Berdasarkan usul salah satu blogger, aku memutuskan untuk menulis hal-hal yang lain selain cinta-cintaan, karena beliau bosan tampaknya (hehe, btw, makasih lho mas sarannya). Dan karena banyak juga yang protes sehubungan dengan bahasa yang aku gunakan, alias bahasanya Ratu Elizabeth, maka di blog post kali ini aku memutuskan untuk rehat sejenak dari keduanya.
Anyway, di post kali ini aku ingin sedikit bercerita tentang film yang baru saja aku tonton, judulnya “Babies”. Aku mencoba menulis dengan gaya dan bahasaku sendiri ya. Jika ada yang merasa kurang dan ingin menambahkan hal-hal lain yang seharusnya aku review, dimohon sarannya.
All right, here we go.
Warning: SPOILER ALERT!!***

Ajakan untuk nonton film ini datang dari teman satu kampus yang sama-sama berjuang menyelesaikan skripsi (apa sih?), yang bernama Richo. Karena aku juga penasaran akhirnya aku menyetujui ajakan tersebut, dan kita pun pergi dengan beberapa teman lain. Inti cerita dari film ber-genre dokumenter ini mengisahkan tentang 4 orang bayi yang lahir di belahan dunia yang berbeda-beda. Dokumentasinya sendiri dimulai dari sejak mereka lahir ke muka bumi, hingga mereka mencapai usia 1 tahun. Dua di antara bayi ini berasal dari daerah terpencil, yaitu Ponijao dari Namibia. dan Bayar dari Mongolia. Sementara yang dua lainnya berasal dari daerah urban, yaitu Hattie dari Amerika, dan Mari dari Jepang.
Durasi filmnya sendiri tidak begitu panjang, hanya sekitar 80 menit. Tapi kalo dipikir-pikir juga, pastinya bakal bosan nonton film dokumenter kalo kepanjangan. Ceritanya dari awal ya menunjukkan bagaimana keempat bayi ini tumbuh di lingkungan masing-masing, yang berbeda-beda. Dan harus diakui, memang sangat jomplang terutama ketika kita membandingkan yang dari negara berkembang vs. negara maju. Hehe… Ponijao misalnya, dari kecil sudah dilepas begitu aja sama ibunya. Ke sana kemari nggak pake celana. Main tanah, dan apa yang ditemui di tanah masuk ke mulutnya. Komentar aku dan teman-teman waktu itu, “wah ini bayi masih kecil pasti imunitasnya sudah tinggi ya, karena sudah biasa dilepas-lepas begini.” Sementara Hattie yang dari Amerika, sejak kecil sudah diperkenalkan dengan buku-buku, dan mainannya pun bagus-bagus. Bayar yang berasal dari Mongolia, punya kakak yang umurnya ga jauh beda dari dia. Dan dia seriiing banget jadi korban kejahilan kakaknya, dipukul lah, di”sabet” mukanya pake kain. Dan Mari, dari kecil sudah diajak belajar oleh orangtuanya, pegang sempoa, dan bahkan diperkenalkan dengan gadget.
Sejujurnya, yang agak menggangguku dari film ini, adalah bagian ketika ibu dari keempat bayi menyusui anak-anaknya. Aku nggak ngerti gimana caranya lembaga sensor di Indonesia bekerja, tapi yang jelas payudara si ibu terpampang dengan jelas di layar bioskop yang besarnya minta ampun itu. Terutama Ibunya Ponijan, yang orang Afrika, dan ke mana-mana topless alias ga pake baju bagian atas. Mungkin karena film ini adalah dokumenter, dan ‘penampakan’ dari payudara tersebut sama sekali tidak ada tujuan seksual atau pornografi, jadi lulus sensor? Ya, mungkin aja. Tapi aku tetap aja agak “geli” ngeliatnya. Hehe…
Aku suka film ini, karena menurutku film ini berhasil mendeskripsikan begitu banyak dengan dialog yang sangat minim. Hampir-hampir ga ada. Paling-paling cuma orangtuanya yang ngomong, dengan bahasa mereka masing-masing, tanpa ada subtitle. Tapi menurutku juga nggak perlu. Aku suka bagian-bagian di mana keempat bayi melakukan hal-hal yang sama atau mirip, di tempat mereka masing-masing. Seperti ketika masing-masing bercanda dengan kucing peliharaan orangtua mereka. Atau ketika mereka masing-masing sudah mulai bisa merangkak, dan mulai menjelajah ke sana kemari dengan kemampuan baru mereka. Beberapa adegan juga bikin ketawa, ya karena melihat tingkah khas bayi yang pastinya masih lucu dan polos.
Ini beberapa momen masing-masing bayi yang jadi favoritku sepanjang film ini.
Favorite moment of Ponijao:
Waktu dia duduk sambil terkantuk-kantuk dan hampir jatuh terjengkal karena ketiduran, tapi tepat pada detik-detik terakhir dia langsung terbangun dan batal jatuh. Bagian ini bikin aku ketawa terbahak-bahak, terutama karena bagian yang dia hampir jatuh tapi batal itu terjadi dua kali.
Favorite moment of Mari:
Waktu dia mencoba untuk menyelesaikan permainan semacam puzzle, namun ga berhasil. Dia jadi nangis sendiri, bahkan sampe guling-guling karena depresi. Setelah nangis beberapa saat, dia mencoba lagi menyelesaikan permainan itu, namun belum juga bisa. Dan itu membuat dia nangis guling-guling lagi. Ini juga bikin aku ketawa, karena terjadi beberapa kali dengan pola yang sama dan reaksi yang sama juga.
Favorite moment of Bayar:
Waktu dia baru bisa berdiri, dan mencoba untuk naik ke kuda-kudaan. Sayangnya kuda-kudaannya agak jauh dari tempat dia pegangan, sementara dia belum cukup berani untuk melepas pegangannya dari tiang yang membantu dia berdiri. Tapi dia tetap menggerakkan kakinya mencoba untuk naik ke kuda-kudaannya. Akhirnya dia pegangan ke temannya yang berdiri di dekat dia dan membuat temennya itu nangis karena bajunya ditarik akibat usaha Bayar yang ingin pegangan.
Favorite moment of Hattie:
Waktu dia diajak ayahnya ke sebuah taman dan main mobil-mobilan. Si ayah meletakkan Hattie dan mobilnya di sebuah track yang bentuknya seperti perosotan, yang artinya bagian awalnya lebih tinggi dari bagian ujung. Hattie naik ke track itu dan mobilnya mulai meluncur, tapi si mobil tidak kunjung berhenti meskipun sudah sampai ke ujung track-nya. Si mobil terus berjalan sampai ke bagian taman yang rendah. Mobilnya terbalik dan Hattie pun jatuh, sang ayah buru-buru lari untuk menggendong anaknya yang jatuh karena kesalahannya.
Well, after all, menurutku film ini cukup bisa dinikmati. Terutama bagi yang suka dengan film ber-genre dokumenter dan juga suka melihat tingkah polah bayi-bayi yang lucu dan imut, ga ada salahnya untuk menyisihkan waktu dan menikmati “akting” 4 bayi dengan latar belakang yang berbeda-beda ini. Oh ya, sekedar informasi tambahan, film ini agak telat datang ke Jogja, karena produksinya sendiri sudah berakhir pada tahun 2009, dan mulai keluar di Amerika pada tahun 2010. Aku nggak tahu bagaimana dengan bioskop di kota lain di Indonesia, tapi di Jogja baru muncul bulan Januari 2011 ini. Yah, better late than never.
Finally, selamat nonton semuanya!
photo taken from here
***buat yang pengen nonton dan nggak pengen tahu terlalu banyak soal film ini karena takut ga seru lagi, sebaiknya tidak membaca post ini.
Like this:
3 bloggers like this post.