Tag Archive | skripsi

Kuliah, Skripsi, Wisuda: A Very Long Story of My Journey

Aku pengen cerita panjang nih. Aduh mungkin membosankan, tapi entah kenapa aku ingin cerita panjang lebar disertai dengan omelan-omelannya kalo perlu. Ingin menumpahkan segenap isi hati beserta kesenangan dan kesedihannya. Ya boleh ya?

Oke, jadi semua tahu dong kalo kuliah itu ga gampang? Hm, biar diperjelas lagi, kuliah dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan ilmu yang berguna dan meraih nilai yang bagus itu nggak gampang kan ya? Selama 4 tahun lebih di Jogja, aku menuntut ilmu di sebuah universitas yang (katanya) termasuk yang paling bagus se-Indonesia. Aku bangga. Tambah bangga ketika nilaiku nggak jelek-jelek amat. Yaah lumayan bersainglah. Bahkan sempat dapat beasiswa belajar satu semester ke negara tetangga. Maaf, bukan maksud nyombong, tapi ya Alhamdulillah, aku diberikan keberuntungan itu. Tapi tetap, itu semua nggak mudah. Bikin tugas, ujian, ngedengerin dosen di siang hari menyengat yang sebenarnya enak dipake tidur, banyak godaan dan cobaan yang harus dihadapi. But I survived it.

Kemudian ketika tuntas mendapatkan semua teori selama hampir empat tahun, ada sebuah “benda” yang harus diselesaikan demi mendapatkan gelar keserjanaan S1 itu. SIP kalo di fakultasku. Sarjana Ilmu Politik. Wuuzzz, ngeri ya? Padahal besok-besok kalo kamu ketemu aku di jalan dan ngajakin aku ngebahas soal teori ini-itu dalam politik jangan terlalu berharap aku bisa menjelaskannya dengan komprehensif. Anyway, “benda” yang aku bilang tadi namanya “skripsi”. Kalo dalam bahasa Inggris biasanya disebut “thesis” (kalo di Indonesia, thesis buat S2 aja kan ya? Kalo dalam English itu buat S1 juga).

Bikin skripsi ini buatku bahkan lebih sulit daripada kuliah. Kalo kuliah kita bareng temen-temen, walaupun ujian dan tugas sendiri-sendiri, tapi bisa share dan belajar bareng. Dan tugas dan ujian ada deadline-nya, mau ga mau kita disuruh disiplin. Kalo skripsi kita sendiri, topik kita pasti beda dengan temen-temen kita, ga ada yang maksa kita untuk disiplin. Deadline-nya kita bikin sendiri. Biasanya sih batas deadline-nya itu rasa malu karena jadi angkatan tua, rasa ga enak dengan orangtua, rasa iri dan cemburu dengan teman-teman yang sudah lebih dulu sukses, dan paksaan dari orang-orang sekeliling yang cukup peduli dan pengen liat kita cepet-cepet lulus. Karena itu skripsi itu lebih susah, dan aku sempat tersendat-sendat di awal pengerjaannya.

Awalnya aku menargetkan wisuda bulan November 2010, karena pada saat itu aku sudah mengajukan judul skripsi pada bulan Maret 2010 dan sudah di-ACC dengan dosen pembimbing. Perhitunganku, cukuplah 6-7 bulan buat mengerjakan proposal, seminar, kemudian menuntaskan draft, lalu sidang. Target yang sangat mungkin untuk dicapai sebenarnya. Tapi waktu itu aku belum KKN, dan harus melaksanakannya selama dua bulan, April dan Mei. Pada saat itu skripsiku baru sebatas judul dan satu halaman abstraksi saja. Bulan Juni pun aku habiskan buat istirahat dari kejenuhan KKN. Ketika baru akan mulai membuat proposal aku jatuh sakit sampai harus dirawat selama seminggu. Juni kulewatkan tanpa hasil. Pada awal bulan Juli, ketika sudah pulih dari sakit, aku memulai menulis proposalku, namun rasa malas menyerang sehingga butuh 1 bulan lebih untukku menyelesaikan proposal yang tebalnya hanya 13 halaman saja. Proposal itu akhirnya mendapatkan ACC untuk seminar pada pertengahan Agustus 2010. Aku mendaftar pada bulan itu dan menjalani seminar proposal pada tanggal 28 September 2010.

Selesai seminar, pikiranku lebih cerah, keinginan untuk mengerjakan bab-bab selanjutnya kembali menggebu. Namun pada saat itu aku sudah ragu bisa wisuda November. Karena untuk wisuda November aku paling tidak sudah sidang pendadaran pada Oktober, dan untuk bisa sidang pada bulan Oktober, draft skripsiku harus sudah di-ACC pada bulan September. Sementara September aku baru seminar proposal. Jadi sangat tidak mungkin. Maka target wisudaku pun mundur menjadi Februari 2011. Target yang mundur menyebabkan semangatku mengendor, karena berpikir target yang akan dicapai masih lama, masih 5 bulan, maka aku pun bersantai. Saking santainya, pasca seminar proposal, skripsiku tidak kusentuh begitu lama sehingga bulan Oktober pun terlewatkan begitu saja tanpa ada progres apa-apa. Pada suatu hari di awal November, semangatku muncul lagi, targetku adalah mnyelesaikan draft bulan itu karena aku ingin sidang pendadaran bulan Desember. Aku nggak mau sidang bulan Januari, karena terlalu mepet dengan wisuda, sementara pengurusan dan pendaftaran wisuda terkenal sangat ribet dan begitu banyak tetek bengek. Semangat kemudian datang lagi.

Kalo kamu masih ingat, awal November itu ada letusan merapi yang begitu dahsyat. Tepatnya tanggal 5 November. Saat itu, aku dan adik sudah diwanti-wanti oleh orangtua untuk pulang ke Bengkulu. Mereka khawatir dan baru bisa merasa tenang kalo kami keluar dari Jogja. Beberapa hari pertama di kampung halaman aku masih konsisten dengan tanggung jawabku dalam memenuhi target skripsi. Tapi lama-kelamaan aku mulai goyah. Jalan dengan teman SMA, membantu tanteku mengolah bahan disertasinya, sampai ke abang yang datang berkunjung ke rumah (ga nyalahin abang kooog, ini salahku sendiri. Ga boleh marah yaaa. Hehe… ). Akhirnya skripsiku terlupakan. Kembali ke Jogja, sudah akhir November. Aku pasrah. Aku sempat nangis karena takut nggak bisa memenuhi targetku yang sebenarnya sudah mundur. Wisuda Februari itu plan B, bukan plan A lagi. Masa plan B pun gagal, dan harus beralih ke plan C? Orangtuaku sempat bilang, “kalo nggak bisa Februari ya nggak apa-apa, daripada kamu stress sendiri. Nggak usah dipaksakan.” Begitu kata mereka. Aku ingat waktu itu pernah nelepon Ayah dan nangis sampai sesenggukan cuma karena berselisih jalan dengan dosen pembimbing yang sudah kutunggu-tunggu dan gagal bertemu. Segitu galaunya aku sampe masalah kecil pun bisa bikin aku nangis-nangis.

Karena orangtuaku sudah tidak menaruh pressure lagi, sampai awal Desember pun aku masih agak santai. Aaah, cinta betul sama Ayah dan Ibu. Tapi teman-teman seperjuanganku di kampus yang juga sama-sama ber-skripsi dan menargetkan Februari bilang bahwa aku masih punya kesempatan. Aku akhirnya semangat lagi, dan benar-benar fokus mengerjakan skripsi dengan harapan bisa dapat ACC dan daftar sidang pada bulan Desember, agar bisa sidang pada Januari 2011. Alhamdulillah, dosen pembimbingku sama sekali tidak mempersulit. Cuma dua kali konsultasi, beliau bersedia memberikan ACC. Ga terbayangkan betapa bersyukurnya aku waktu itu. Pada saat itu aku berpikir, andaikan ada halangan yang terjadi sampai aku nggak bisa wisuda pada bulan Februari, paling nggak aku sudah sidang bulan Januari. Itu adalah satu beban besar yang segera akan terlepas dari bahuku. Masalah wisuda, itu cuma sekedar seremoni aja, yang penting itu sidangnya.

Resmi tanggal 29 Desember 2010, aku mendaftar sidang untuk bulan Januari 2011. Seminggu kemudian, jadwal keluar. Giliran sidangku adalah tanggal 10 Januari 2010. Aku langsung deg-degan, nggak nafsu makan, ga bisa tidur… Sekali lagi, Alhamdulillah, begitu banyak dukungan yang aku dapatkan. Baik dari yang dekat maupun yang jauh. Di hari H, meskipun sempat terjadi beberapa kesulitan, seperti misunderstanding informasi, jadwal yang diundur, sampai ke presentasi sidang yang harus aku lakukan dua kali, semuanya berakhir dengan lancar. Perjuanganku mengerjakan skripsiku selama hampir 1 tahun berakhir secara tidak resmi pada hari itu. Memang masih ada revisi sana-sini sih, tapi secara de facto aku sudah jadi SIP. Namaku Karina Utami Dewi, SIP. Horeee!!

Aah, sudah sidang pendadaran, skripsi sudah diuji, lalu apa? Yak, wisuda. Harusnya ini merupakan momen membahagiakan, yang tak terlupakan, dan mungkin salah satu hal penting dalam hidup kita kan ya? Tapi nggak begitu dengan urusan pendaftarannya. Argh, bikin gondok setengah mati. Sejak selesai sidang itu aku sudah berkali-kali bolak-balik bagian akademik fakultas untuk cari tahu syarat-syarat pendaftaran wisuda. Tapi berkali-kali pula dijawab dengan, “blangkonya belum ada, mbak. Mungkin nanti tanggal 20.” Yasudah, aku tunggu. Dan ternyata memang tanggal segitu keluarnya. Blangko apakah itu sodara-sodara? Itu merupakan selembar kertas berisikan daftar hal-hal yang harus dilakukan oleh mahasiswa yang mau mendaftar wisuda. Salah satunya syarat tersebut adalah bebas pustaka/bebas pinjaman dari berbagai tempat. Antara lain perpustakaan jurusan HI, bagian keuangan dan kepegawaian Fisipol, perpustakaan Fisipol, perpustakaan pusat UGM, dan perpusda wilayah Yogyakarta. Yak, PERPUSDA WILAYAH YOGYAKARTA YANG AKU BAHKAN GA TAU LETAKNYA DI MANA. BORO-BORO MAU MINJEM BUKU DI SANA, LETAKNYA AJA AKU GA TAU DI MANA!

Oke, jadilah aku diwajibkan berkeliling ke tempat-tempat itu untuk minta cap dan tanda tangan petugasnya sebagai bukti bahwa aku sudah bebas dari pinjaman apapun. Tapi bukan itu saja yang aku gondok. Kalo sekedar bolak-balik ke berbagai tempat itu, okelah, nggak apa-apa. Sebagian besar memang masih dalam kompleks UGM. Kecuali Perpusda Yogyakarta yang letaknya di daerah dekat-dekat Bumijo sana. Nggak tau Bumijo? Yah, pokoknya lumayan jauh deh dari UGM! Oke, kalo itu mungkin masih bisa ditolerir, karena aku juga ke sana naik motor. Ga jalan kaki atau ngebis. Nah, tapi di tempat-tempat di mana aku harus meminta cap dan tanda tangan itu begitu banyak syaratnya yang harus dipenuhi.

Inilah syarat-syaratnya saudara-saudara: Di perpustakaan jurusan HI meminta satu sumbangan buku, trus minta softfile PDF skripsi yang di-copy ke CD dan disimpan dalam kotak yang bagus (ga mau yang plastik tipis, harus kotak yang bagus macam CD-CD yang dijual di disc tarra), pas foto, dan materai. Di perpustakaan Fisipol cuma minta softfile PDF dalam CD juga. Kotaknya ga harus bagus sih. Tapi PDF-nya harus dikasih bookmark gitu. Ntah apa itu. Dan punyaku ga ada bookmark-nya. Akhirnya dibilang sama mas petugasnya, kalau mau dibikinin bookmark di perpus bisa, tapi ada biayanya, Rp 5000. Dan plus administrasi untuk ngurus bebas pustakanya juga Rp 5000. Jadi aku kena Rp 10.000 di sana. Lalu ke perpustakaan pusat UGM. Di sana cuma isi formulir doang. Urusannya ga lama, paling sekitar 10 menit. Tapi waktu tanda tangan dan capnya sudah, si bapak petugas menyerahkan kertas sambil bilang, “lima belas mbak.” aku pun bertanya, “lima belas apa pak?” terus bapaknya bilang, “lima belas ribu.” Olala, ternyata aku disuruh mbayar toh. Sambil bete-bete gitu aku ngambil dompet dan nanya, “lima belas ribu buat apa sih Pak?” dalam hati menambahkan, masa kertas bukti bebas pustaka selembar gini doang harganya lima belas ribu? Lima ratus perak aja ga nyampe kali. Tapi bapaknya cuma menjawab sambil menunduk dan menghindari pandangan saya, dan bilang “ya buat administrasinya itu.” lalu aku berikanlah Rp 15.000 itu. Sudah berapa kenanya tadi? Rp 25.000 ya? Tapi itu belum termasuk beli CD dan kotaknya, beli buku, nge-burn, nge-print, cetak foto, dan beli materai lho ya. Itu semua ga tau aku berapa jumlahnya. Terlalu menyebalkan buat dihitung.

Lalu aku ke perpusda Yogyakarta. Waktu itu aku bareng sama temanku, Andrew namanya. Si Andrew ini asli Jogja jadi tau di mana letaknya. Di sana juga ga banyak sih syaratnya. Cuma isi formulir, tunjukkan KTM, lalu bayar Rp 1000 untuk biaya administrasinya. Ya paling korban bensin karena letaknya yang agak jauh. Dan yang agak konyol menurutku adalah bahwa kita disuruh tunjukkin bukti bebas pustaka dari sebuah perpustakaan di mana kita ga pernah jadi anggotanya atau pun meminjam buku dari sana. Bahkan tau letaknya aja nggak. Dan kalo pun kita pengen minjem buku di sana setelah kita ga jadi mahasiswa lagi emang ga boleh? Konyol kan? Konyol banget.

Oke, tempat berikutnya adalah bagian keuangan dong. Nah bagian keuangan ini juga ga macem-macem syaratnya. Hanya satu saja, tunjukkan bukti pembayaran pendaftaran wisuda. Tapi tahukah sodara-sodara sekalian, berapa biaya pendaftaran yang dikenakan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik kepada setiap mahasiswa yang mau ikut wisuda? Biayanya adalah Rp 475.000, sodara-sodara! Hampir setengah juta jumlahnya. Rinciannya? Ah macam-macam deh. Sewa toga lah, konsumsi lah, majalah entah apa, kenang-kenangan dari Fisipol (kenang-kenangan namanya tapi kita harus beli sendiri), kartu alumni, dan macam-macam lagi. Too painful for me to go through the detail of the list. Jadi, intinya itu mahal! Mahal sekali!

Lebih menyakitkan lagi ketika tahu bahwa ternyata setiap fakultas itu beda-beda. Ista, temen kosku, mahasiswa D3 Ekonomi UGM dan juga wisuda pada bulan Februari, hanya membayar sekitar tiga ratus ribuan ke fakultasnya. Bulan Agustus lalu, waktu si abang wisuda, aku ingat dia hanya bayar sekitar dua ratus ribuan. Itu memang masih mahal, tapi kan nggak mendekati setengah juta jugaa??? Jadi aku gondok. Gondok dan kesal. Oh, dan bukan itu saja. Jadi begini, setelah membaca apa yang aku tulis, semuanya setuju dong ya itu bukan syarat yang gampang untuk dipenuhi. Maksudnya, butuh banyak waktu karena harus ke sana kemari, belum lagi syarat-syarat yang harus dipenuhi, belum lagi birokrasinya. Plus, setelah membayar hampir setengah juta itu itu masih harus log in lagi ke website UGM untuk daftar wisudanya, lalu harus ngeprint bermacam-macam form, dan harus cetak pas foto hitam putih dan berwarna. Bagi yang belum punya, repotnya nambah berarti. Harus bikin pasfoto dulu. Ribet pokoknya.

Nah blangko yang harus dicap dan di tanda tangani itu kan baru keluar tanggal 20 ya? Dan tanggal 20 itu adalah hari Kamis. Lalu waktu aku tanya mas-mas di front office akademik kapan paling lambat, masa dia bilang tanggal 24?? Iya, tanggal 24 Januari 2011!! Yang itu berarti hari Senin. Sementara Sabtu dan Minggu kan segala macam kantor, perpustakaan, dan kampus libur!! Gemes kan?! Singkat banget waktunya. Lalu aku sampaikan kepada masnya itu, “masa hari Senin sih mas? Hari Selasa boleh lah ya? Singkat banget waktunya ini. Saya udah bolak-balik ke sini dari minggu lalu blangkonya ini ga keluar. Giliran keluar, baru hari Kamis masa Senin sudah harus dipenuhi?”, lalu masnya bilang, “iya nih, ga tau nih akademik,” waktu denger gitu rasanya aku pengen joget-joget sambil koprol dan makan rumput. Ih, kurang banget sih koordinasinya?! Ga ada omong-omongan emang ya? Tiap hari ketemu gitu di ruangan ga cerita gitu ya, “eh pak, itu lho dari kemaren mahasiswa sudah pada nanyain syarat wisuda, mbok cepetan itu blangkonya dikeluarkan.” Kalo pun emang pengen keluarnya lambat, ya deadline-nya juga jangan sesuka hati gitu dong ah. Ga asik banget deh ah!

Dan masih masalah koordinasi dan deadline ya, bener-bener aneh deh. Kan kalo di bagian front office bilangnya paling lambat daftar tanggal 24 Januari 2011. Tapi waktu dapat kertas yang isinya password dan username untuk log in daftar wisuda, katanya paling lambat log in dilakukan pada tanggal 26 Januari 2011. Yang lebih yahud lagi, deadline dari Jurusan HI. Syarat-syarat untuk mengumpulkan buku, pasfoto, materai, dan PDF skripsi itu paling lambat dikumpulkan pada tanggal 28 Januari 2011. Gini yah, kantor jurusan HI sama front office Fakultas itu jaraknya bahkan ga sampe 20 langkah lho. Ngesot juga belum lecet udah keburu sampe. Masa untuk menyesuaikan deadline aja mereka ga bisa sih? Campur aduk perasaanku. Pengen ketawa iya, pengen ngamuk iya, pengen nangis juga iya. Sedih aja, segitu gedenya kita bayar, untuk mendapatkan profesionalitas yang sangat sederhana aja kita ga bisa.

Melihat persyaratan yang segitu ribet dan njelimetnya itu, aku malah tertantang buat menyelesaikan dalam satu hari. Waktu itu hari Kamis, tanggal 20 Februari 2011, pukul 10 pagi, adalah waktu di mana aku mendapatkan blangko itu. Di hari yang sama, pukul 2 siang, aku sudah berhasil menyelesaikan semuanya. Yep, mendapatkan cap dan tanda tangan dari 5 tempat, termasuk perpusda yang letaknya di ujung dunia (lebay). Antri di bank untuk bayar wisuda. Ke bagian akademik untuk minta username dan password. Lalu log in lewat komputer di kos, ngisi form. Ngeprint form. Lalu cetak foto. Beli materai. Lalu kembali ke kampus untuk mengumpulkan semuanya. Masih sempat-sempatnya menempelkan fotoku di berbagai form yang jumlahnya entah seberapa banyak itu. Ya, semuanya aku selesaikan dalam waktu yang sesingkat itu saja. Kenapa? Karena aku males khawatir lama-lama. Ga tenang kalo urusan itu belum selesai. Aku juga males gondok lama-lama. Jadi deadline yang pendek itu malah jadi tantangan buatku. Buktinya, Alhamdulillah aku bisa menyelesaikan semuanya dalam waktu sekitar 4 jam saja. Dan aku ga lupa makan siang lho itu. Hehehe…

Dan memang terbukti, setelah itu semua selesai, kekesalanku mereda. Dan sesungguhnya aku merasa tenang dan senang juga. Kebetulan hari itu nilai skripsiku juga keluar. A- nilainya. Ya memang bukan A yang sempurna, tapi tetap A. Padahal waktu itu aku sudah yakin bakal dapet B. Tapi Allah itu memang Maha Baik. Aku pun tinggal menyongsong wisuda yang insya Allah sebulan lagi, dan lulus dengan nilai skripsi yang menyenangkan dan IPK yang sama sekali tidak mengecewakan. Semoga ke depannya juga bisa mendapatkan pekerjaan dan kehidupan yang lebih baik. Asal mau berdoa dan berusaha, tidak ada yang tidak mungkin kan?

 

Hasil akhirnya, hanya 77 halaman saja, termasuk halaman judul, daftar isi, dll. Tapi lumayanlah buat anak HI yang minimal skripsinya 40 halaman saja.

Aduh, maaf ya tulisan ini panjangnya nggak ketulungan, dan aku pake ngomel-ngomel pula. Tapi sungguh aku nggak nyangka, perjalananku selama 4 tahun lebih di UGM ternyata bisa kutuliskan dalam satu postingan ini saja. Sesungguhnya ada 5 buah buku diary yang mencatat kehidupanku sehari-hari, tapi biar itu jadi konsumsiku sendiri saja. Nggak kerasa sebentar lagi aku sudah bukan mahasiswa S1 HI UGM lagi. Huwaaa… Excited to see what will happen in the future!! \(^o^)/

Recent Updates

Oh hello! Hehe, I know it’s been a while since the last time I wrote something in this blog. I’m sorrrrryyyy. I’ve been meaning to update my blog but I just couldn’t find the right time to do so. But now things are a lot easier in my part, so I start writing again. Well, this post is gonna be really random. Basically, about things that just recently happened in my life. So here it goes!

Recent Activities:

Mainly, finishing my undergraduate thesis! Hey, I told you I really want to graduate on February. So I’ve been trying my best to make it happen. So I worked my ass off. Just about three days ago, the professor who has been supervising my thesis just gave his “OK” for me. Or should we call it “ACC”? yeah, those three letters that determine whether or not my thesis ready to be tested, in front of three lecturers, including him (the professor that supervises my undergraduate thesis). I don’t even know what “ACC” means or stands for. Anyone knows? The most important thing is, I’m just a few steps to go out of UGM’s gate with a diploma in my hand. Hope everything goes well so I can really graduate on February. Wish me luck, people!

see the words in the red circle? it says "ACC". I'm soooo excited!

Recent events attended:

There were two pretty big events I just attended recently. Both happened to be family events. One was from the family on my mother’s side. It was the wedding of my cousin, whom I call Kak Tara. It held in Palembang on December the 5th. So me and my brother flew to Palembang from Jogja two days before, and met up with my mother and the rest of the family from her side there. It was very touchy and all. Because I’ve never really been into a wedding before. Well, I’ve been to some wedding receptions, of course. But not when they actually stated the vows, or what we usually called “akad nikah”. And Kak Tara is my first cousin who got married. The rest are still single. I even cried a bit when I hugged and kissed her cheek and said, “congratulations, newlywed.” she said, “pray for me…”, and heck yeah I will pray for her and the happiness of her newly-built family. :)

Kak Tara and Mas Heru, the husband. This photo taken right after "akad nikah"

The second event I recently attended was held in Bengkulu, my very own hometown, on December 25th. It was the 50th wedding anniversary of my grandparents (from my father’s side). And since five of their grandchildren are studying in Jogja (me, my brother, and my other three cousins), and the other one is in Jakarta, we were demanded to go back home for a little while, yet the other three are still in Bengkulu. Oh and it was holidays anyway. The golden wedding anniversary turned out to be a surprise for my grandparents. Because a lot of relatives and extended families were also invited to come to celebrate. Oh, and it was held in a hall of some hotel. For this elderly yet lovely couple I also pray for their happiness. Love you, Nenek and Datuk. :*

they still got it even after 50 years of marriage! :)

Recent Gifts

Well, maybe the “s” after the word “gift” isn’t really needed because there was really one meaningful gift I recently got. It was from “him”, that certain person, who is sooo faaar faaar away from me. He sent a bouquet of flowers, consist of 9 roses, representing our 9 months being together. Well, because he was (and, still is) not here, so he asked someone to deliver it to me. I happen to know this someone, so I actually laughed when I saw him in front of my place, and asked “what are you doing here?”, and I was amazed when he handed me the flowers, and say “this is from him…” and I’m simply flattered. I know he cares, and he still managed to show that he cares even if he’s away. :) A few moments after that I couldn’t help to think, how many roses will I get after 50 years together? :P

the "9 red roses" :)

Recent Books I read

Well, I don’t usually share about books I read in my blog. Then again, I’m not that kind of people who read serious books. I’m more of a person who goes for light readings. I prefer novels: romance, mysteries, fantasies, or adventures. It simply depends on my mood. Well, bottom line: fictions. My favorites of all times is Harry Potter. I thought J. K. Rowling is a genius. But another author that is also my favorite is Meg Cabot. I specifically collect her books. I like her because, first of all, her stories are light (hehe). And second of all, I like her ideas. One time she wrote a story about teenage girl who can see and actually mediate ghosts. The other time it’s about an adult in her twenties who solves murder mysteries. But there’s always romance in her stories no matter how weird the lives of her characters are. And that’s what I love about her. I recently read two of her books. One is called “Queen of Babble”, about a big mouth girl who accidentally got herself lost in Europe. And the other one is “the Mediator”. Well, the Mediator is actually two books in one. So, technically I’ve just read three books. But, in physical form, there are only two. The Mediator is the story about the teenage girl who can see ghosts, just the one that I’ve mentioned before. Well, to be honest, I think these books are more for girls, because of the characters who are also girls. And also about the romance things, that is usually hated by boys. :P Anywho, I enjoy reading both of these books. You can check out some of Meg Cabot’s books as well if you like reading romance novels. :)

"Queen of Babble" and "the Mediator: Mean Spirits & Young Blood"

Soooo, I guess that is all my updates. I really hope to write some more. And I also really want to do some blogwalking again. I hope everything is going right with my academic life so I can have more fun while accessing the internet. (instead of only finding some readings related to my thesis) :)

Speaking About the Future

No, let’s not talk about married and having children yet. Let alone having my own kindergarten at home. Or teaching English somewhere (just some of my crazy dreams). I’m talking about some reading materials in my laptop (some of them also lying on my floor), waiting for me to read them, and mix them with my own thought, to create something called undergraduate dissertation. Or what we usually call in Bahasa Indonesia, SKRIPSI.

Hello, hello… That’s why I rarely go online and do stuff that I usually do in internet. It’s because I’m avoiding distraction, because I’m focusing on that thing. Yes, that thing, the “S” thing. Although, I have to admit it’s soooooo hard to stop myself from being lazy. There were times where I couldn’t even touch my laptop and press the “power” button just because I was too lazy to do it. Well, part of myself also felt a little bit afraid, afraid of what I’m gonna face once I open the “S” document. What if I start it and then suddenly go blank? Oh, well, the point is, I can always find excuses to not doing it. So, that’s why I’m kinda proud of myself, because yesterday I was brave enough to actually turned on my laptop and wrote something. :D

But I can’t even be more proud to everyone who keeps encouraging me, giving me tips, and praying for me. Those tips, and also those motivational talks, are really great! Thanks, I will try my best for my future. Yes, because this is one important phase in my life that I have to deal with to finally face the real future. Like it or not, my future requires me to finish this “S” thing. By the way, I try to motivate myself too. I named the “S” folder with “FUN STUFF TO DO”. Well, sometimes it works, sometimes it doesn’t. But at least I tried. :P

Check out this photo if you don’t believe me.

 

check out the red circle. That's the folder!

 

Did you see it? Yeah, I actually named it “FUN STUFF TO DO”, although sometimes I think it’s not that fun. But, yeah, I’m that crazy. Hehe, wish me luck and please pray for me that I will finish it as soon as possible and get the best grade I can. :)

And I’d like to quote someone who once wrote this on his twitter: “TO THE FUTURE!”

I’m Getting Closer

It’s just September but I already went back to my hometown for 3 times, just for this year. And the most favorite question asked by people (family and friends back there) is: when will you graduate?

Earlier this year when I went home to Bengkulu, I said I probably be graduate on November this year. But then, the last time I was there (which is just a few weeks ago), when people asked the same question again, I told them it’s not gonna be this year. I said, “I’ll graduate soon. Next year, on February, I hope. Just pray for me.”

Honestly, I’m tired being asked with the same question, over and over and over again. And it’s just getting worse day by day because the clock is ticking, and I’m not really showing any progress. It’s also not helping when my parents and family know that  a lot of my friends, especially those who went to the same highschool with me, have graduated, and even some of them are already working. So it sucks, really.

I actually have an excellent excuse for my being late on graduation. When there’s someone ask, “why don’t you graduate yet?”, I always say, “It’s because I had an exchange in Singapore for one semester. Remember? So I took one extra semester when I got back home to UGM. So that’s why I can’t graduate yet.”

But, now, I don’t know. I feel like the excuse is getting lame, and I don’t think I can use it for a very long time. Because not only it’s an excuse that will allow me to not work hard on my thesis, but it will also make me sound like I’m bragging, you know. Because telling people that I had granted some money to go abroad for an exchange doesn’t sound really humble. It’s just about time until there’s someone who is brave (or care) enough to say to my face, “you know what? Singapore was like 1 year ago. Get over it and finish your goddamn thesis, you fool.” Well, not exactly like that, but it’s just possible if there’s someone come up to me and say things that pretty much sound like it.

So, I think I should pray and try harder now. Speaking of thesis, I just had a seminar for my thesis proposal yesterday. So I guess that’s one progress, isn’t it? Well, I was terrified at first, but as soon as I got into the seminar room and faced the three professors (all are male, I don’t know why it made me even more scared), all the nerves went away. It ended up more like a discussion, with them telling me what to do and what not to do to make my thesis better.

Now all I need to do is work my ass off to finish the thesis and pray for the best. And if there’s people come to me and ask, “why don’t you graduate yet?”, my answer will be, “I’m still working on it. Chill, I’m getting closer.” Singapore might come up once in a while as an excuse, but only if people ask for more details. And it’s gonna be wonderful if you don’t ask too much. So now, stop asking and just help me praying, will ya? :)

Senang

Senang!

Hari ini si abang wisuda (akhirnyaaa).

Terus besok tanggal 20 kita 5 bulanan (semoga selamanya, aamiin).

Terus, yang terakhir, akhirnya proposal skripsiku di-ACC. Horeeee… One step closer to the graduation.

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan cobaan untuk membuat manusia menjadi lebih sabar, kuat, dan dewasa, dan kebahagiaan untuk membuat manusia terus bersyukur.

Alhamdulillah wa syukurillah, Allahu akbar! :)

Malas

Aku tahu, aku tahu, harusnya proposalku udah selesai seminggu yang lalu. Tapi yang terjadi tidak ada progres sama sekali. Ayah Ibu maafkan aku. Tapi aku masih belum bisa menghilangkan rasa malasku ini. Please, I hope you still want to give me some more time. Mungkin aku ga akan bisa lulus November, dan maafkan aku sekali lagi buat itu. Masih belum ada semangat, itu saja. Entah kenapa. Maaf maaf maaf…