Tag Archive | disease

Alergi

Aku ga pernah tahu kalo aku punya alergi terhadap sesuatu, sampai akhirnya malam minggu kemaren aku ngerasain sendiri. Jam 12 malam tanganku mulai bentol-bentol. Gatal dan merah. Refleks, mulai kugaruk. Ternyata malah tambah nyebar. Ga berapa lama sekujur tubuhku udah penuh dengan bentol-bentol itu. Dari kuping sampai ke ujung kaki. Awalnya aku pikir itu gara-gara ada serangga kecil di baju atau spreiku. Karena bentolnya sebelum menyebar dan membesar mirip bentol kalo digigit nyamuk. Ngerinya lagi, siang itu di hari yang sama, si Richo sms aku cerita kalo Sleman lagi wabah cikhungunya. Tapi aku ga tau gejala cikungunya tu kayak apa, dan males googling juga. Jadi aku panik-panik sendiri deh.

Berusaha untuk tidur tapi gagal, karena sekujur tubuhku gateeeeel banget. Sampe nangis aku nahannya. Akhirnya sekitar jam 3 aku nyerah dan ngebangunin Laras dan Ista buat sahur bareng. Dan karena aku juga udah ga tahan pengen nunjukkin kondisiku ke orang lain. Who knows they might have a clue about what happen to me. Waktu itu kaki dan tanganku mulai bengkak, karena bentol-bentol kecil tadi sudah bersatu membentuk bentol besar. Kata Ista itu alergi. Kata Laras itu galigato. Kayaknya galigato itu istilah yang dipake di Sumatera deh. Aku pernah denger, dan artinya sama aja dengan alergi. Dalam hati bersyukur dan berharap itu benar, karena at least itu ga akan separah cikungunya. Ya kan? Laras juga cerita dia pernah kena gitu, dan abis diobatin langsung sembuh. Aku semakin lega walaupun masih gatal-gatal.

Aku masih nahan diri sekuat tenaga untuk ga garuk-garuk, dari mulai masak sahur, makan, sampe selesai shalat subuh dan tadarus bertiga. Trus akhirnya setelah ibadah kita selesai, sekitar jam 5 pagi, aku pun minta anterin si Abang ke RS. Pas ngeliat tanda-tandanya, kata Abang itu namanya biduran. Nah, kayaknya biduran ini adalah istilah di Jawa-nya, dan artinya sama aja dengan galigato. Berarti sama juga dengan alergi. Yasudah meluncurlah aku ke RS Panti Rapih (tempat saya dirawat pada akhir Juni lalu, sodara-sodara! Hello, long time no see Panti Rapih!), dan langsung masuk ke IGD. Di sana disuruh tiduran, diliatin sama susternya (kalo suster cowok nyebutnya apa sih? suster juga?), dan dia nanya aku abis makan apa 6 jam terakhir sebelum gejalanya muncul.

“kue cokelat, sama steak daging sapi, Mas…”

Selama ini aku ga pernah kenapa-kenapa tuh kalo makan makanan itu. Mengapa tiba-tiba bentol-bentol ini muncul?Huuh… Terus susternya nanya lagi, alergi dingin ga?

“selama ini ga pernah sih, kalo dingin biasa-biasa aja…”

Akhirnya, tanpa ada kejelasan yang pasti aku ini alergi apa, dokter jaga di IGD nge-cek aku dan terus aku disuntik. Sakit minta ampun suntikannya, dan rasa sakitnya bertahan bahkan sampe sekarang. Ngilu-ngilu gimana gitu di lengan kananku. Udah gitu dikasih obat anti alergi buat dibawa pulang dan diminum sehabis makan. Yak, pada hari itu, resmi sudah puasa saya bertahan hanya 1 jam saja. Dari jam setengah 5 sampe setengah 6 pagi doang.

Sampe ke kos aku masih bertanya-tanya, sebenarnya aku ini alergi apa ya?

Alergi skripsi mungkin ga? Ah, ga mungkin lah. Jangan sampe ya, ntar ga selesai-selesai pula skripsiku.

Haha, mulai ngawur.

Anyway, yang jelas setelah disuntik itu aku langsung tidur di kos, dan bangun pas dhuhur, dan bentol-bentol itu semua sudah hilang. Sedikit menyesal kenapa tadi tidur, soalnya aku pengen ngeliat proses menghilangnya bentol-bentol itu dari kulitku. Tapi obatnya bikin ngantuk. Dan mungkin disitulah keistimewaan obat itu, jadi si penderita harus tidur dulu kalo ga alerginya ga bakal hilang. Jadi hanya Allah yang tahu gimana bentol-bentol itu bisa hilang dengan sendirinya.

Makasih ya Allah, sudah memberikan kesembuhan kepada saya tanpa harus menderita gatal lebih lama lagi. Alhamdulillah…

Oh ya, dan besok insya Allah saya puasa. Aamiin… :)

Hospitalized

I’ve never been hospitalized for anything, until recently. Yep, remember my last post? I wrote: “I got sick for a few days now but I should be fine.”, it turned out that I wasn’t fine. A day after I wrote that post, I got a high fever then I went to the doctor. He gave some prescription, then I bought some medicine, then go home. But I felt so weak in both of my knees, and I didn’t feel any better cos I still got the fever, and it lasted for a couple of days. My Mom decided to come, but before she arrived with my sister, she told me to go to the hospital to see another doctor, and had my blood checked, and she was so assured that they’d tell me to stay in. But it turned out, no. The doctor gave me another prescription, and I bought some medicine again, because the result of the blood check was okay. I should be fine, that was still what I think that time. But I still felt weak. And still had high fever. I even started having weird dreams, which I think caused by the fever. My Mom arrived, and she decided to bring me back to the hospital again, but I couldn’t barely stand up or even moved from my bed (well, hotel room’s bed, where my Mom and my sister stayed, but you know what I mean, and that’s not exactly the point. The bed, I mean). So, instead, we went to the hospital the following day. And it turned out that I should stay in. And that sucked. Because I’m not a big fan of medication, needle, or injection (no one does, I think). But I got no choice. I was suffered from dengue fever as well as typhoid. And a little bit of heartburn for my bad eating habit. Oh, and my eyes. Yeah, before the high fever, my eyes were also sick, and it hasn’t recovered until the day I got hospitalized. So, you may say I got suffered from multiple diseases. Yay! No.

So I was in there for about 5 days. And I should tell you it was not a pleasant experience. It’s not hard to keep yourself healthy, but once you got sick, it won’t be cheap. And even now I still can see the needle marks on my skin where they injected me to have some of my blood, every single day while I was still taken care of in the hospital. I was lucky to have my Mom, my sister, my brother, Bang Rizza, and my lovely friends around. So the hospital wasn’t as creepy as it really is. But still, I don’t wanna go back. None of us should be in there. Keep healthy, people. Keep healthy! (says someone who didn’t take care of her health, hehe. Ah, the beauty of an irony)

DBD!

Pagi hari Selasa kemarin, aku dan teman-teman KKN yang lain berkumpul di Puskesmas Randusari untuk mendampingi orang-orang Puskesmas, untuk melakukan pemeriksaan jentik di sekeliling desa. Lokasinya lebih kepada beberapa RT yang emang pernah ada kasus DBD. Dan beberapa rumah memang positif memiliki jentik di bak kamar mandinya, atau di tempat penampungan air lainnya.

Sorenya, aku menerima sms dari Deza, adekku, yang mengabarkan bahwa Eky, adek sepupuku, masuk rumah sakit karena DBD. Adalah sebuah ironi, menurutku, ketika aku melakukan KKN sekian puluh kilometer dari Jogja, dan melakukan kegiatan-kegiatan yang mendukung kesehatan untuk masyarakat yang hidup sederhana, bahkan tergolong miskin, di desa lokasi KKN-ku. Sementara, adik sepupuku sendiri, yang tinggalnya hanya beberapa ratus meter dari tempat tinggalku di Jogja, membiarkan jentik berkembang di kamarnya sehingga ia harus jatuh sakit bahkan sampai harus dirawat, karena DBD.

Buat yang baca, ayo rame-rame cek kamar dan kamar mandi sendiri. Jangan biarkan jentik berkembang biak di dekat kita. Dispenser, gelas yang airnya masih tersisa, dan benda-benda lain yang nggak langsung menyentuh tanah dan bisa menampung air cepat diperiksa dan dibersihkan.

Dan buat Eky, cepat sembuh ya dek. Jangan sampe kejadian seperti Deza lagi, yang bikin satu keluarga trauma dan sampe mengeluarkan tenaga, materi, dan air mata yang tidak sedikit. Semoga kita semua selalu diberi kesehatan dan dijauhkan dari penyakit. Aamiin…

penyakit yang menyertai perayaan

Saat ini, aku sedang ada di rumah, di kampung halaman, di kota Bengkulu, untuk merayakan liburan Lebaran yang dengan baik hati diberikan oleh jurusan HI UGM selama kurang lebih dua minggu. Seperti anak rantauan yang tidak punya uang lainnya, aku dengan bahagia menikmati semua yang bisa dinikmati di rumah. Makanan enak, tontonan yang beragam, kamar yang luas dan nyaman, dan kebebasan dari bersih-bersih dan cuci-cuci. Semuanya dengan gratis-tis-tis-tis.

Sayangnya kepulanganku ke kampung halaman tidak melulu disertai dengan kebahagiaan. Rupanya di Bengkulu lagi mewabah penyakit jahanam, dan penyakit itu disebut muntaber. Bodohnya, aku ga hati-hati dan ketika aku berbuka puasa sambil reuni dengan teman-teman lama, tanpa sengaja aku telah menelan makanan yang membawa penyakit itu ke dalam tubuhku. Alhasil, malam takbiran kuhabiskan dengan bolak-balik kamar mandi, buang hajat dari bok*ng, dan buang isi perut dari mulut. Bolos puasa terakhir, dan bolos solat ied. Sedihnya…

Tapi untungnya aku bisa cepat sembuh berkat tubuhku yang bertulang baja dan berotot besi (hm kayanya itu gatotkaca deh, bukan aku…). Dua hari setelah Lebaran aku sudah bisa lompat-lompat lagi dan bermalas-malasan lagi. Hanya saja penyakit yang tidak mengenakkan itu bikin aku jadi hati-hati kalo makan. Mumpung masih di rumah, sebisa mungkin aku selalu makan di rumah. Ibuku yang setia memasak sesuatu yang enak di rumah pun selalu mengingatkan anak-anaknya (aku dan adik-adikku) untuk ga sering-sering jajan apalagi yang kotor. Meskipun beberapa kali makan siang di luar bersama dua sahabat berkepala bulatku (hehe), tapi aku selalu mencoba mencari tempat makan yang bersih.

Nah, sembuhnya aku, tidak berarti akhir dari cerita tragis yang menyedihkan ini. Hari ini, 8 Oktober, adik laki-lakiku yang bernama Deza berulangtahun ke 17. dan coba tebak, dengan apakah dia merayakan itu?? yap, tepat sekali, MUNTABER!!! Dua hari sebelum ulangtahunnya, Deza menjual jiwa dan kesehatannya dengan makan mie ayam pangsit yang memang enak, namun tidak terlalu higienis. Pulangnya, si bocah bandel itu B.A.B. berkali-kali, dan puncaknya, pada malam sebelum ultah, dia mengeluarkan semua isi perutnya dengan indah, disertai dengan omelan ibuku yang kemudian mondar-mandir dengan panik mencari obat. Well, muntaber, terima kasih telah mewarnai beberapa perayaan di keluarga kami akhir-akhir ini.

aku yang selalu ceria, dan deza yang lemas kehabisan cairan

aku yang selalu ceria, dan deza yang lemas kehabisan cairan

Anyway, selamat ulang tahun yang ketujuh belas untuk si dogol!! (itu juga kalo dia baca blog ini)

Bye bye for now…