Tag Archive | duit

Kuliah, Skripsi, Wisuda: A Very Long Story of My Journey

Aku pengen cerita panjang nih. Aduh mungkin membosankan, tapi entah kenapa aku ingin cerita panjang lebar disertai dengan omelan-omelannya kalo perlu. Ingin menumpahkan segenap isi hati beserta kesenangan dan kesedihannya. Ya boleh ya?

Oke, jadi semua tahu dong kalo kuliah itu ga gampang? Hm, biar diperjelas lagi, kuliah dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan ilmu yang berguna dan meraih nilai yang bagus itu nggak gampang kan ya? Selama 4 tahun lebih di Jogja, aku menuntut ilmu di sebuah universitas yang (katanya) termasuk yang paling bagus se-Indonesia. Aku bangga. Tambah bangga ketika nilaiku nggak jelek-jelek amat. Yaah lumayan bersainglah. Bahkan sempat dapat beasiswa belajar satu semester ke negara tetangga. Maaf, bukan maksud nyombong, tapi ya Alhamdulillah, aku diberikan keberuntungan itu. Tapi tetap, itu semua nggak mudah. Bikin tugas, ujian, ngedengerin dosen di siang hari menyengat yang sebenarnya enak dipake tidur, banyak godaan dan cobaan yang harus dihadapi. But I survived it.

Kemudian ketika tuntas mendapatkan semua teori selama hampir empat tahun, ada sebuah “benda” yang harus diselesaikan demi mendapatkan gelar keserjanaan S1 itu. SIP kalo di fakultasku. Sarjana Ilmu Politik. Wuuzzz, ngeri ya? Padahal besok-besok kalo kamu ketemu aku di jalan dan ngajakin aku ngebahas soal teori ini-itu dalam politik jangan terlalu berharap aku bisa menjelaskannya dengan komprehensif. Anyway, “benda” yang aku bilang tadi namanya “skripsi”. Kalo dalam bahasa Inggris biasanya disebut “thesis” (kalo di Indonesia, thesis buat S2 aja kan ya? Kalo dalam English itu buat S1 juga).

Bikin skripsi ini buatku bahkan lebih sulit daripada kuliah. Kalo kuliah kita bareng temen-temen, walaupun ujian dan tugas sendiri-sendiri, tapi bisa share dan belajar bareng. Dan tugas dan ujian ada deadline-nya, mau ga mau kita disuruh disiplin. Kalo skripsi kita sendiri, topik kita pasti beda dengan temen-temen kita, ga ada yang maksa kita untuk disiplin. Deadline-nya kita bikin sendiri. Biasanya sih batas deadline-nya itu rasa malu karena jadi angkatan tua, rasa ga enak dengan orangtua, rasa iri dan cemburu dengan teman-teman yang sudah lebih dulu sukses, dan paksaan dari orang-orang sekeliling yang cukup peduli dan pengen liat kita cepet-cepet lulus. Karena itu skripsi itu lebih susah, dan aku sempat tersendat-sendat di awal pengerjaannya.

Awalnya aku menargetkan wisuda bulan November 2010, karena pada saat itu aku sudah mengajukan judul skripsi pada bulan Maret 2010 dan sudah di-ACC dengan dosen pembimbing. Perhitunganku, cukuplah 6-7 bulan buat mengerjakan proposal, seminar, kemudian menuntaskan draft, lalu sidang. Target yang sangat mungkin untuk dicapai sebenarnya. Tapi waktu itu aku belum KKN, dan harus melaksanakannya selama dua bulan, April dan Mei. Pada saat itu skripsiku baru sebatas judul dan satu halaman abstraksi saja. Bulan Juni pun aku habiskan buat istirahat dari kejenuhan KKN. Ketika baru akan mulai membuat proposal aku jatuh sakit sampai harus dirawat selama seminggu. Juni kulewatkan tanpa hasil. Pada awal bulan Juli, ketika sudah pulih dari sakit, aku memulai menulis proposalku, namun rasa malas menyerang sehingga butuh 1 bulan lebih untukku menyelesaikan proposal yang tebalnya hanya 13 halaman saja. Proposal itu akhirnya mendapatkan ACC untuk seminar pada pertengahan Agustus 2010. Aku mendaftar pada bulan itu dan menjalani seminar proposal pada tanggal 28 September 2010.

Selesai seminar, pikiranku lebih cerah, keinginan untuk mengerjakan bab-bab selanjutnya kembali menggebu. Namun pada saat itu aku sudah ragu bisa wisuda November. Karena untuk wisuda November aku paling tidak sudah sidang pendadaran pada Oktober, dan untuk bisa sidang pada bulan Oktober, draft skripsiku harus sudah di-ACC pada bulan September. Sementara September aku baru seminar proposal. Jadi sangat tidak mungkin. Maka target wisudaku pun mundur menjadi Februari 2011. Target yang mundur menyebabkan semangatku mengendor, karena berpikir target yang akan dicapai masih lama, masih 5 bulan, maka aku pun bersantai. Saking santainya, pasca seminar proposal, skripsiku tidak kusentuh begitu lama sehingga bulan Oktober pun terlewatkan begitu saja tanpa ada progres apa-apa. Pada suatu hari di awal November, semangatku muncul lagi, targetku adalah mnyelesaikan draft bulan itu karena aku ingin sidang pendadaran bulan Desember. Aku nggak mau sidang bulan Januari, karena terlalu mepet dengan wisuda, sementara pengurusan dan pendaftaran wisuda terkenal sangat ribet dan begitu banyak tetek bengek. Semangat kemudian datang lagi.

Kalo kamu masih ingat, awal November itu ada letusan merapi yang begitu dahsyat. Tepatnya tanggal 5 November. Saat itu, aku dan adik sudah diwanti-wanti oleh orangtua untuk pulang ke Bengkulu. Mereka khawatir dan baru bisa merasa tenang kalo kami keluar dari Jogja. Beberapa hari pertama di kampung halaman aku masih konsisten dengan tanggung jawabku dalam memenuhi target skripsi. Tapi lama-kelamaan aku mulai goyah. Jalan dengan teman SMA, membantu tanteku mengolah bahan disertasinya, sampai ke abang yang datang berkunjung ke rumah (ga nyalahin abang kooog, ini salahku sendiri. Ga boleh marah yaaa. Hehe… ). Akhirnya skripsiku terlupakan. Kembali ke Jogja, sudah akhir November. Aku pasrah. Aku sempat nangis karena takut nggak bisa memenuhi targetku yang sebenarnya sudah mundur. Wisuda Februari itu plan B, bukan plan A lagi. Masa plan B pun gagal, dan harus beralih ke plan C? Orangtuaku sempat bilang, “kalo nggak bisa Februari ya nggak apa-apa, daripada kamu stress sendiri. Nggak usah dipaksakan.” Begitu kata mereka. Aku ingat waktu itu pernah nelepon Ayah dan nangis sampai sesenggukan cuma karena berselisih jalan dengan dosen pembimbing yang sudah kutunggu-tunggu dan gagal bertemu. Segitu galaunya aku sampe masalah kecil pun bisa bikin aku nangis-nangis.

Karena orangtuaku sudah tidak menaruh pressure lagi, sampai awal Desember pun aku masih agak santai. Aaah, cinta betul sama Ayah dan Ibu. Tapi teman-teman seperjuanganku di kampus yang juga sama-sama ber-skripsi dan menargetkan Februari bilang bahwa aku masih punya kesempatan. Aku akhirnya semangat lagi, dan benar-benar fokus mengerjakan skripsi dengan harapan bisa dapat ACC dan daftar sidang pada bulan Desember, agar bisa sidang pada Januari 2011. Alhamdulillah, dosen pembimbingku sama sekali tidak mempersulit. Cuma dua kali konsultasi, beliau bersedia memberikan ACC. Ga terbayangkan betapa bersyukurnya aku waktu itu. Pada saat itu aku berpikir, andaikan ada halangan yang terjadi sampai aku nggak bisa wisuda pada bulan Februari, paling nggak aku sudah sidang bulan Januari. Itu adalah satu beban besar yang segera akan terlepas dari bahuku. Masalah wisuda, itu cuma sekedar seremoni aja, yang penting itu sidangnya.

Resmi tanggal 29 Desember 2010, aku mendaftar sidang untuk bulan Januari 2011. Seminggu kemudian, jadwal keluar. Giliran sidangku adalah tanggal 10 Januari 2010. Aku langsung deg-degan, nggak nafsu makan, ga bisa tidur… Sekali lagi, Alhamdulillah, begitu banyak dukungan yang aku dapatkan. Baik dari yang dekat maupun yang jauh. Di hari H, meskipun sempat terjadi beberapa kesulitan, seperti misunderstanding informasi, jadwal yang diundur, sampai ke presentasi sidang yang harus aku lakukan dua kali, semuanya berakhir dengan lancar. Perjuanganku mengerjakan skripsiku selama hampir 1 tahun berakhir secara tidak resmi pada hari itu. Memang masih ada revisi sana-sini sih, tapi secara de facto aku sudah jadi SIP. Namaku Karina Utami Dewi, SIP. Horeee!!

Aah, sudah sidang pendadaran, skripsi sudah diuji, lalu apa? Yak, wisuda. Harusnya ini merupakan momen membahagiakan, yang tak terlupakan, dan mungkin salah satu hal penting dalam hidup kita kan ya? Tapi nggak begitu dengan urusan pendaftarannya. Argh, bikin gondok setengah mati. Sejak selesai sidang itu aku sudah berkali-kali bolak-balik bagian akademik fakultas untuk cari tahu syarat-syarat pendaftaran wisuda. Tapi berkali-kali pula dijawab dengan, “blangkonya belum ada, mbak. Mungkin nanti tanggal 20.” Yasudah, aku tunggu. Dan ternyata memang tanggal segitu keluarnya. Blangko apakah itu sodara-sodara? Itu merupakan selembar kertas berisikan daftar hal-hal yang harus dilakukan oleh mahasiswa yang mau mendaftar wisuda. Salah satunya syarat tersebut adalah bebas pustaka/bebas pinjaman dari berbagai tempat. Antara lain perpustakaan jurusan HI, bagian keuangan dan kepegawaian Fisipol, perpustakaan Fisipol, perpustakaan pusat UGM, dan perpusda wilayah Yogyakarta. Yak, PERPUSDA WILAYAH YOGYAKARTA YANG AKU BAHKAN GA TAU LETAKNYA DI MANA. BORO-BORO MAU MINJEM BUKU DI SANA, LETAKNYA AJA AKU GA TAU DI MANA!

Oke, jadilah aku diwajibkan berkeliling ke tempat-tempat itu untuk minta cap dan tanda tangan petugasnya sebagai bukti bahwa aku sudah bebas dari pinjaman apapun. Tapi bukan itu saja yang aku gondok. Kalo sekedar bolak-balik ke berbagai tempat itu, okelah, nggak apa-apa. Sebagian besar memang masih dalam kompleks UGM. Kecuali Perpusda Yogyakarta yang letaknya di daerah dekat-dekat Bumijo sana. Nggak tau Bumijo? Yah, pokoknya lumayan jauh deh dari UGM! Oke, kalo itu mungkin masih bisa ditolerir, karena aku juga ke sana naik motor. Ga jalan kaki atau ngebis. Nah, tapi di tempat-tempat di mana aku harus meminta cap dan tanda tangan itu begitu banyak syaratnya yang harus dipenuhi.

Inilah syarat-syaratnya saudara-saudara: Di perpustakaan jurusan HI meminta satu sumbangan buku, trus minta softfile PDF skripsi yang di-copy ke CD dan disimpan dalam kotak yang bagus (ga mau yang plastik tipis, harus kotak yang bagus macam CD-CD yang dijual di disc tarra), pas foto, dan materai. Di perpustakaan Fisipol cuma minta softfile PDF dalam CD juga. Kotaknya ga harus bagus sih. Tapi PDF-nya harus dikasih bookmark gitu. Ntah apa itu. Dan punyaku ga ada bookmark-nya. Akhirnya dibilang sama mas petugasnya, kalau mau dibikinin bookmark di perpus bisa, tapi ada biayanya, Rp 5000. Dan plus administrasi untuk ngurus bebas pustakanya juga Rp 5000. Jadi aku kena Rp 10.000 di sana. Lalu ke perpustakaan pusat UGM. Di sana cuma isi formulir doang. Urusannya ga lama, paling sekitar 10 menit. Tapi waktu tanda tangan dan capnya sudah, si bapak petugas menyerahkan kertas sambil bilang, “lima belas mbak.” aku pun bertanya, “lima belas apa pak?” terus bapaknya bilang, “lima belas ribu.” Olala, ternyata aku disuruh mbayar toh. Sambil bete-bete gitu aku ngambil dompet dan nanya, “lima belas ribu buat apa sih Pak?” dalam hati menambahkan, masa kertas bukti bebas pustaka selembar gini doang harganya lima belas ribu? Lima ratus perak aja ga nyampe kali. Tapi bapaknya cuma menjawab sambil menunduk dan menghindari pandangan saya, dan bilang “ya buat administrasinya itu.” lalu aku berikanlah Rp 15.000 itu. Sudah berapa kenanya tadi? Rp 25.000 ya? Tapi itu belum termasuk beli CD dan kotaknya, beli buku, nge-burn, nge-print, cetak foto, dan beli materai lho ya. Itu semua ga tau aku berapa jumlahnya. Terlalu menyebalkan buat dihitung.

Lalu aku ke perpusda Yogyakarta. Waktu itu aku bareng sama temanku, Andrew namanya. Si Andrew ini asli Jogja jadi tau di mana letaknya. Di sana juga ga banyak sih syaratnya. Cuma isi formulir, tunjukkan KTM, lalu bayar Rp 1000 untuk biaya administrasinya. Ya paling korban bensin karena letaknya yang agak jauh. Dan yang agak konyol menurutku adalah bahwa kita disuruh tunjukkin bukti bebas pustaka dari sebuah perpustakaan di mana kita ga pernah jadi anggotanya atau pun meminjam buku dari sana. Bahkan tau letaknya aja nggak. Dan kalo pun kita pengen minjem buku di sana setelah kita ga jadi mahasiswa lagi emang ga boleh? Konyol kan? Konyol banget.

Oke, tempat berikutnya adalah bagian keuangan dong. Nah bagian keuangan ini juga ga macem-macem syaratnya. Hanya satu saja, tunjukkan bukti pembayaran pendaftaran wisuda. Tapi tahukah sodara-sodara sekalian, berapa biaya pendaftaran yang dikenakan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik kepada setiap mahasiswa yang mau ikut wisuda? Biayanya adalah Rp 475.000, sodara-sodara! Hampir setengah juta jumlahnya. Rinciannya? Ah macam-macam deh. Sewa toga lah, konsumsi lah, majalah entah apa, kenang-kenangan dari Fisipol (kenang-kenangan namanya tapi kita harus beli sendiri), kartu alumni, dan macam-macam lagi. Too painful for me to go through the detail of the list. Jadi, intinya itu mahal! Mahal sekali!

Lebih menyakitkan lagi ketika tahu bahwa ternyata setiap fakultas itu beda-beda. Ista, temen kosku, mahasiswa D3 Ekonomi UGM dan juga wisuda pada bulan Februari, hanya membayar sekitar tiga ratus ribuan ke fakultasnya. Bulan Agustus lalu, waktu si abang wisuda, aku ingat dia hanya bayar sekitar dua ratus ribuan. Itu memang masih mahal, tapi kan nggak mendekati setengah juta jugaa??? Jadi aku gondok. Gondok dan kesal. Oh, dan bukan itu saja. Jadi begini, setelah membaca apa yang aku tulis, semuanya setuju dong ya itu bukan syarat yang gampang untuk dipenuhi. Maksudnya, butuh banyak waktu karena harus ke sana kemari, belum lagi syarat-syarat yang harus dipenuhi, belum lagi birokrasinya. Plus, setelah membayar hampir setengah juta itu itu masih harus log in lagi ke website UGM untuk daftar wisudanya, lalu harus ngeprint bermacam-macam form, dan harus cetak pas foto hitam putih dan berwarna. Bagi yang belum punya, repotnya nambah berarti. Harus bikin pasfoto dulu. Ribet pokoknya.

Nah blangko yang harus dicap dan di tanda tangani itu kan baru keluar tanggal 20 ya? Dan tanggal 20 itu adalah hari Kamis. Lalu waktu aku tanya mas-mas di front office akademik kapan paling lambat, masa dia bilang tanggal 24?? Iya, tanggal 24 Januari 2011!! Yang itu berarti hari Senin. Sementara Sabtu dan Minggu kan segala macam kantor, perpustakaan, dan kampus libur!! Gemes kan?! Singkat banget waktunya. Lalu aku sampaikan kepada masnya itu, “masa hari Senin sih mas? Hari Selasa boleh lah ya? Singkat banget waktunya ini. Saya udah bolak-balik ke sini dari minggu lalu blangkonya ini ga keluar. Giliran keluar, baru hari Kamis masa Senin sudah harus dipenuhi?”, lalu masnya bilang, “iya nih, ga tau nih akademik,” waktu denger gitu rasanya aku pengen joget-joget sambil koprol dan makan rumput. Ih, kurang banget sih koordinasinya?! Ga ada omong-omongan emang ya? Tiap hari ketemu gitu di ruangan ga cerita gitu ya, “eh pak, itu lho dari kemaren mahasiswa sudah pada nanyain syarat wisuda, mbok cepetan itu blangkonya dikeluarkan.” Kalo pun emang pengen keluarnya lambat, ya deadline-nya juga jangan sesuka hati gitu dong ah. Ga asik banget deh ah!

Dan masih masalah koordinasi dan deadline ya, bener-bener aneh deh. Kan kalo di bagian front office bilangnya paling lambat daftar tanggal 24 Januari 2011. Tapi waktu dapat kertas yang isinya password dan username untuk log in daftar wisuda, katanya paling lambat log in dilakukan pada tanggal 26 Januari 2011. Yang lebih yahud lagi, deadline dari Jurusan HI. Syarat-syarat untuk mengumpulkan buku, pasfoto, materai, dan PDF skripsi itu paling lambat dikumpulkan pada tanggal 28 Januari 2011. Gini yah, kantor jurusan HI sama front office Fakultas itu jaraknya bahkan ga sampe 20 langkah lho. Ngesot juga belum lecet udah keburu sampe. Masa untuk menyesuaikan deadline aja mereka ga bisa sih? Campur aduk perasaanku. Pengen ketawa iya, pengen ngamuk iya, pengen nangis juga iya. Sedih aja, segitu gedenya kita bayar, untuk mendapatkan profesionalitas yang sangat sederhana aja kita ga bisa.

Melihat persyaratan yang segitu ribet dan njelimetnya itu, aku malah tertantang buat menyelesaikan dalam satu hari. Waktu itu hari Kamis, tanggal 20 Februari 2011, pukul 10 pagi, adalah waktu di mana aku mendapatkan blangko itu. Di hari yang sama, pukul 2 siang, aku sudah berhasil menyelesaikan semuanya. Yep, mendapatkan cap dan tanda tangan dari 5 tempat, termasuk perpusda yang letaknya di ujung dunia (lebay). Antri di bank untuk bayar wisuda. Ke bagian akademik untuk minta username dan password. Lalu log in lewat komputer di kos, ngisi form. Ngeprint form. Lalu cetak foto. Beli materai. Lalu kembali ke kampus untuk mengumpulkan semuanya. Masih sempat-sempatnya menempelkan fotoku di berbagai form yang jumlahnya entah seberapa banyak itu. Ya, semuanya aku selesaikan dalam waktu yang sesingkat itu saja. Kenapa? Karena aku males khawatir lama-lama. Ga tenang kalo urusan itu belum selesai. Aku juga males gondok lama-lama. Jadi deadline yang pendek itu malah jadi tantangan buatku. Buktinya, Alhamdulillah aku bisa menyelesaikan semuanya dalam waktu sekitar 4 jam saja. Dan aku ga lupa makan siang lho itu. Hehehe…

Dan memang terbukti, setelah itu semua selesai, kekesalanku mereda. Dan sesungguhnya aku merasa tenang dan senang juga. Kebetulan hari itu nilai skripsiku juga keluar. A- nilainya. Ya memang bukan A yang sempurna, tapi tetap A. Padahal waktu itu aku sudah yakin bakal dapet B. Tapi Allah itu memang Maha Baik. Aku pun tinggal menyongsong wisuda yang insya Allah sebulan lagi, dan lulus dengan nilai skripsi yang menyenangkan dan IPK yang sama sekali tidak mengecewakan. Semoga ke depannya juga bisa mendapatkan pekerjaan dan kehidupan yang lebih baik. Asal mau berdoa dan berusaha, tidak ada yang tidak mungkin kan?

 

Hasil akhirnya, hanya 77 halaman saja, termasuk halaman judul, daftar isi, dll. Tapi lumayanlah buat anak HI yang minimal skripsinya 40 halaman saja.

Aduh, maaf ya tulisan ini panjangnya nggak ketulungan, dan aku pake ngomel-ngomel pula. Tapi sungguh aku nggak nyangka, perjalananku selama 4 tahun lebih di UGM ternyata bisa kutuliskan dalam satu postingan ini saja. Sesungguhnya ada 5 buah buku diary yang mencatat kehidupanku sehari-hari, tapi biar itu jadi konsumsiku sendiri saja. Nggak kerasa sebentar lagi aku sudah bukan mahasiswa S1 HI UGM lagi. Huwaaa… Excited to see what will happen in the future!! \(^o^)/

vietnam

Soo, it’s recess week now in NUS. It means NUS gave one week off for every student to be prepared for mid-semester exam. But I don’t have any exam in the mid-semester (i have papers to be finished instead), so I decided to use the week off for holiday… At first I was a bit confused about it. Still didn’t know where to go. But some friends offered a trip to Vietnam and Cambodia. sounded fun, so I started planning the trip with them, together with Sita. But then in the middle of the planning, we decided to go to Vietnam only, as the trip to Cambodia would make us waste 2 days away only for the bus trip (Vietnam to Cambodia, for 11 hours!). So, yeah, we officially decided to enjoy the recess week in Vietnam, only two of us. Me and Sita. Isn’t it cool??!! :P

Yeah, it’s really cool. Because we never been in Vietnam before, and we will travel in that country for the first time, only two of us, all girls, none can speak Vietnamese. And you know what makes it worse? We have no money. The money from TF was supposed to be given on February 20. It means 2 days before we departed from Singapore to Vietnam. But somehow they (the TF people, whoever they are) didn’t manage to give us the money on time, and sent us an apology email instead. But we already booked the ticket to Vietnam, and it’s paid. So we have no choice, we must go for the trip (people would say: MODAL NEKAT!). The money was expected to be given two days after we go for the trip. But they still didn’t give it. As a matter of fact, we still don’t have the money, till today! So I bet you could imagine how we survived till now, with a holiday to Vietnam!

We’re poor now. I guess most of TF students are poor at the moment. But even with the money trouble, I still enjoyed having holiday in Ho Chi Minh City, Vietnam. Some interesting things happened even without money to rely on. We were planning to go to Cu Chi Tunnel and Mekong Delta, as these two places are really recommended to visit. Too bad the price for the tour to these places are too expensive for us. We couldn’t afford it. So we’re only going around the city. Enjoyed some museums and historical buildings. And we didn’t take taxi, at all!! We walked! No matter how far that was, we would walk it. We only took bus for a very very far trip. First time we took bus when we arrived in the airport. We took bus and paid only VND 3000 (Vietnam Dong, it’s around SGD 0.25, or IDR 2000). It would cost us USD 8-10 if we took taxi. So we saved money by taking bus, and a little bit walk to the hostel that we already booked. The second time we took bus when we went to Giac Lam Pagoda, the oldest Pagoda in Ho Chi Minh City. For the rest of the journey, we use our feet as our vehicle. We walked everywhere.

The gate to Giac Lam Pagoda (photo from Sita's camera)

Ho Chi Minh statue in the reunification palace

Me in front of the reunification palace

The most interesting experience I got from this journey was when we visited the Consulate General of Indonesia in Ho Chi Minh City. We accidentally found the address in a tourism map. It’s a bit far but we still walked to reach it. Curious about how it looks, and excited about finding other people that might be able to speak Bahasa Indonesia. When we got there, all I saw just a big and high wall, with a Vietnamese police guarding in the front gate. He couldn’t speak English or Bahasa Indonesia, and he’s not so friendly. We just wanted to take picture in front of the sign that said: “Consulate General of Indonesia”, but he said it’s forbidden (ok, he didn’t say it, he was only waving his hand and said “no, no”). But we’re not easily giving up. We stayed there, while he’s still waving his hand and told us to go away. We kept saying that we wanted to take picture, and he kept saying no. We fought so hard and finally someone looks Indonesian with Batik shirt came out of the big gate and say hello to us. Finally, finally!

This guy named Frankie, he is coming from Indonesia, and he allowed us to get into the Consulate building and took the picture inside. It is forbidden to take the picture of the front gate for security reason. He also introduced us to another Indonesian guy named Taufik. Both of them are working for the Consulate. We took pictures together with them using Sita’s camera. We also had a short talk with them. They were surprised seeing two young girls travel all the way to Vietnam all alone (poorly and maybe shamelessly *because we were insisting so hard to have the picture of the consulate*).

Me with Frankie and Taufik (photo from Sita's camera)

The rest of the journey was not that bad, yes we had trouble with money, we also had trouble on finding halal food. But we survived anyway, with limited amount of money. And the trip was still enjoyable. I like the Notre Dame Cathedral the most, it was a cathedral built by the French when they occupied Vietnam. With red bricks and the statue, it looks really fantastic. The central post office next to the cathedral was also worth to be visited. I bought some postcards and sent one of them to my home. It’s only VND7000 to send postcard to Indonesia, but it will be delivered 14 days from the day I send it. So, by the time my sister receive the postcard, I wouldn’t be in Vietnam anymore. Hehe, but it’s still excited though.

Me and Sita in front of Notre Dame Cathedral (photo from Sita's camera)


Hm, I guess that’s all for now. Actually, lots of things that I want to write, I just can’t find the right way to compose it and not make it too long so people won’t be bored reading it. Anyway, at the moment I should concentrate with my study. Though I don’t have any mid-term exam, but I still need to work on my papers. Three of them!

Aaah, this is why I love holiday! :(


jogja menggila

Aku menulis ini di tengah-tengah pengerjaan review mata kuliah Hukum Humaniter Internasional yang jadi mandeg karena aku sudah penat, sementara baru jadi 1 halaman dari 3-4 halaman review yang diperintahkan. Dan besok sudah harus dikumpulkan. Yah, sambil menunggu inspirasi yang datang, jadilah aku menulis-nulis ini.

Huah, Jogja menggila. Kenapa? Sudah seminggu lebih aku di sini. Yang aku notice ya Jogja tambah rame, khususnya kampus Fisipol yang aku datangi setiap hari. Aku sudah ga pernah lagi makan di kantinnya karena sekarang ramenya kayak orang lagi hajatan. Mejanya penuh terisi dimana-mana, mau ngemper di lantainya pun malas, karena di situ juga sudah rame. Akhirnya sekarang kalo makan di kampus lebih milih ke kantin yang dekat perpustakaan, dulu dijulukin kantin Mbok Galak. Tapi sejak yang jualan di sana sudah ganti orang, kantin itu udah jarang disebut kantin Mbok Galak.

Tapi Jogja menggila bukan cuma karena keramaiannya. Yang sekarang setiap hari dikeluhkan orang-orang, yaitu: Jogja panassss!!!! Yah, yang panas bukan Jogja doang sih, di kota-kota lain juga kayanya mengalami kepanasan yang sama. Dikarenakan pergantian dari musim kemarau menjadi musim hujan, atau yang bahasa kerennya, pancaroba. Di musim ini biasanya orang-orang akan menderita karena rawan banget kena penyakit (misalnya flu, diare, *ehm* muntaber) dan rawan terjadi bencana juga. Yah amit-amit jangan sampe deh, meskipun puting beliung sekarang tampaknya berpotensi di berbagai daerah, tapi janganlah jangan terjadi lagi… Well I won’t discuss it scientifically, but more on sharing my feelings. Ngeri juga ngeliat perubahan cuaca yang menggila ini, kalo lagi panas ya puanaas banget, ga ada angin semilir sedikit pun. Kadang-kadang udah di kelas yang ber-AC sekalipun tetep aja panas (pas dicek ternyata AC-nya mati. Pantes aja… Fisipol nih ga modal!), kalo lagi hujan deraaaas banget pake angin-angin segala, tapi setelah reda langsung deh rasanya panas. Tadi siang malah lebih parah, di tengah terik matahari yang begitu menyiksa, tiba-tiba turun hujan rintik-rintik. Ironis!! Mana sekarang Jogja juga sering banget mati lampu (atau bahasa inteleknya pemadaman listrik), sebel banget kalo lagi gerah terus listriknya padam. Tapi lebih ngeri lagi kalo listriknya padam pas lagi hujan deras-derasnya, dan di kos lagi ga ada orang pula. Siang ini pas lagi ngobrol-ngobrol di kosnya Tiara bareng sama seorang teman, namanya Anggia, dia ngomel-ngomel heboh gitu.

Anggia : “Kurang ajar emang itu PLN, tar ya kalo gue kelebihan duit gue beli itu PLN, trus gue jual semua asetnya biar jadi bangkrut!”

Tiara : (sambil mengangkat sebelah tangan dan keteknya kemana-mana) “SETUJUUU!!!”

Aku : (diam seribu bahasa)

Ya ga sedramatis itu juga sih, tapi intinya gitu deh, kita semua merasa terpojok dengan situasi dunia yang semakin tidak menentu ini. Krisis ekonomi, Pilpres Amerika, Global Warming, ditambah dengan Jogja yang menggila dengan segala macam derita yang disimpannya. Sebagai mahasiswi yang hidup jauh dari orang tua, terpaksa mandiri, dan BU (Butuh Uang), tentunya tidak mengharapkan lebih banyak kejadian buruk terjadi.

Eh, speaking of kejadian buruk, aku baru ingat sebentar lagi mau ujian tengah semester! Hwoaaa… Tambah ketar-ketir aja hati rasanya. Oke, oke, sebaiknya aku hentikan tulisan ini, semakin lama aku semakin ngawur. Mungkin harusnya tulisan ini judulnya Karin Menggila…

Oia, agak melenceng dari topik nih. Minggu kemaren aku sudah nonton Laskar Pelangi. Satu kata: BAGUS. Ya untuk ukuran film Indonesia lumayan memberikan penyegaran di antara kebanyakan film Indonesia yang horor atau komedi ‘menjurus’. Tapi aku belum baca bukunya, jadi ini aku sedang dalam tahap penyelesaian pembacaan novel Laskar Pelangi.

Nah nah makin ga fokus ini tulisannya, ah sudahlah, mau ngelanjutin bikin review aja… Datanglah wahai inspirasi…