Tag Archive | movie

Bridesmaids (2011)

The Official Poster of the Movie

I’ve just watched this movie a few days ago. A little bit late, I know, since it was originally released on May 2011. I wasn’t really eager to watch it until I saw some award shows on cable, such as Golden Globe and Screen Actors Guild Awards. “Bridesmaids” is named as one of the successful movies ever made in 2011. Even rotten tomatoes gave good reviews to this movie. One of the actors, Melissa McCarthy, is nominated as Best Supporting Artist in Academy Award, and the movie itself is nominated for Best Original Screenplay. So, a few days ago I decided to watch the movie, and I think it was pretty good.

It’s basically a story about a girl named Annie whose bestfriend, Lillian, is about to get married. Both of them are friends since childhood and Lillian wants Annie to be her maid of honor. It means, in American culture, the maid of honor is the one who arrange all the planning before the wedding, such as the dress for the bridesmaids, the bachelorette party, the shower, and everything else relating to the bride. This gets tricky for Annie since her hands are already full with her own problems. Her cake business went down, her boyfriend walked away from him, and once she fell for a guy, it turned out that he’s not interested in upgrading the relationship into more than just a physical contact. As the storyline goes, her life is just getting worse, with her roommate, and also with one of the fellow bridesmaids, Helen, who also thinks Lillian as her bestfriend, and gave Annie an atmosphere of competition to win Lillian.

I really like watching Annie goes nuts as her life hits rock bottom, and in the middle of being frustrated she got the chance to meet with a really cute cop named Officer Rhodes and had a fling with him. But when he tried to get more serious and persuaded her to get back into baking, she bailed out, feeling that she doesn’t need him to fix her. This movie actually is about a lot of kinds of relationship, even with Annie alone as the main character. It’s about her relationship with her bestfriend and the fear of letting her down in the big day, her relationship with her annoying roommates, her fellow bridesmaids, her own mother, her f*ck buddy, and with an officer that end up to a romance fling.

It’s my favorite genre of movie, romantic comedy, and I always enjoy this kind of movie. As for McCarthy’s acting, I think she’s great, but I’m not sure if it’s Oscars’ material. I don’t think her role is significant enough to get the nomination. I’m not saying it’s bad though, in fact she’s quite hilarious and refreshing. But I still can see the movie having a strong storyline even if they remove her character. Then again, who am I to judge? At the end of the day, I enjoy watching the movie and if you’re a fan of a chick flick or a romance comedy, you should watch it too! :)

Babies

Berdasarkan usul salah satu blogger, aku memutuskan untuk menulis hal-hal yang lain selain cinta-cintaan, karena beliau bosan tampaknya (hehe, btw, makasih lho mas sarannya). Dan karena banyak juga yang protes sehubungan dengan bahasa yang aku gunakan, alias bahasanya Ratu Elizabeth, maka di blog post kali ini aku memutuskan untuk rehat sejenak dari keduanya. :)

Anyway, di post kali ini aku ingin sedikit bercerita tentang film yang baru saja aku tonton, judulnya “Babies”. Aku mencoba menulis dengan gaya dan bahasaku sendiri ya. Jika ada yang merasa kurang dan ingin menambahkan hal-hal lain yang seharusnya aku review, dimohon sarannya. :) All right, here we go.

Warning: SPOILER ALERT!!***

Ajakan untuk nonton film ini datang dari teman satu kampus yang sama-sama berjuang menyelesaikan skripsi (apa sih?), yang bernama Richo. Karena aku juga penasaran akhirnya aku menyetujui ajakan tersebut, dan kita pun pergi dengan beberapa teman lain. Inti cerita dari film ber-genre dokumenter ini mengisahkan tentang 4 orang bayi yang lahir di belahan dunia yang berbeda-beda. Dokumentasinya sendiri dimulai dari sejak mereka lahir ke muka bumi, hingga mereka mencapai usia 1 tahun. Dua di antara bayi ini berasal dari daerah terpencil, yaitu Ponijao dari Namibia. dan Bayar dari Mongolia. Sementara yang dua lainnya berasal dari daerah urban, yaitu Hattie dari Amerika, dan Mari dari Jepang.

Durasi filmnya sendiri tidak begitu panjang, hanya sekitar 80 menit. Tapi kalo dipikir-pikir juga, pastinya bakal bosan nonton film dokumenter kalo kepanjangan. Ceritanya dari awal ya menunjukkan bagaimana keempat bayi ini tumbuh di lingkungan masing-masing, yang berbeda-beda. Dan harus diakui, memang sangat jomplang terutama ketika kita membandingkan yang dari negara berkembang vs. negara maju. Hehe… Ponijao misalnya, dari kecil sudah dilepas begitu aja sama ibunya. Ke sana kemari nggak pake celana. Main tanah, dan apa yang ditemui di tanah masuk ke mulutnya. Komentar aku dan teman-teman waktu itu, “wah ini bayi masih kecil pasti imunitasnya sudah tinggi ya, karena sudah biasa dilepas-lepas begini.” Sementara Hattie yang dari Amerika, sejak kecil sudah diperkenalkan dengan buku-buku, dan mainannya pun bagus-bagus. Bayar yang berasal dari Mongolia, punya kakak yang umurnya ga jauh beda dari dia. Dan dia seriiing banget jadi korban kejahilan kakaknya, dipukul lah, di”sabet” mukanya pake kain. Dan Mari, dari kecil sudah diajak belajar oleh orangtuanya, pegang sempoa, dan bahkan diperkenalkan dengan gadget.

Sejujurnya, yang agak menggangguku dari film ini, adalah bagian ketika ibu dari keempat bayi menyusui anak-anaknya. Aku nggak ngerti gimana caranya lembaga sensor di Indonesia bekerja, tapi yang jelas payudara si ibu terpampang dengan jelas di layar bioskop yang besarnya minta ampun itu. Terutama Ibunya Ponijan, yang orang Afrika, dan ke mana-mana topless alias ga pake baju bagian atas. Mungkin karena film ini adalah dokumenter, dan ‘penampakan’ dari payudara tersebut sama sekali tidak ada tujuan seksual atau pornografi, jadi lulus sensor? Ya, mungkin aja. Tapi aku tetap aja agak “geli” ngeliatnya. Hehe…

Aku suka film ini, karena menurutku film ini berhasil mendeskripsikan begitu banyak dengan dialog yang sangat minim. Hampir-hampir ga ada. Paling-paling cuma orangtuanya yang ngomong, dengan bahasa mereka masing-masing, tanpa ada subtitle. Tapi menurutku juga nggak perlu. Aku suka bagian-bagian di mana keempat bayi melakukan hal-hal yang sama atau mirip, di tempat mereka masing-masing. Seperti ketika masing-masing bercanda dengan kucing peliharaan orangtua mereka. Atau ketika mereka masing-masing sudah mulai bisa merangkak, dan mulai menjelajah ke sana kemari dengan kemampuan baru mereka. Beberapa adegan juga bikin ketawa, ya karena melihat tingkah khas bayi yang pastinya masih lucu dan polos.

Ini beberapa momen masing-masing bayi yang jadi favoritku sepanjang film ini.

Favorite moment of Ponijao:
Waktu dia duduk sambil terkantuk-kantuk dan hampir jatuh terjengkal karena ketiduran, tapi tepat pada detik-detik terakhir dia langsung terbangun dan batal jatuh. Bagian ini bikin aku ketawa terbahak-bahak, terutama karena bagian yang dia hampir jatuh tapi batal itu terjadi dua kali.

Favorite moment of Mari:
Waktu dia mencoba untuk menyelesaikan permainan semacam puzzle, namun ga berhasil. Dia jadi nangis sendiri, bahkan sampe guling-guling karena depresi. Setelah nangis beberapa saat, dia mencoba lagi menyelesaikan permainan itu, namun belum juga bisa.  Dan itu membuat dia nangis guling-guling lagi. Ini juga bikin aku ketawa, karena terjadi beberapa kali dengan pola yang sama dan reaksi yang sama juga.

Favorite moment of Bayar:
Waktu dia baru bisa berdiri, dan mencoba untuk naik ke kuda-kudaan. Sayangnya kuda-kudaannya agak jauh dari tempat dia pegangan, sementara dia belum cukup berani untuk melepas pegangannya dari tiang yang membantu dia berdiri. Tapi dia tetap menggerakkan kakinya mencoba untuk naik ke kuda-kudaannya. Akhirnya dia pegangan ke temannya yang berdiri di dekat dia dan membuat temennya itu nangis karena bajunya ditarik akibat usaha Bayar yang ingin pegangan.

Favorite moment of Hattie:
Waktu dia diajak ayahnya ke sebuah taman dan main mobil-mobilan. Si ayah meletakkan Hattie dan mobilnya di sebuah track yang bentuknya seperti perosotan, yang artinya bagian awalnya lebih tinggi dari bagian ujung. Hattie naik ke track itu dan mobilnya mulai meluncur, tapi si mobil tidak kunjung berhenti meskipun sudah sampai ke ujung track-nya. Si mobil terus berjalan sampai ke bagian taman yang rendah. Mobilnya terbalik dan Hattie pun jatuh, sang ayah buru-buru lari untuk menggendong anaknya yang jatuh karena kesalahannya.

Well, after all, menurutku film ini cukup bisa dinikmati. Terutama bagi yang suka dengan film ber-genre dokumenter dan juga suka melihat tingkah polah bayi-bayi yang lucu dan imut, ga ada salahnya untuk menyisihkan waktu dan menikmati “akting” 4 bayi dengan latar belakang yang berbeda-beda ini. Oh ya, sekedar informasi tambahan, film ini agak telat datang ke Jogja, karena produksinya sendiri sudah berakhir pada tahun 2009, dan mulai keluar di Amerika pada tahun 2010. Aku nggak tahu bagaimana dengan bioskop di kota lain di Indonesia, tapi di Jogja baru muncul bulan Januari 2011 ini. Yah, better late than never.

Finally, selamat nonton semuanya! :)

photo taken from here

***buat yang pengen nonton dan nggak pengen tahu terlalu banyak soal film ini karena takut ga seru lagi, sebaiknya tidak membaca post ini. :)

Sydney White

The movie was actually on 2007, so it’s like 2 years ago. But I just watched it recently in HBO, over and over and over again. I found it cute and interesting because it was actually a parody of a classic fairytale: Snow White. So a lot of things are alike but not the same. Snow White lives with dwarfs, Sydney White lives with dorks. Sydney doesn’t have a witch as her step mother like Snow White does, but her rival is a meany girl with a last name “Witchburn”. No prince charming for Sydney, but the cute guy is called by the name “Tyler Prince”. No poisoned apple, but a hacked Apple notebook instead, which puts Sydney in a difficult situation. And some other things that I found as fun facts as I watched the movie.

Well, it’s a very light movie. HBO called it a “chick flick”. But it’s just a kind of movie that you wanna watch together with your housemates in your pyjamas and scream “aaaaaw” everytime you see any cute scene. Plus, Matt Long, the guy who played as Tyler Prince, is soo freakin hot. haha…

This is one of my favorite scene in the movie, when Tyler told some of freshmen to sing for Sydney (and he himself sings as well), just for the sake of asking Sydney out for a date. How sweet is that???? Enjoy!