Tag Archive | Yogyakarta

Kuliah, Skripsi, Wisuda: A Very Long Story of My Journey

Aku pengen cerita panjang nih. Aduh mungkin membosankan, tapi entah kenapa aku ingin cerita panjang lebar disertai dengan omelan-omelannya kalo perlu. Ingin menumpahkan segenap isi hati beserta kesenangan dan kesedihannya. Ya boleh ya?

Oke, jadi semua tahu dong kalo kuliah itu ga gampang? Hm, biar diperjelas lagi, kuliah dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan ilmu yang berguna dan meraih nilai yang bagus itu nggak gampang kan ya? Selama 4 tahun lebih di Jogja, aku menuntut ilmu di sebuah universitas yang (katanya) termasuk yang paling bagus se-Indonesia. Aku bangga. Tambah bangga ketika nilaiku nggak jelek-jelek amat. Yaah lumayan bersainglah. Bahkan sempat dapat beasiswa belajar satu semester ke negara tetangga. Maaf, bukan maksud nyombong, tapi ya Alhamdulillah, aku diberikan keberuntungan itu. Tapi tetap, itu semua nggak mudah. Bikin tugas, ujian, ngedengerin dosen di siang hari menyengat yang sebenarnya enak dipake tidur, banyak godaan dan cobaan yang harus dihadapi. But I survived it.

Kemudian ketika tuntas mendapatkan semua teori selama hampir empat tahun, ada sebuah “benda” yang harus diselesaikan demi mendapatkan gelar keserjanaan S1 itu. SIP kalo di fakultasku. Sarjana Ilmu Politik. Wuuzzz, ngeri ya? Padahal besok-besok kalo kamu ketemu aku di jalan dan ngajakin aku ngebahas soal teori ini-itu dalam politik jangan terlalu berharap aku bisa menjelaskannya dengan komprehensif. Anyway, “benda” yang aku bilang tadi namanya “skripsi”. Kalo dalam bahasa Inggris biasanya disebut “thesis” (kalo di Indonesia, thesis buat S2 aja kan ya? Kalo dalam English itu buat S1 juga).

Bikin skripsi ini buatku bahkan lebih sulit daripada kuliah. Kalo kuliah kita bareng temen-temen, walaupun ujian dan tugas sendiri-sendiri, tapi bisa share dan belajar bareng. Dan tugas dan ujian ada deadline-nya, mau ga mau kita disuruh disiplin. Kalo skripsi kita sendiri, topik kita pasti beda dengan temen-temen kita, ga ada yang maksa kita untuk disiplin. Deadline-nya kita bikin sendiri. Biasanya sih batas deadline-nya itu rasa malu karena jadi angkatan tua, rasa ga enak dengan orangtua, rasa iri dan cemburu dengan teman-teman yang sudah lebih dulu sukses, dan paksaan dari orang-orang sekeliling yang cukup peduli dan pengen liat kita cepet-cepet lulus. Karena itu skripsi itu lebih susah, dan aku sempat tersendat-sendat di awal pengerjaannya.

Awalnya aku menargetkan wisuda bulan November 2010, karena pada saat itu aku sudah mengajukan judul skripsi pada bulan Maret 2010 dan sudah di-ACC dengan dosen pembimbing. Perhitunganku, cukuplah 6-7 bulan buat mengerjakan proposal, seminar, kemudian menuntaskan draft, lalu sidang. Target yang sangat mungkin untuk dicapai sebenarnya. Tapi waktu itu aku belum KKN, dan harus melaksanakannya selama dua bulan, April dan Mei. Pada saat itu skripsiku baru sebatas judul dan satu halaman abstraksi saja. Bulan Juni pun aku habiskan buat istirahat dari kejenuhan KKN. Ketika baru akan mulai membuat proposal aku jatuh sakit sampai harus dirawat selama seminggu. Juni kulewatkan tanpa hasil. Pada awal bulan Juli, ketika sudah pulih dari sakit, aku memulai menulis proposalku, namun rasa malas menyerang sehingga butuh 1 bulan lebih untukku menyelesaikan proposal yang tebalnya hanya 13 halaman saja. Proposal itu akhirnya mendapatkan ACC untuk seminar pada pertengahan Agustus 2010. Aku mendaftar pada bulan itu dan menjalani seminar proposal pada tanggal 28 September 2010.

Selesai seminar, pikiranku lebih cerah, keinginan untuk mengerjakan bab-bab selanjutnya kembali menggebu. Namun pada saat itu aku sudah ragu bisa wisuda November. Karena untuk wisuda November aku paling tidak sudah sidang pendadaran pada Oktober, dan untuk bisa sidang pada bulan Oktober, draft skripsiku harus sudah di-ACC pada bulan September. Sementara September aku baru seminar proposal. Jadi sangat tidak mungkin. Maka target wisudaku pun mundur menjadi Februari 2011. Target yang mundur menyebabkan semangatku mengendor, karena berpikir target yang akan dicapai masih lama, masih 5 bulan, maka aku pun bersantai. Saking santainya, pasca seminar proposal, skripsiku tidak kusentuh begitu lama sehingga bulan Oktober pun terlewatkan begitu saja tanpa ada progres apa-apa. Pada suatu hari di awal November, semangatku muncul lagi, targetku adalah mnyelesaikan draft bulan itu karena aku ingin sidang pendadaran bulan Desember. Aku nggak mau sidang bulan Januari, karena terlalu mepet dengan wisuda, sementara pengurusan dan pendaftaran wisuda terkenal sangat ribet dan begitu banyak tetek bengek. Semangat kemudian datang lagi.

Kalo kamu masih ingat, awal November itu ada letusan merapi yang begitu dahsyat. Tepatnya tanggal 5 November. Saat itu, aku dan adik sudah diwanti-wanti oleh orangtua untuk pulang ke Bengkulu. Mereka khawatir dan baru bisa merasa tenang kalo kami keluar dari Jogja. Beberapa hari pertama di kampung halaman aku masih konsisten dengan tanggung jawabku dalam memenuhi target skripsi. Tapi lama-kelamaan aku mulai goyah. Jalan dengan teman SMA, membantu tanteku mengolah bahan disertasinya, sampai ke abang yang datang berkunjung ke rumah (ga nyalahin abang kooog, ini salahku sendiri. Ga boleh marah yaaa. Hehe… ). Akhirnya skripsiku terlupakan. Kembali ke Jogja, sudah akhir November. Aku pasrah. Aku sempat nangis karena takut nggak bisa memenuhi targetku yang sebenarnya sudah mundur. Wisuda Februari itu plan B, bukan plan A lagi. Masa plan B pun gagal, dan harus beralih ke plan C? Orangtuaku sempat bilang, “kalo nggak bisa Februari ya nggak apa-apa, daripada kamu stress sendiri. Nggak usah dipaksakan.” Begitu kata mereka. Aku ingat waktu itu pernah nelepon Ayah dan nangis sampai sesenggukan cuma karena berselisih jalan dengan dosen pembimbing yang sudah kutunggu-tunggu dan gagal bertemu. Segitu galaunya aku sampe masalah kecil pun bisa bikin aku nangis-nangis.

Karena orangtuaku sudah tidak menaruh pressure lagi, sampai awal Desember pun aku masih agak santai. Aaah, cinta betul sama Ayah dan Ibu. Tapi teman-teman seperjuanganku di kampus yang juga sama-sama ber-skripsi dan menargetkan Februari bilang bahwa aku masih punya kesempatan. Aku akhirnya semangat lagi, dan benar-benar fokus mengerjakan skripsi dengan harapan bisa dapat ACC dan daftar sidang pada bulan Desember, agar bisa sidang pada Januari 2011. Alhamdulillah, dosen pembimbingku sama sekali tidak mempersulit. Cuma dua kali konsultasi, beliau bersedia memberikan ACC. Ga terbayangkan betapa bersyukurnya aku waktu itu. Pada saat itu aku berpikir, andaikan ada halangan yang terjadi sampai aku nggak bisa wisuda pada bulan Februari, paling nggak aku sudah sidang bulan Januari. Itu adalah satu beban besar yang segera akan terlepas dari bahuku. Masalah wisuda, itu cuma sekedar seremoni aja, yang penting itu sidangnya.

Resmi tanggal 29 Desember 2010, aku mendaftar sidang untuk bulan Januari 2011. Seminggu kemudian, jadwal keluar. Giliran sidangku adalah tanggal 10 Januari 2010. Aku langsung deg-degan, nggak nafsu makan, ga bisa tidur… Sekali lagi, Alhamdulillah, begitu banyak dukungan yang aku dapatkan. Baik dari yang dekat maupun yang jauh. Di hari H, meskipun sempat terjadi beberapa kesulitan, seperti misunderstanding informasi, jadwal yang diundur, sampai ke presentasi sidang yang harus aku lakukan dua kali, semuanya berakhir dengan lancar. Perjuanganku mengerjakan skripsiku selama hampir 1 tahun berakhir secara tidak resmi pada hari itu. Memang masih ada revisi sana-sini sih, tapi secara de facto aku sudah jadi SIP. Namaku Karina Utami Dewi, SIP. Horeee!!

Aah, sudah sidang pendadaran, skripsi sudah diuji, lalu apa? Yak, wisuda. Harusnya ini merupakan momen membahagiakan, yang tak terlupakan, dan mungkin salah satu hal penting dalam hidup kita kan ya? Tapi nggak begitu dengan urusan pendaftarannya. Argh, bikin gondok setengah mati. Sejak selesai sidang itu aku sudah berkali-kali bolak-balik bagian akademik fakultas untuk cari tahu syarat-syarat pendaftaran wisuda. Tapi berkali-kali pula dijawab dengan, “blangkonya belum ada, mbak. Mungkin nanti tanggal 20.” Yasudah, aku tunggu. Dan ternyata memang tanggal segitu keluarnya. Blangko apakah itu sodara-sodara? Itu merupakan selembar kertas berisikan daftar hal-hal yang harus dilakukan oleh mahasiswa yang mau mendaftar wisuda. Salah satunya syarat tersebut adalah bebas pustaka/bebas pinjaman dari berbagai tempat. Antara lain perpustakaan jurusan HI, bagian keuangan dan kepegawaian Fisipol, perpustakaan Fisipol, perpustakaan pusat UGM, dan perpusda wilayah Yogyakarta. Yak, PERPUSDA WILAYAH YOGYAKARTA YANG AKU BAHKAN GA TAU LETAKNYA DI MANA. BORO-BORO MAU MINJEM BUKU DI SANA, LETAKNYA AJA AKU GA TAU DI MANA!

Oke, jadilah aku diwajibkan berkeliling ke tempat-tempat itu untuk minta cap dan tanda tangan petugasnya sebagai bukti bahwa aku sudah bebas dari pinjaman apapun. Tapi bukan itu saja yang aku gondok. Kalo sekedar bolak-balik ke berbagai tempat itu, okelah, nggak apa-apa. Sebagian besar memang masih dalam kompleks UGM. Kecuali Perpusda Yogyakarta yang letaknya di daerah dekat-dekat Bumijo sana. Nggak tau Bumijo? Yah, pokoknya lumayan jauh deh dari UGM! Oke, kalo itu mungkin masih bisa ditolerir, karena aku juga ke sana naik motor. Ga jalan kaki atau ngebis. Nah, tapi di tempat-tempat di mana aku harus meminta cap dan tanda tangan itu begitu banyak syaratnya yang harus dipenuhi.

Inilah syarat-syaratnya saudara-saudara: Di perpustakaan jurusan HI meminta satu sumbangan buku, trus minta softfile PDF skripsi yang di-copy ke CD dan disimpan dalam kotak yang bagus (ga mau yang plastik tipis, harus kotak yang bagus macam CD-CD yang dijual di disc tarra), pas foto, dan materai. Di perpustakaan Fisipol cuma minta softfile PDF dalam CD juga. Kotaknya ga harus bagus sih. Tapi PDF-nya harus dikasih bookmark gitu. Ntah apa itu. Dan punyaku ga ada bookmark-nya. Akhirnya dibilang sama mas petugasnya, kalau mau dibikinin bookmark di perpus bisa, tapi ada biayanya, Rp 5000. Dan plus administrasi untuk ngurus bebas pustakanya juga Rp 5000. Jadi aku kena Rp 10.000 di sana. Lalu ke perpustakaan pusat UGM. Di sana cuma isi formulir doang. Urusannya ga lama, paling sekitar 10 menit. Tapi waktu tanda tangan dan capnya sudah, si bapak petugas menyerahkan kertas sambil bilang, “lima belas mbak.” aku pun bertanya, “lima belas apa pak?” terus bapaknya bilang, “lima belas ribu.” Olala, ternyata aku disuruh mbayar toh. Sambil bete-bete gitu aku ngambil dompet dan nanya, “lima belas ribu buat apa sih Pak?” dalam hati menambahkan, masa kertas bukti bebas pustaka selembar gini doang harganya lima belas ribu? Lima ratus perak aja ga nyampe kali. Tapi bapaknya cuma menjawab sambil menunduk dan menghindari pandangan saya, dan bilang “ya buat administrasinya itu.” lalu aku berikanlah Rp 15.000 itu. Sudah berapa kenanya tadi? Rp 25.000 ya? Tapi itu belum termasuk beli CD dan kotaknya, beli buku, nge-burn, nge-print, cetak foto, dan beli materai lho ya. Itu semua ga tau aku berapa jumlahnya. Terlalu menyebalkan buat dihitung.

Lalu aku ke perpusda Yogyakarta. Waktu itu aku bareng sama temanku, Andrew namanya. Si Andrew ini asli Jogja jadi tau di mana letaknya. Di sana juga ga banyak sih syaratnya. Cuma isi formulir, tunjukkan KTM, lalu bayar Rp 1000 untuk biaya administrasinya. Ya paling korban bensin karena letaknya yang agak jauh. Dan yang agak konyol menurutku adalah bahwa kita disuruh tunjukkin bukti bebas pustaka dari sebuah perpustakaan di mana kita ga pernah jadi anggotanya atau pun meminjam buku dari sana. Bahkan tau letaknya aja nggak. Dan kalo pun kita pengen minjem buku di sana setelah kita ga jadi mahasiswa lagi emang ga boleh? Konyol kan? Konyol banget.

Oke, tempat berikutnya adalah bagian keuangan dong. Nah bagian keuangan ini juga ga macem-macem syaratnya. Hanya satu saja, tunjukkan bukti pembayaran pendaftaran wisuda. Tapi tahukah sodara-sodara sekalian, berapa biaya pendaftaran yang dikenakan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik kepada setiap mahasiswa yang mau ikut wisuda? Biayanya adalah Rp 475.000, sodara-sodara! Hampir setengah juta jumlahnya. Rinciannya? Ah macam-macam deh. Sewa toga lah, konsumsi lah, majalah entah apa, kenang-kenangan dari Fisipol (kenang-kenangan namanya tapi kita harus beli sendiri), kartu alumni, dan macam-macam lagi. Too painful for me to go through the detail of the list. Jadi, intinya itu mahal! Mahal sekali!

Lebih menyakitkan lagi ketika tahu bahwa ternyata setiap fakultas itu beda-beda. Ista, temen kosku, mahasiswa D3 Ekonomi UGM dan juga wisuda pada bulan Februari, hanya membayar sekitar tiga ratus ribuan ke fakultasnya. Bulan Agustus lalu, waktu si abang wisuda, aku ingat dia hanya bayar sekitar dua ratus ribuan. Itu memang masih mahal, tapi kan nggak mendekati setengah juta jugaa??? Jadi aku gondok. Gondok dan kesal. Oh, dan bukan itu saja. Jadi begini, setelah membaca apa yang aku tulis, semuanya setuju dong ya itu bukan syarat yang gampang untuk dipenuhi. Maksudnya, butuh banyak waktu karena harus ke sana kemari, belum lagi syarat-syarat yang harus dipenuhi, belum lagi birokrasinya. Plus, setelah membayar hampir setengah juta itu itu masih harus log in lagi ke website UGM untuk daftar wisudanya, lalu harus ngeprint bermacam-macam form, dan harus cetak pas foto hitam putih dan berwarna. Bagi yang belum punya, repotnya nambah berarti. Harus bikin pasfoto dulu. Ribet pokoknya.

Nah blangko yang harus dicap dan di tanda tangani itu kan baru keluar tanggal 20 ya? Dan tanggal 20 itu adalah hari Kamis. Lalu waktu aku tanya mas-mas di front office akademik kapan paling lambat, masa dia bilang tanggal 24?? Iya, tanggal 24 Januari 2011!! Yang itu berarti hari Senin. Sementara Sabtu dan Minggu kan segala macam kantor, perpustakaan, dan kampus libur!! Gemes kan?! Singkat banget waktunya. Lalu aku sampaikan kepada masnya itu, “masa hari Senin sih mas? Hari Selasa boleh lah ya? Singkat banget waktunya ini. Saya udah bolak-balik ke sini dari minggu lalu blangkonya ini ga keluar. Giliran keluar, baru hari Kamis masa Senin sudah harus dipenuhi?”, lalu masnya bilang, “iya nih, ga tau nih akademik,” waktu denger gitu rasanya aku pengen joget-joget sambil koprol dan makan rumput. Ih, kurang banget sih koordinasinya?! Ga ada omong-omongan emang ya? Tiap hari ketemu gitu di ruangan ga cerita gitu ya, “eh pak, itu lho dari kemaren mahasiswa sudah pada nanyain syarat wisuda, mbok cepetan itu blangkonya dikeluarkan.” Kalo pun emang pengen keluarnya lambat, ya deadline-nya juga jangan sesuka hati gitu dong ah. Ga asik banget deh ah!

Dan masih masalah koordinasi dan deadline ya, bener-bener aneh deh. Kan kalo di bagian front office bilangnya paling lambat daftar tanggal 24 Januari 2011. Tapi waktu dapat kertas yang isinya password dan username untuk log in daftar wisuda, katanya paling lambat log in dilakukan pada tanggal 26 Januari 2011. Yang lebih yahud lagi, deadline dari Jurusan HI. Syarat-syarat untuk mengumpulkan buku, pasfoto, materai, dan PDF skripsi itu paling lambat dikumpulkan pada tanggal 28 Januari 2011. Gini yah, kantor jurusan HI sama front office Fakultas itu jaraknya bahkan ga sampe 20 langkah lho. Ngesot juga belum lecet udah keburu sampe. Masa untuk menyesuaikan deadline aja mereka ga bisa sih? Campur aduk perasaanku. Pengen ketawa iya, pengen ngamuk iya, pengen nangis juga iya. Sedih aja, segitu gedenya kita bayar, untuk mendapatkan profesionalitas yang sangat sederhana aja kita ga bisa.

Melihat persyaratan yang segitu ribet dan njelimetnya itu, aku malah tertantang buat menyelesaikan dalam satu hari. Waktu itu hari Kamis, tanggal 20 Februari 2011, pukul 10 pagi, adalah waktu di mana aku mendapatkan blangko itu. Di hari yang sama, pukul 2 siang, aku sudah berhasil menyelesaikan semuanya. Yep, mendapatkan cap dan tanda tangan dari 5 tempat, termasuk perpusda yang letaknya di ujung dunia (lebay). Antri di bank untuk bayar wisuda. Ke bagian akademik untuk minta username dan password. Lalu log in lewat komputer di kos, ngisi form. Ngeprint form. Lalu cetak foto. Beli materai. Lalu kembali ke kampus untuk mengumpulkan semuanya. Masih sempat-sempatnya menempelkan fotoku di berbagai form yang jumlahnya entah seberapa banyak itu. Ya, semuanya aku selesaikan dalam waktu yang sesingkat itu saja. Kenapa? Karena aku males khawatir lama-lama. Ga tenang kalo urusan itu belum selesai. Aku juga males gondok lama-lama. Jadi deadline yang pendek itu malah jadi tantangan buatku. Buktinya, Alhamdulillah aku bisa menyelesaikan semuanya dalam waktu sekitar 4 jam saja. Dan aku ga lupa makan siang lho itu. Hehehe…

Dan memang terbukti, setelah itu semua selesai, kekesalanku mereda. Dan sesungguhnya aku merasa tenang dan senang juga. Kebetulan hari itu nilai skripsiku juga keluar. A- nilainya. Ya memang bukan A yang sempurna, tapi tetap A. Padahal waktu itu aku sudah yakin bakal dapet B. Tapi Allah itu memang Maha Baik. Aku pun tinggal menyongsong wisuda yang insya Allah sebulan lagi, dan lulus dengan nilai skripsi yang menyenangkan dan IPK yang sama sekali tidak mengecewakan. Semoga ke depannya juga bisa mendapatkan pekerjaan dan kehidupan yang lebih baik. Asal mau berdoa dan berusaha, tidak ada yang tidak mungkin kan?

 

Hasil akhirnya, hanya 77 halaman saja, termasuk halaman judul, daftar isi, dll. Tapi lumayanlah buat anak HI yang minimal skripsinya 40 halaman saja.

Aduh, maaf ya tulisan ini panjangnya nggak ketulungan, dan aku pake ngomel-ngomel pula. Tapi sungguh aku nggak nyangka, perjalananku selama 4 tahun lebih di UGM ternyata bisa kutuliskan dalam satu postingan ini saja. Sesungguhnya ada 5 buah buku diary yang mencatat kehidupanku sehari-hari, tapi biar itu jadi konsumsiku sendiri saja. Nggak kerasa sebentar lagi aku sudah bukan mahasiswa S1 HI UGM lagi. Huwaaa… Excited to see what will happen in the future!! \(^o^)/

What Are We Crying For?

Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu,
dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu,
kemudian kamu tidak dapat ditolong.
(Q.S. Az-Zumar : 54)

 

Indonesia berduka. Lagi sedih sesedih-sedihnya. Rasanya bahkan ga perlu lagi aku sebutkan satu per satu bencana apa saja yang melanda kita beberapa waktu terakhir. Intinya, kita berduka.

Beberapa hari yang lalu aku ga sengaja membaca notes salah satu teman di facebook. Isinya mengenai “social media”. Intinya membahas bahwa situs-situs jejaring sosial yang menghubungkan semua manusia di dunia ini punya dua dampak, membuat kita yang makhluk sosial ini menjadi semakin sosial, atau malah jadi anti-sosial. Dikaitkan dengan musibah yang melanda kita dan saudara-saudara kita di berbagai tempat di negara ini, sang teman berkata bahwa tidak cukup menuliskan simpati kita sebatas di facebook atau twitter saja. Gunakan situs-situs itu untuk menggalang manusia, dana, tenaga, lalu keluar dan lakukan sesuatu yang benar-benar berarti di dunia nyata. Bukan hanya sebatas maya saja.

Sebagai salah satu mahasiswa rantauan di Jogja yang hidup hanya sekitar 30km saja dari puncak lereng Merapi, aku merasa tersentil. Tersindir. Sejauh ini yang aku lakukan buat saudara-saudara kita sungguh belum ada apa-apanya. Aku cuma menitipkan baju-baju yang masih bisa dipakai kepada salah seorang kenalan yang mau berkunjung ke daerah pengungsian hari Jumat kemarin. Lalu aku menyisihkan sedikit uang saku dan mentransfernya ke salah satu rekening yang sering muncul di TV, yang berjanji akan menyalurkan itu kepada yang membutuhkan. Ya, semoga amanah.

Lalu aku cuma bisa berdoa. Beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 30 Oktober, sekitar pukul 1 pagi, aku ga sengaja melihat berita di TV yang melaporkan keadaan di salah satu pengungsian di Sleman. Mereka termasuk yang keadaannya lumayan karena bisa berteduh di balai desa, di bangunan yang permanen. Meskipun di balai desa itu juga ada yang tidur di tenda-tenda. Meskipun keadaannya lumayan, tetap saja menyayat hati. Aku nangis nonton berita itu. Aku emang cengeng. Dan penakut juga, karena ga berani naik langsung ke sana. Karena seorang teman juga pernah bilang, “mending kita bantu dari sini aja kalo ga tau apa-apa, takutnya di sana malah kita ngerepotin karena banyak yang mau diurus.” Jadinya aku tetap tinggal di kos, dan melakukan apa yang aku bisa lakukan dari jauh (meski ga terlalu jauh).

Ga berapa lama setelah aku nangis nonton berita itu, ada breaking news. Merapi meletus lagi. Kali ini abunya ke arah selatan. Beberapa menit kemudian, Deza, adikku yang kosnya hanya selisih beberapa blok dariku menelepon. “dang, kita harus ngungsi, udah liat keluar belum dang*? parah!” Dia terdengar panik, tapi kemudian aku berusaha untuk tenang. “sudah, tutup aja pintu jendela, pake masker, jangan keluar, bahaya abunya. kalo kita ngungsi mau naik apa? naik motor malah kita mandi abu nanti,” dan dengan begitu saja adikku sudah berhasil diyakinkan.

Setelah menutup telepon, rasa takut menjalar di hati. Lalu terbayang keadaan pengungsi yang barusan aku liat di TV, bagaimana mereka? Kalo tempat tinggalku aja yang jaraknya begitu jauh dari merapi rata ditutupi abu, apalagi mereka? Akhirnya aku nangis lagi. Nangis dalam diam, dan doa. Ya Allah, aku percaya menangis itu manusiawi. Karena itulah kami menangis. Karena kami ini manusia. Dan kami memang sedang dirundung duka dan kesedihan. Tapi semoga semuanya bisa mengambil hikmah dan ga lama lagi bisa berhenti menangis.

Malam itu, aku baru bisa tidur setelah adzan subuh. Itu pun setelah ngobrol dengan salah satu teman kos, yang kemudian mengizinkan aku tidur bareng dia karena kita sama-sama takut akan apa yang bakal terjadi selanjutnya. Alhamdulillah, sampai sekarang kami bisa berkegiatan seperti biasa, tanpa ada halangan apapun. Meskipun abu di atap rumah kos masih tebal, dan abu di jalanan pun masih begitu mengganggu. Semoga mereka yang mengungsi selalu diberi kesabaran dan ketabahan oleh Allah. Maaf kalo cuma itu yang bisa aku lakukan sejauh ini. Tapi aku percaya, Allah mendengar doa kita. :)

*note: “dang” adalah sapaan yang berarti “kakak” dalam bahasa Bengkulu.

Beginilah Rasanya Berusia 21

Rasanya? Sebetulnya biasa aja. Yah, sama aja lah kaya kemaren, cuma berubah tanggal doang. Cuma meresmikan usiaku aja, dengan datangnya tanggal 1 itu. Meskipun begitu aku tetap senang. Bukan karena nambah umur (atau berkurang umur?), tapi karena orang-orang yang memberikan perhatian dengan memberikan ucapan dan doa. Doa sih sebetulnya yang paling penting. Dan kesediaan mereka untuk meluangkan waktu beberapa detik sekedar mengucapkan selamat ulang tahun, happy birthday, selamat milad, selamat hari lahir, maligayang bati, dan macam-macam lah istilahnya tapi artinya buatku cuma satu: happiness. Mudah-mudahan semuanya didengar dan dijawab oleh Yang Maha Kuasa, aamiin. :)

Oh iya, tambah senang juga karena yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Udah lama dipantengin, bolak-balik dicek. Ada ga ya? Ada ga ya? Ada kali setengah jam, tapi waktu yang ditunggu itu datang rasanya plong gitu. Meskipun tambah deg-degan juga. Rasanya pengen bilang “sudah satu ini saja pun cukup rasanya”. Apakah itu? Haha, rahasia sajalah. Biar waktu nanti yang jawab. (sok misterius dan benar-benar minta ditimpuk)

Anyhooow, mumpung lagi nulis post, sekalian saja lah saya bercerita. Emang ga nyambung sama judul tulisan ini, tapi sekalian ajalah daripada bikin 2. Soalnya aku lagi pengen pamer foto, kemaren jalan-jalan ke ulen sentalu (bukannya mikirin skripsi!), bareng Rani dan Andin, plus Mas Dani dan Bang Rizza yang ceritanya temen-temennya Bayu yang merupakan pacar dari Andin. Bayu-nya malah ga ikut, tiba-tiba ada acara apa gitu. Ini beberapa yang menurutku lumayan bagus dari kameranya Rani. Aku udah minta yang dari kameranya Mas Dani tapi belum sempet diambil. Lengkapnya ntar tungguin di facebook aja. Tapi entah kapan ke-upload. Yang jelas bukan aku yang bakal ngupload. Hehe…

il

Beginilah cewek-cewek yang sering khilaf kalo lagi narsis...

Niatnya bikin tangga tapi kayanya aku dan Andin jadi kayak nahan pipis gitu.

Group photo, sehabis minum minuman yang konon membuat awet muda, yang hampir semuanya ditenggak habis Mas Dani.

Yah, begitulah, lumayan asik kemaren. Terima kasih untuk Mas Dani dan Bang Rizza yang mau nemenin kita-kita yang masih muda-muda ini.

Sekarang apa? Oh iya, kan aku masih ulang tahun! Haha, doaku, semoga aku tidak pernah lupa bersyukur. Semoga bisa menyelesaikan apa-apa yang menjadi prioritas saat ini dan tidak dengan mudah ter-distract hal-hal yang tidak menjadi prioritas (atau belum, mungkin akan di masa depan). Aamiin…

Terima kasih buat yang sudah membaca dan juga sudah mendoakanku di hari lahirku ini. It may just a simple thing for you to do, but it means THE WORLD to me!

Yihii, 21 tahun!!

from depok to jogja

It never crossed my mind that one day I will have a long distance relationship. Not even in my wildest dream. I’ve tried it once or twice, but none of them worked. Once I thought the basic principle of having a relationship is being together, meaning that you can actually meet the person whom you have relationship with. Relationship with such distant seemed so surreal for me. Nothing you can really hope. Like, when you need someone to help you with school work, he can’t really be there to help you. And other stuff like that.

But somehow it changed. I started seeing long distance relationship in a different way.

I know both cities are still in the same island. I know that the technology of telecommunication is developing rapidly. But meeting him in person is still something very special since you can’t see him everyday. So the time when you’re having him with you feels so precious. I learned how the length of the distance taught me to be more patient, and trustful, and faithful. It’s more difficult since you know you can do anything without him knowing whatever you’re doing. Some might think that’s what makes long distance relationship very hard. You can’t stop being curious and jealous and any other negative feeling, you name it. I myself also feel it sometimes.

But for me, it shouldn’t always be that bad. It thrills me when something so far feels so close to your heart. When something in such distant can make a lot of impact to yourself. And it’s even better when something so far finally gets so close to you. I don’t know… it feels that good for me. Depok to Jogja doesn’t seem that far anymore now.

longing for the ‘time’

When everything that makes you happy seems so close to you.

When you just need to wait for a few seconds and it’s there right in front of you.

When you wake up in the morning and what you’ve been waiting is there as you open your door.

When you widened your arms and suddenly you already embraced it.

When it’s there.

Simply there next to you.

That’s the time what I’m longing for.

The time with you.

Ramadhan

As a Muslim who’s trying to be better in religion-wise, I welcomed Ramadhan as one opportunity to improve my faith in Islam. I try to do everything I didn’t do in any month, most of the time because I was too busy with my non-religious activities. That’s why in the holy month I try to do prayer in time, read Quran as often as I can, go to Masjid every night for tarawih, be nice to everyone (I’m an angry person in daily life, haha), and be grateful for everything I get.

It’s actually more difficult because I don’t live with my parents, because no one serve the food very early in the morning unless I purchase it (as in buy it somewhere or cook it. Most likely buying it, though). But it’s not as hard anymore, because this is my fourth Ramadhan in Yogya. I’m already accustomed to everything that having Ramadhan in Yogya is already as good as having it in Bengkulu for me. It’s still different though, because family is the best choice to spend Ramadhan with. But my housemates are already like a family to me. Not to mention my very own little brother is living in Yogya with me starting this month. So we celebrate Ramadhan together, and going home to Bengkulu a few days before Idul Fitri – the end of Ramadhan.

It’s already third day of fasting, and I just hope everything is getting better. There is something different about fasting today, it’s something good and it makes me smile.