turun dari motor, aku tiba-tiba ngomong sama si abang, “Bang, aku lupa pake jilbab, gimana dong?”, tapi ngomongnya lempeng gitu. Nyantai, kayak nggak ada beban. Si abangnya juga ngebales “Oh yaudah, ga papa,” terus kita masuk ke dalam XXI dan nemu teroris itu. Aneh kan??? Ke mana jilbab saya???!

Waktu aku cerita ke abang, dia terheran-heran gitu. Apalagi waktu dia tahu bahwa karakternya di dalam mimpi itu bilang “ga papa”, dia malah sewot gitu. Katanya, “ga papa, ga papa! Enak aja!” Laaah, sewotnya sama diri sendiri dong? Kan situ yang dalam mimpi bilang “ga papa”.

Terus aku mikir lagi, aneh banget sih. Masa bisa lupa pake? Rasanya tuh kayak keluar rumah lupa pake celana. Masa sih aku jalan-jalan di kampus gitu ga pake celana. Aneh kaaaan? Dan kayaknya ga mungkin gitu, kecuali kalo aku jadi gila dan hilang ingatan. Lupa cara pake celana gimana, atau lupa naro celana di mana. Atau dalam kasus ini, celana kita ganti dengan jilbab.

Tapi setelah dipikir-pikir lagi, mungkin saja aku kualat. Soalnya sebelum tidur itu aku ngetawain seorang temen deketku (ga usah sebut namanya, ntar ngamuk, hehe), soalnya dia ke kos pacarnya nganter makan. Perginya pake jilbab, pas pulang jilbabnya udah ga ada lagi karena ketinggalan di kos si pacar! Eeh, tapi jangan mikir negatif dulu. Si teman ini emang gitu, kalo pergi yang deket-deket atau yang cuma sebentar dia kadang ga pake jilbabnya. Makanya waktu liat dia nongol depan pintu kamar dan ngadu kalo dia lupa jilbabnya, aku ngakak aja mati-matian. Lucu aja. Hehe… Tapi ga jadi lucu lagi kalo kejadiannya udah kayak di mimpi itu. Itu sudah aneh! Pertanda apakah itu? Perlukah aku mencari tafsiran dari mimpi itu?

Aah, bodo amat lah soal arti mimpi. Yang penting, Ya Allah, semoga setiap keluar rumah, atau kamar kos, aku ga pernah lupa pake jilbab atau celana. Aamiin…

Pada Suatu Sore…

Jogja baru saja diguyur hujan. Tanah masih basah, dan aku masih sedikit ngantuk karena baru bangun tidur siang. Terima kasih untuk obat resep dokter yang membuatku tidur seperti pingsan selama beberapa jam. Selesai menunaikan shalat Ashar, aku mondar-mandir sendirian di kamar. Ingin bergosip ria dengan Andin, tapi yang bersangkutan malah asik mandi, persiapan nge-date dengan kekasih tercintanya. Aku pun melirik jam dinding, hmm… 10 menit menuju pukul 5. Enaknya ngapain?

Awalnya tergoda ingin membuka laptop dan berkelana di dunia maya, atau mungkin lebih tepatnya, berkelana di facebook. Tapi juga terpikir ingin mandi. Tapi kemudian pandanganku tidak sengaja tertumbuk pada sebuah kunci di atas containerku. Kunci yang sudah lama tidak disentuh. Kunci apakah itu??? Jeng jeng jeng… Itu adalah kunci gembok Sima Cakrawala, sepeda polygon biruku yang berkeranjang dan berboncengan. Baiklah, pikirku. Ayo kita sepedaan bentar! Sudah lama tidak berolahraga, dan kebetulan kondisi fisik sedang tidak enak. Sedikit berkeringat mungkin akan membuat tubuh lebih segar.

Aku ambil kunci itu, lalu kupakai jaket tipis hasil ngerampok Deza. Sempat terpikir untuk mengantongi beberapa uang seribu yang tergeletak di dekat TV. Tapi aku gagalkan rencana itu, karena menurutku aku tidak akan butuh uang kalo cuma ingin sepedaan sekitar 30 menitan saja. Instead, kukantongi salah satu ponselku, dan meninggalkan yang satunya, kemudian beranjak dengan riang keluar dari kosan sambil mengayuh sepeda.

15 menit pertama semua masih aman terkendali. Sambil sesekali membalas sms yang masuk, aku bersepeda keliling kompleks pogung dengan tanpa prasangka buruk apa pun. Sempat lewat kosan adekku, yang tampak kosong. Lewat kosan lamaku juga, yang terletak di Gang Pandega Siwi. Cuacanya segar karena habis hujan, dan perasaan hati ini ringan sekali rasanya. Maunya sih merentangkan kedua tangan dan berlagak seperti Leonardo DiCaprio di film Titanic yang teriak “I am the king of the world!”, tapi aku nggak bisa naik sepeda lepas dua tangan. Jadi aku nyengir-nyengir aja sendiri. Yang ngeliat mungkin berpikir aku gila. Entahlah.

Aku sudah dalam perjalanan akan kembali ke kosan karena hari mulai gelap. Takut hujan juga. Kemudian ada sms masuk, lalu aku rogoh ponsel di dalam kantong dan sibuk membalas dengan satu tangan sementara tangan yang lain masih memegang stang sepeda. Tapi karena mataku tertuju ke layar ponsel, aku pun tidak memperhatikan jalanan di depanku. Ternyata ada celah yang membuat ban depan sepedaku terjebak masuk, dan tiba-tiba… “wuuussssss”, terdengar suara angin yang keluar dengan bahagianya dari dalam ban. Maaaak, ban sepeda aye bocoooor!

Sial sial sial. Aku rogoh-rogoh kantong untuk memastikan bahwa aku memang betul-betul nggak bawa duit. Dan memang iya, nggak ada sepeser pun duit di kantong celana putihku. Nggak bakal nangis pokoknya! Aku malah ketawa bego, ngerasa sangat tolol karena bisa-bisanya nggak bawa duit. Sok yakin! Takabur! Pengen ngamuk-ngamuk juga sama siapa. Sama lubang di jalan? Semenit otakku sempet ga bisa mikir, tapi akhirnya akal sehat kembali mengambil kendali. Sebelum aku guling-guling di tanah dan diliat-liatin orang karena dikirain gila, buru-buru aku ambil ponsel di kantong, menatapnya dengan penuh cinta, “Alhamdulillah, untung aku bawa kamu sayaang!”

Di tengah kekalutan itu, sempet-sempetnya ada orang yang nanya alamat. Mana dia ngomongnya nggak jelas lagi. Mana gang tempat aku mengalami musibah itu sepi pula. Tapi aku berusaha berpikir positif. Setelah beberapa menit menjelaskan tepatnya di mana alamat yang ditanyakan orang itu, beliau pun berlalu dengan wajah sumringah. Sekali lagi, “Alhamdulillah, tetap bisa membantu orang lain meski diri sendiri sedang dalam kesulitan!”

Akhirnya aku telusuri nama-nama di phone book-ku. Andin adalah orang pertama yang aku telepon karena dia adalah orang terakhir yang aku temui sebelum aku memulai petualangan bersama Sima di sore hari nan cerah itu. Aku telepon ke dua-dua nomornya, tapi nggak ada yang diangkat. Sasaran berikutnya adalah Deza, adik kandung yang harusnya selalu siap membantu. Tapi nggak diangkat juga. Akhirnya kutelepon ke nomor pacarnya, Diva. Karena mungkin mereka sedang berdua. Eh, sama Diva malah di-reject. Hampir saja aku misuh-misuh ketika ternyata si Diva-nya menelepon balik. Secercah harapan muncul. Ternyata Diva memang sedang bersama Deza. Tapi sialnya, mereka berdua sedang di Amplaz! Yang jaraknya kurang lebih 15 menit dari tempat aku sekarang *itu pun kalo ga pake macet*. Yasudah. Aku coba telepon Ista, karena mungkin dia sedang dalam perjalanan dari kampus ke kos. Tapi Ista nggak angkat juga.

Aku coba telepon Andin lagi, dan diangkat! Alhamdulillah, seruku dalam hati. Tapi ternyata harapan itu pupus lagi, karena rupanya Andin sedang dalam perjalanan makan, dan tempatnya cukup jauh juga dari aku. Dia sih sudah nawarin untuk balik lagi supaya bisa minjemin aku duit. Tapi aku ga enak. Aku malah ketawa-ketawa, karena ngerasa tolol. Si Andin malah sempet ga percaya waktu aku mengemukakan kondisiku. Setelah menolak tawaran Andin, aku memutuskan untuk jalan kaki aja ke kos. Toh ga terlalu jauh (meskipun waktu itu tubuh sudah agak lemes, karena kan aku memang agak kurang sehat)

Sebenarnya masih ada satu nama lagi yang kupikir bisa membantuku untuk keluar dari kesulitan ini. Tapi sudah kucoba telepon dan dia nggak angkat. Ternyata dia sms, “tadi nelepon ya?”, dan aku emang lagi bales-balesan sms sama dia. Aku mikir lagi, telepon lagi nggak ya? Saat lagi mikir, eh di depanku ada bengkel. Hmm… Baiklah. This is the time to make a decision!

Aku parkir sepeda di depan bengkel, dan langsung masuk nemuin mas-masnya.

“Mas, ban sepedaku bocor, bisa dibenerin?”
“Bisa Mbak!”
“Berapa, Mas?”
“15 menit sih, Mbak, emang agak lama!”
“maksudnya harganya berapa, Mas?” (padahal nggak ngefek juga nanya, orang nggak bawa duit sepeser pun)
“Ooh, tiga ribu Mbak!”

Terus aku ketawa mendengar jawaban Masnya itu, sambil garuk-garuk kepala. Pikiranku langsung melayang ke tumpukan duit seribu di kamar yang tadi kuyakini tidak akan kubutuhkan. Andai saja tadi kukantongi tiga lembar diantaranya… Sudah, sudah! Jangan berandai-andai. Masnya bingung waktu lihat aku ketawa.

“Kenapa Mbak?”
“Eheheheh…. Saya nggak bawa duit Mas…”

Gantian si Masnya yang ketawa. Asem.

Akhirnya aku rogoh lagi ponsel di kantong, dan kutelepon orang itu sekali lagi.

“Assalamualai….”
“Wa’alaikumsalam, baaang!!”
“Eeh, kenapa dek?”
“Hehehh… Huhu, abaang, bang, aku bodoh kali lah…”
“He? Kenapa?”
“Abang di mana?”
“Di rumah, kenapa sih?”
“Aku kan tadi lagi sepeda, hehe… ban sepedaku bocor, eheheheh, terus aku ga bawa duiiitt, buat nambel ban tiga ribuu… huhuuu…”
“Adek di mana sekarang?”
“Aku di bengkel yang deket martabak house, di pandega…”
“Oh, iya, iya, Abang tahu…”
“Yang itu bang, kalo dari Pogung Baru belok kanan…”
“Iya, iyaa… Abang ke sana…”
“Kalo dari ring road, yang lewat juragan futsal…”
“Iyaaa, Abang tahuuu. Abang ke sana sekarang!”
“Huhuuu, Abaang, aku ngerepotin…”
“Udaah, tunggu aja!”

Sekitar lima belas menit kemudian, datanglah beliau. Huaaa… menyelamatkan soreku yang tadi sempat suram. Tapi tetap saja aku merasa malu dan nyampah karena udah ngerepotin orang, yang rumahnya ga deket, cuma buat minjemin duit tiga ribu doang!

Dua omongannya yang diulang-ulang terus sampe aku bosen adalah:
“Makanya ke mana-mana tuh lain kali bawa duit!”, dan
“Untung bawa hape yang ada pulsanya!”

Bener sih dia jadi aku cuma bisa “iya, bang” berkali-kali sambil cengir-cengir kuda karena ngerasa bersalah dan udah ngerepotin orang. Well, at last soreku berakhir dengan tingkat kebetean yang rendah berkat pertolongan seorang abang-abang tukang bakso yang sudah dengan sangat baik hati datang dan menyelamatkanku. Hore! Setelah membayarkan tiga ribu rupiah kepada Mas penambal ban yang menerimanya dengan cekikikan (karena dia tahu si abang ada di sana gara-gara ulahku), kami pun pulang ke kos elite, menutup sore itu dengan kelegaan dan cerita bodoh yang sampe bertahun-tahun ke depan mungkin masih akan tetap kuingat.

I’m In the Mood of Writing Something Random

Please tell me that it is true. If it’s not, then wake me up right away because I don’t want to be drowning here and there, not knowing what I really want. It’s confusing yet assuring. Seriously, I honestly don’t know what I’m writing. But I’m not saying it’s too good to be true without reasons. Reasons that I can’t never tell. Time flies, but really, does it fly this fast?

Well, maybe I just want to be happy. And if happiness has to come in the weirdest way I have ever known, so be it. I don’t want to think about it too much. I don’t want to expect too much, yet I know there are lots of hopes in there. Just let it flow. That’s what they told me. And I’m happy. Yes, I am. I don’t feel like I don’t know where it’s flowing, because I do know. So I hate when people push me too much and force me to tell what exactly is going on, or make me think that it should go somewhere else, further. And then make it as a burden while I actually should worry about something else (because nothing to worry about in this case).

No, it will happen maybe, someday. Just wait and see.

(I shouldn’t) teach Bahasa Indonesia

I never imagine myself as a person who will actually teach Bahasa Indonesia. Not because I don’t love it, or I’m not being nationalistic or anything. But simply because I don’t think I can be a good teacher. But going on an exchange make me sometimes have to talk about it and — although not directly — teach people. The interesting part about this is when people start knowing the bad words and keep saying it over and over again.

Josef was the first person who asked a lot of words in Bahasa Indonesia. Because we went to Kuala Lumpur together, and a lot of Malay words are just similar with Bahasa Indonesia (not “same thing” though). That’s how he learned “terima kasih” (thanks), and that was also the first time I learned that a lot of Indonesian words are the same with Tagalog (Filipino). Then there was one time when I didn’t manage to wake up to go with him, Alvin, Yushi, and Sita, he learned how to say “kamu kebanyakan tidur” (you sleep too much) to make fun of me. But the most interesting part happened when I was writing my essay and he started looking at my dictionary and found the word “berak” in it, which means “poo“.

berak” could be used as noun or verb. Depends on the context. But somehow Josef managed to say “kamu kebanyakan berak” which literally means “you poo to much“. After that, he started using that word and spreading it to people. Not only to the fellow exchange students here in Singapore, but also to my friends. Yes, he sent email to Sita with my account which said “Halo Sayang, aku kebanyakan berak” (Hi Darling, I poo too much). He also commented on some picture with my account and wrote the same words. Everyone knew about it and they laughed at it. But what make it worse, people also started using the words. For example, Alvin. In this past 3 days he keeps saying “Karina, why are you berak-ing?”, “Karina, you’re so berak”, and stuff like that. Sometimes he just said “BERAK” randomly. Which made me laughing so hard. Roy sometimes also says the word but not as often as Alvin. Sometimes it’s irritating because I completely know what it means, and it’s so gross when they say it in the dining table, when we’re having meal together! But it’s also really funny, and I just can’t stop laughing when they say the words.

Oh well, that’s why I shouldn’t teach Bahasa Indonesia. Or maybe I just shouldn’t leave my dictionary in an unsafe place. :P

They Said…

Alvin said I am a chicken.

Huiying said I smell like Shisha.

Josef said I love my “tidur” so much.

Roy said my nostril moves everytime I laugh.

Yushi said no matter what letter I try to form, I will still look like an “O”.

Midhun said I am less religious than him.

Ashley said “thanks, guys!”

Jesse said I talk a lot.

Subbu said I am stupid.

Morten said he wants to stamp a “rejected” mark on my forehead.

Jess said she always eat rice and stuff.

Smile said I’m not …… (fill anything in the blank), I’m Karin!

Sita said I should stay single.

Wydia said “are you coming to class today?”

Monse said I should try Starbucks at least once.

Therese said we should get more “langsing”.

………

And I said you can say anything you want about me.

And I don’t know why I post this…

kebodohanku

So I thought I’m really good at English. Mengingat aku sekarang sedang berada di luar negeri di mana bahasa yang digunakan bahasa Inggris, dan sudah pasti teruji karena untuk mendapatkan beasiswa yang sekarang ini dibutuhkan bahasa Inggris yang oke punya yang dibuktikan lewat sertifikat TOEFL. Tapi jangan kira aku tidak bisa melakukan kesalahan. Berikut beberapa kebodohanku yang tidak disangka bisa kulakukan (yah moso orang jenius kaya gini bisa kliru, hehe) dan kalo diinget-inget sampe sekarang rasanya malu abis minta ampun. Hehe…

1) di rumah kosku di Jogja, ada seorang bule dari Australia yang menjadi teman dekatku, namanya Sally. Aku dan dia sering mengobrol untuk sama-sama melatih kemampuan bahasa kami. Aku berlatih bahasa Inggris, dan dia berlatih bahasa Indonesia. Suatu hari, aku sedang di kamarnya. Waktu itu sudah cukup larut, dan berikut kira-kira dialog yang terjadi antara kami.

Sally : Kalau kamu sudah ngantuk, tidur di sini saja tidak apa.

Aku : No, I’m going back to my room soon. I don’t want to sleep with you. (maksudnya, ga mau tidur bareng di kamarnya geto, kan ntar ngeganggu dia)

Sally: OF COURSE YOU SHOULDN’T. (sambil ngakak dan tampangnya ngeledek gitu)

Sepersekian detik kemudian aku menyadari bahwa kata “sleep” yang kupakai bisa berarti ambigu. Terus aku jadi istighfar sendiri dalam hati.

2) aku sedang main ke salah satu kamar teman di asramaku di sini (NUS). Pintu kamarnya terbuka. Kami lagi asyik ngobrol ketika salah seorang teman yang lain lewat dan menegur kami sambil berdiri di ambang pintu. Namanya Morten.

Morten: Hey.

Aku : Hey Morten! Where do you from? (maksudnya mau nanya dia abis ngapain gitu)

Morten: Norway? (dengan nada heran, menyebut kampung halamannya)

Aku langsung nepok jidat keras-keras. Dengan gobloknya menyadari bahwa “where do you from” dalam bahasa Inggris artinya ya pertanyaan soal asal orang itu. Karena kan dalam bahasa Indonesia “kamu dari mana?” juga bisa merupakan pertanyaan basa-basi yang dipake kalo mau nyapa orang. Belum sempat memperbaiki kesalahan, si Morten udah keburu ngelenggang pergi, mungkin dalam hati berpikir “aneh banget nih si Indonesia satu ini?”.

3) ada seorang teman sekelasku di NUS, namanya Therese. Aku sempat meminjam uangnya untuk suatu keperluan (waktu aku lagi miskin-miskinnya dan duit beasiswa dari TF belum turun). Aku pun meng-sms dia untuk ngasih tahu soal uangnya itu.

aku: hey Therese. Are you busy tomorrow? I want to change your money.

Therese: Sure, I’m not busy. Eh, you mean you want to return my money?

Terus aku diam seribu bahasa baca balesannya. Ternyata aku salah pilih kata. Change maksudku di situ mengganti, yaitu mengganti uangnya yang sudah kupakai. Tapi change dalam bahasa Inggris kan dipakai kalo ngomongin mata uang. Goblok banget. Mungkin Therese berpikir, “change? emang itu dollar Singapur mau di-change ke Rupiah maksudnya? dasar Indon edan”.

4) suatu hari, aku ikut merayakan ulang tahun temanku di salah satu flat teman yang lain. Rame banget dan kita ngobrol-ngobrol seru gitu. Sampai suatu ketika aku niatnya becanda sama salah seorang dari mereka, namanya Edison. Sebelumnya si Edison ini emang udah heboh-heboh gitu dan udah dikata-katain abis-abisan, jadi aku tambah pengen ngebecandain.

Aku: Hey, Edison. Come come… Come to Mam… (belum selesai udah dipotong)

Si X (lupa siapa yang ngomong) : what? Are you about to say “come to Mama”??

Aku: (cuma bisa cengengesan)

Semua : wowowowowowow, oh Karin has a thing for Edison!!!

Si Y (lupa juga siapa) : oh no, he’s taken!! aaawww…

Trus semua heboh aja gitu sorak-sorak. Aku lemes. “Kampret dah ah” cuma bisa misuh dalam hati. Maksud hati mau ngeledekin si Edison, malah jadi senjata makan tuan.

Hm… Sebetulnya masih banyak kebodohan-kebodohan dalam penggunaan bahasa yang aku lakukan. Kalo diinget-inget malah bikin tambah malu. Haha… Kasihan juga guru bahasa Inggrisku yang udah capek-capek ngajarin dari sejak aku masih ingusan dulu. Paling cuma bisa geleng-geleng kepala kalo ngeliat kelakuanku dalam berbahasa Inggris sekarang. Iyah, yang boleh dipublish segini aja deh ah kebodohanku. Nanti kalo kubongkar semua malah dikira retarded pula aku. Hoho… But hey, nobody’s perfect! (artinya: tak ada gading yang tak retak)

Yuuuk ah!